Jejak Sejarah Ma Chung Malang, Berawal dari Sekolah Hingga Menjadi Kampus Inklusif

Sekolah menengah Ma Chung beberapa puluh tahun lalu. Sumber foto: Bambang AW

MALANG, BERITAKATA.id – Universitas Ma Chung di Kota Malang, Jawa Timur, memiliki rekam jejak sejarah panjang. Perguruan tinggi swasta ini awalnya merupakan lembaga pendidikan menengah yang berdiri pada tahun 1946, kemudian sempat ditutup pada awal masa Orde Baru tahun 1966, hingga berdiri kembali sebagai universitas pada 2007.

Sekolah Ma Chung pertama kali berdiri pada 1946 dengan nama Chung Hua Chung Hsueh untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada awal pendiriannya, kegiatan belajar mengajar berlangsung secara sederhana di Jl Prof. Yamin, Kota Malang.

Memasuki dekade 1950-an, aktivitas sekolah dipindahkan ke lokasi baru di kawasan Jalan Nusakambangan. Namun, akibat dinamika politik nasional, sekolah ini ditutup dan dibekukan oleh pemerintah pada awal masa Orde Baru tahun 1966.

Setelah puluhan tahun tidak beroperasi, para alumni Ma Chung menggelar reuni akbar memperingati hari ulang tahun ke-55 di Xiamen, Tiongkok, pada September 2001. Pertemuan tersebut melahirkan gagasan untuk mendirikan kembali Ma Chung dalam bentuk perguruan tinggi.

Langkah awal pendirian universitas diwujudkan melalui pembentukan PT Ma Chung pada 1 Mei 2004. Pendirian ini dipelopori sejumlah tokoh bisnis nasional dan internasional, antara lain Soegeng Hendarto, Mochtar Riady, Teguh Kinarto, Hendro Sunjoto, Koentjoro Loekito, Effendy Sudargo, Agus Chandra, Hadi Widjojo, Nuryati Tanuwidjaya, Nehemja, Alex Lesmana Samudra, Evelyn Adam, Hadi Surjono, Nagawidjaja Winoto, dan Soebroto Wirotomo.

Peletakan batu pertama pembangunan kampus dilakukan pada 17 Juli 2005 bertepatan dengan Reuni Akbar 60 Tahun SMA Ma Chung di Malang. Untuk mengelola operasional kampus dalam jangka panjang, dibentuk Yayasan Harapan Bangsa Sejahtera. Universitas Ma Chung resmi beroperasi pada 7 Juli 2007 dan meluluskan angkatan wisudawan pertamanya pada 7 Juli 2011.

Kepala Bagian Pemasaran dan Hubungan Masyarakat Universitas Ma Chung, Melany, mengatakan bahwa sekolah Ma Chung telah mencetak lulusan sejak era 1950-an dengan mempertahankan standar pendidikan dan pembinaan nilai moral secara konsisten.

“Bekas gedung sekolah Ma Chung masih dapat disaksikan oleh generasi masa kini meski saat ini digunakan oleh institusi lain. Namun satu hal yang tidak akan lekang oleh zaman yaitu Spirit Alumni Ma Chung,” kata Melany pada Jumat (9/10/2026).

Melany menjelaskan, pendirian Universitas Ma Chung didasari oleh semangat pengabdian kepada masyarakat dan dunia pendidikan Indonesia. Para alumni memegang teguh semboyan yakni Waktu Minum Air Jangan Lupa Sumbernya, Waktu Sukses Balaslah Budi Kepada Kampung Halamannya.

Ia menambahkan, perencanaan awal (blue print) pembangunan dan pengelolaan universitas mengacu pada usulan dua alumni senior, yaitu Prof. Dr. Yang Zhiling dan Prof. Dr. Bin Ling.

“Dihadiri oleh ribuan alumni pada 7 Juli 2007, Universitas Ma Chung diresmikan operasionalnya. Sejak saat itu, Universitas Ma Chung telah mendidik ribuan putra putri terbaik bangsa untuk menjadi pemimpin masa depan,” ujar Melany.

Sementara itu, Sejarawan dan Budayawan Malang, Bambang AW, menjelaskan latar belakang historis dan kultural berdirinya Sekolah Ma Chung saat dahulu. Menurutnya, pendirian sekolah tersebut tidak terlepas dari nilai-nilai ajaran leluhur yang dianut warga etnis Tionghoa.

“Sependek yang saya ketahui, etnis Tionghoa dalam segala sikap lakunya selalu berpedoman pada ajaran leluhur (atau Konfusius) yang mengajarkan tentang bagaimana kita bersikap baik dengan cara mengingat dan menghargai leluhur, termasuk karya-karyanya. Ini yang melahirkan Sekolah Ma Chung dulu,” kata Bambang.

Bambang menerangkan, Chung Hua Chung Hsueh merupakan organisasi etnis Tionghoa di bidang pendidikan yang mengajarkan bahasa Mandarin dan ajaran leluhur. Sebelum Ma Chung berdiri, terdapat pula lembaga pendidikan Ma Hoa.

Ia menyebut, para pendiri sekolah Ma Chung dahulu merupakan tokoh-tokoh yang mengenyam pendidikan Tionghoa era 1930-an. Pendirian universitas didasari rasa bakti serta kerinduan atas kejayaan sekolah Ma Chung di masa lalu yang bermakna bagi masyarakat Tionghoa di Malang.

Menurutnya, Universitas Ma Chung saat ini telah bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang inklusif bagi seluruh elemen masyarakat.

“Ma Chung hari ini sebagai universitas diharapkan menjadi lembaga pendidikan yang terbuka, dalam arti tidak dikhususkan untuk satu etnis, tetapi terbuka untuk semua etnis yang ada. Kesadaran para pendiri Ma Chung untuk melandasi sikap pendidikan ini dengan Dasar Pancasila dan UUD 1945 serta mengabdi kepada masyarakat luas tanpa terkecuali,” ujar Bambang. (NP/ FAS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *