Anggota DPRD Kota Batu Usulkan Angkot Jadi Feeder Resmi Trans Jatim

Sekretaris Komisi C DPRD Kota Batu, Ady Sayoga.

BATU, BERITAKATA.id – Kehadiran bus Trans Jatim di Kota Batu memberikan angin segar bagi sopir angkutan kota (angkot). Meski pada awal operasionalnya sempat memberikan dampak positif dengan meningkatnya jumlah penumpang angkot di kawasan Terminal Kota Batu dibandingkan sebelumnya yang sepi, hingga saat ini belum ada wacana, rencana, maupun penetapan resmi untuk menjadikan angkot sebagai angkutan pengumpan (feeder).

Sekretaris Komisi C DPRD Kota Batu, Ady Sayoga, menyampaikan bahwa secara praktik di lapangan, angkot sebenarnya mulai terintegrasi secara otomatis saat armada Trans Jatim resmi beroperasi. Banyak penumpang Trans Jatim yang turun dan melanjutkan perjalanan menggunakan angkot.

“Kemarin itu angkot sudah mulai beroperasional ketika ada penambahan armada Trans Jatim, ini kan langsung terintegrasi. Jadi penumpang dari Trans Jatim untuk lanjutan (memakai angkot),” ujar Ady Sayoga, Rabu (7/10/2026).

Kendati demikian, Ady menegaskan belum ada pembicaraan resmi terkait konsep feeder angkot dari Dinas Perhubungan (Dishub). Ia menilai keberadaan angkot sangat potensial menjadi opsi feeder resmi untuk mengintegrasikan transportasi lokal di Kota Batu. Namun, hal tersebut masih membutuhkan kajian dan dengar pendapat (hearing) bersama.

“Masih belum ada (penetapan feeder), di Batu kan juga belum ada obrolan lebih lanjut dari teman-teman Dishub terkait hal ini. Belum ada (pertemuan antara Dishub Jatim, Dishub Kota Batu, dan sopir angkot),” tegasnya.

Ady sepakat apabila angkot sebagai feeder resmi harus ada perubahan dan peningkatan standar pelayanan demi kenyamanan penumpang. Penataan tersebut mencakup operasional angkot yang tidak ngetem lama, pengenaan tarif wajar, hingga penerapan sistem pembayaran nontunai (cashless). Menurutnya, penataan pelayanan ini membutuhkan dukungan dari pemerintah.

Selain peningkatan pelayanan, ia juga sepakat terkait perlunya penataan ulang jalur trayek (rerouting) apabila angkot menjadi feeder resmi. Penataan jalur ini harus disesuaikan dengan kondisi lokasi yang memiliki potensi pasar atau minat penumpang yang tinggi.

Menurut Ady, mempertahankan trayek yang sepi penumpang justru akan merugikan pemilik dan sopir angkot. Ia mengusulkan agar rute feeder angkot bisa diarahkan ke tempat-tempat wisata yang selama ini belum dilewati oleh rute bus Trans Jatim.

“Termasuk penataan trayek itu kalau sudah terintegrasi, ya memang harus ditata. Menghubungkan trayek-trayek yang sepi penumpang dengan adanya Trans Jatim penataannya seperti apa nanti perlu dibicarakan di Dishub. Penumpang ini entah dibawa angkot nanti bisa jadi ke tempat-tempat wisata,” paparnya.

DPRD Kota Batu terus mendukung penataan angkot yang lebih baik agar transportasi lokal ini tetap hidup. Salah satu bentuk dukungan nyata yang terus dikawal adalah kelancaran program Angkot Pelajar Gratis yang difasilitasi oleh Pemkot Batu.

“Kalau angkot yang reguler cari penumpang di masyarakat memang agak sepi. Tapi angkutan pelajar itu memang sudah berjalan dan anggarannya tetap. Dengan adanya Trans Jatim ini, harapannya angkot bisa lebih ramai lagi, perputaran angkot bisa mendapatkan penumpang yang lebih banyak,” ujar Ady.

Sebagai tindak lanjut, Komisi C DPRD Kota Batu berencana memanggil Dishub Kota Batu untuk membahas persoalan integrasi transportasi sistem feeder hingga masalah parkir. Pembahasan ini akan dilakukan bersamaan dengan agenda rapat dewan pada akhir bulan ini.

“Nanti sekalian akhir bulan ini kan kita pembahasan APBD 2027. Kemungkinan nanti masing-masing komisi hearing dengan OPD mitranya. Nanti coba ketika kami di Komisi C akan menanyakan beberapa poin tersebut, kebetulan Dishub ini mitranya Komisi C,” pungkasnya. (NP/ FAS)

Reporter: Nugraha Perdana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *