PROBOLINGGO, BERITAKATA.id – RSUD dr Moh. Saleh Kota Probolinggo menjadi salah satu unsur pendukung dalam pemecahan rekor MURI line dance terbanyak pada gelaran Batik In Motion 2026.
Kegiatan yang digelar Pemkot Probolinggo di Jl Panglima Sudirman pada Jumat (4/9/2026) itu mencatatkan 2.705 penari berbatik khas Kota Probolinggo dan membawa nama Kota Probolinggo ke tingkat dunia.
Direktur RSUD dr Moh. Saleh, dr Nurul Hasanah Hidayati, menyatakan dukungan penuh rumah sakit terhadap program Pemkot tersebut.
Menurutnya, partisipasi RSUD dr Moh. Saleh merupakan bentuk komitmen pelayanan kesehatan dalam mendukung pemberdayaan masyarakat, kesenian, dan peringatan hari jadi kota.
“Kami mendukung penuh Batik In Motion agar batik khas Kota Probolinggo bisa go internasional. Ini bukan hanya soal seni, tapi juga tentang mengangkat identitas daerah melalui kolaborasi lintas sektor,” ujar dr Nurul.
RSUD dr Moh. Saleh menurunkan 10 orang yang tampil mengenakan busana merah lengkap dengan kerudung merah. Tim tersebut menari bersama ribuan peserta lain dari kalangan pelajar, kader PKK, warga, ASN, dan pelaku seni, di hadapan ribuan penonton serta Forkopimda, istri kepala daerah, dan Dekranasda se-Jatim.
Seluruh peserta tampil dengan busana bermotif Batik Anggur dan Mangga, membawakan Tari Kiprah Lengger dan Jaran Bodhag.
Pemecahan rekor dunia ini mendapat apresiasi langsung dari Wali Kota Probolinggo, Dokter Aminuddin.
“Sebagai bentuk penghargaan, Pemkot Probolinggo menyiapkan piagam khusus bagi sekitar 2.800 peserta yang terlibat dalam rekor tersebut,” kata Aminuddin.
Ketua Dekranasda Kota Probolinggo Evariani Aminuddin menambahkan, Batik In Motion tidak hanya menjadi pertunjukan budaya. Event ini juga dirancang untuk membuka ruang ekonomi bagi UMKM dan pelaku pariwisata lokal.
“Batik In Motion bukan hanya panggung hiburan, tapi peluang bisnis yang nyata bagi UMKM dan pelaku pariwisata,” katanya.
Ke depan, panitia menargetkan Batik In Motion masuk dalam agenda Kharisma Event Nusantara. Langkah itu sekaligus memperkuat posisi Kota Probolinggo sebagai destinasi wisata berbasis budaya, bukan sekadar kota transit menuju Bromo.
Melalui keterlibatannya, RSUD dr Moh. Saleh menegaskan peran rumah sakit tidak terbatas pada layanan kesehatan. RSUD juga hadir dalam menggerakkan ekonomi kreatif dan melestarikan budaya daerah. ig/fa












