Religi  

Masbuq: Dialektika Waktu dan Etika dalam Saf Berjamaah

Rudy Rinanto Rachmat, seorang General Manager dari Zam Zam Hotel & Convention, penulis opini di bawah.

BERITAKATA.id – Pintu masjid hampir tertutup. Imam sudah rukuk. Di pelataran, ada satu-dua orang setengah berlari, napas tersengal, sarung sedikit terangkat, hati campur aduk antara panik dan berharap masih “kebagian” rakaat. Umat Muslim menyebutnya makmum masbuq yang tertinggal.

Fenomena ini biasa. Terlalu biasa, malah. Tapi kalau mau jujur, masbuq bukan cuma soal teknis menambah rakaat setelah imam salam, tetapi adalah cermin. Tentang bagaimana umat Muslim memperlakukan waktu. Tentang etika dalam kebersamaan. Tentang kerendahan hati menerima bahwa memang datang terlambat.

Waktu Itu Sakral, Bukan Sekadar Jam Dinding

Di Al-Qur’an dalam Surah An-Nisa ayat 103 dijelaskan bahwa shalat sebagai kewajiban yang sudah ditetapkan waktunya. Artinya, waktu dalam ibadah bukan sekadar angka di layar ponsel. Atau, merupakan ruang sakral mawaqit yang punya kehormatan.

Masbuq seharusnya menjadi kondisi darurat, bukan gaya hidup. Para mufassir atau ahli tafsir ketika menafsirkan Surah Maryam ayat 59 tentang generasi yang “menyia-nyiakan salat”, sering menyinggung soal menunda-nunda waktu. Bukan meninggalkan total, tapi menggeser-geser sampai di ujung batas. Datang ketika imam sudah rukuk, bahkan sujud.

Pertanyaannya sederhana, kalau kepada Tuhan saja umat datang di detik-detik terakhir, bagaimana dengan janji kepada manusia?

Dilarang Lari, Padahal Sedang Telat

Menariknya, Islam tidak membiarkan umatnya panik. Rasulullah SAW dengan tegas, bahwa ketika umat datang dan mendapati imam dalam posisi apa pun seperti rukuk, sujud, duduk dapat disegerakan ikut. Jangan menunggu imam berdiri. Itu merupakan prinsip mutaba’ah, mengikuti ritme imam sepenuhnya.

Tapi di sisi lain, Rasulullah SAW juga melarang umatnya berlari menuju saf, meski iqamah sudah dikumandangkan. Datanglah dengan tenang, sakinah dan waqar.

Sekilas seperti paradoks, diharapkan cepat, tapi tidak boleh tergesa. Di sinilah adab diuji. Islam tidak ingin umatnya menukar ketertiban batin dengan kepanikan fisik. Salat dimulai dengan takbir, bukan dengan napas terengah-engah. Khusyuk tidak lahir dari langkah yang terburu-buru.

Kalau memang terlambat, terimalah dengan tenang. Masuk ke saf tanpa mengganggu. Jangan dorong-dorong. Jangan melompati bahu orang. Keterlambatan fisik tidak perlu ditambah dengan kerusakan etika.

Rukuk: Momen Semua Kepala Setara

Dalam fikih, satu rakaat dianggap didapat jika makmum sempat rukuk bersama imam. Di situlah batas minimalnya. Di Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah ayat 43 menyebut, “Rukuklah bersama orang-orang yang rukuk”. Bukan sekadar “salatlah”.

Rukuk adalah simbol kesetaraan. Semua kepala turun di level yang sama. Tidak ada jabatan. Tidak ada gelar. Tidak ada privilege.

Bagi makmum masbuq, mengejar rukuk bukan sekadar mengejar hitungan rakaat, atau sedang berusaha masuk ke frekuensi kebersamaan itu.

Namun ada detail yang sering luput, yakni takbiratul ihram wajib dilakukan dalam posisi berdiri tegak sempurna. Banyak yang terlalu panik, bertakbir sambil setengah membungkuk.

Secara fikih, ini bisa bermasalah. Keinginan mengejar justru berujung pada cacatnya syarat. Ironis, karena ingin cepat dapat, malah kehilangan sahnya ibadah.

Masbuq Kronis dan Efek Sosialnya

Sekali dua kali terlambat, wajar. Hidup tidak selalu ideal. Tapi kalau hampir setiap hari jadi masbuq, itu bukan lagi uzur. Itu pola.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri, Rasulullah SAW memberikan peringatan keras terhadap kaum yang terus-menerus terlambat, lalu Allah “mengakhirkan” urusan mereka. Para ulama menjelaskan, ini bisa berupa tertahannya peluang, rezeki, atau keberkahan.

Disiplin waktu bukan cuma soal manajemen diri, atau dapat membentuk kultur. Di banyak masjid, dapat terlihat “jemaah di dalam jemaah” atau kelompok masbuq membuat saf baru setelah imam salam. Secara hukum sah dalam madzhab Syafi’i, meski makruh.

Namun, fenomena ini juga bicara yakni jamaah sering datang ketika momen utama sudah lewat. Dan hidup, seperti shalat, punya momen-momen utama yang tidak selalu terulang.

Belajar Menerima, Belajar Menyempurnakan

Masbuq sebenarnya sekolah kecil tentang resiliensi. Umat datang terlambat, tapi tidak menyerah. Dilanjutkan rakaat yang tertinggal dengan tenang. Sempurnakan yang kurang tanpa drama. Itu pelajaran besar dalam hidup.

Tidak semua orang selalu di depan. Kadang umat memang didahului. Dalam karier, dalam rezeki, dalam pencapaian. Pertanyaannya bukan lagi “mengapa diri sendiri tertinggal?”, tapi “bagaimana diri sendiri menyelesaikannya dengan adab?”

Salat berjamaah mengajarkan ritme. Ada imam, ada makmum, ada aturan, ada kebersamaan. Masbuq mengingatkan bahwa waktu tidak bisa dinegosiasikan, tapi martabat tetap bisa dijaga.

Datang lebih awal adalah disiplin.
Datang terlambat tapi tetap tenang adalah kedewasaan. Di antara takbir yang sedikit terlambat itu, ada ruang refleksi paling jujur tentang siapa diri sendiri sebenarnya.

Seluruh isi artikel ini merupakan opini atau pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Ditulis oleh Rudy Rinanto Rachmat, seorang General Manager dari Zam Zam Hotel & Convention.

?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *