MALANG, BERITAKATA.id – Sebuah studi dari Universitas Brawijaya secara tegas menemukan korelasi langsung antara nomophobia atau kecemasan berlebih saat jauh dari gawai dengan penurunan kualitas tidur secara signifikan, terutama pada individu berusia 18-25 tahun. Penelitian ini menyoroti bagaimana sebuah kebiasaan modern dapat mengganggu salah satu kebutuhan biologis paling mendasar.
Penelitian yang dipimpin oleh Opi Handayani, S.Psi, dari mahasiswi Departemen Psikologi FISIP Universitas Brawijaya, mengidentifikasi kelompok usia dewasa awal sebagai populasi paling rentan.
Usia 18-25 tahun merupakan fase transisi krusial yang sarat dengan tekanan akademis, pencarian identitas, dan tuntutan kemandirian. Dalam kondisi ini, gawai sering kali menjadi pelarian utama untuk mencari hiburan, namun justru menciptakan ketergantungan yang berbahaya. Opi Handayani menjelaskan mekanisme di balik fenomena ini.
“Aktivitas yang semula bertujuan untuk relaksasi, seperti doom scrolling (menelusuri konten negatif secara terus-menerus), dapat dengan cepat berubah menjadi adiksi. Ketergantungan inilah yang memicu kecemasan dan kegelisahan saat individu terpisah dari gawainya,” papar Opi pada Senin (16/6/2025).
Temuan inti dari riset ini ditemukan bahwa semakin tinggi tingkat nomophobia yang dialami seseorang, maka semakin buruk pula kualitas tidurnya. Lebih lanjut, Opi mengatakan bahwa dampak buruk dari nomophobia tidak bisa dianggap remeh.
Efek jangka pendeknya mencakup kesulitan tidur yang berujung pada rasa kantuk di siang hari, penurunan drastis tingkat konsentrasi, ketidakstabilan emosi, dan kesulitan fokus dalam beraktivitas.
“Jika kondisi ini dibiarkan tanpa penanganan, terutama pada usia yang rawan tekanan, dampaknya bisa bersifat jangka panjang. Nomophobia berpotensi besar memicu gangguan kecemasan (anxiety disorder) yang lebih serius dan bahkan serangan panik,” ungkapnya. ig/nn












