PERKI Malang Raya 2025-2028 Resmi Dilantik, Gaungkan Aplikasi AI “Detak C” untuk Tangani Serangan Jantung

Pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Cabang Malang Raya periode 2025-2028 resmi dilantik pada Minggu (28/12/2025) di HARRIS Hotel & Convention Malang.

MALANG, BERITAKATA.id – Pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Cabang Malang Raya periode 2025-2028 resmi dilantik pada Minggu (28/12/2025) di HARRIS Hotel & Convention Malang. Dalam prosesi tersebut, Prof. dr. Mohammad Saifur Rohman, SpJP(K) ditetapkan sebagai Ketua PERKI Cabang Malang Raya.

Pelantikan dilakukan langsung oleh Ketua Pengurus Pusat PERKI, dr. Ade Median Ambari, SpJP(K), PhD, dan disaksikan oleh Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Jawa Timur, Dr. dr. Sutrisno, SpOG(K). Acara ini juga dihadiri oleh Wali Kota Malang dan Bupati Malang sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap penguatan layanan jantung di wilayah tersebut.

Kepengurusan baru ini mengemban misi memperkuat mutu dan pemerataan layanan kardiovaskular di wilayah binaan yang mencakup Jawa Timur bagian selatan, mulai dari Lumajang hingga Pacitan.

“Dengan dukungan jejaring rumah sakit, pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan swasta, PERKI Cabang Malang Raya berhasil menghasilkan karya inovatif untuk menyelesaikan beberapa masalah pelayanan kardiovaskular di wilayah binaannya,” ujar Prof. dr. Mohammad Saifur Rohman, Minggu (28/12/2025).

Ia menambahkan bahwa PERKI konsisten menjalankan program dari hulu ke hilir, mulai dari langkah preventif hingga rehabilitatif, demi memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan yang bermutu.

Salah satu terobosan utama yang terus digaungkan adalah aplikasi berbasis Artificial Intelligence (AI) bernama Detak C. Aplikasi ini dirancang untuk mengatasi tingginya angka kematian akibat Acute Coronary Syndrome (ACS) atau serangan jantung yang sering kali disebabkan oleh keterlambatan penanganan sebelum pasien sampai ke rumah sakit (pre-hospital delay).

Prof. Saifur menjelaskan bahwa berdasarkan penelitian sejak 2011, penyebab utama kematian jantung adalah rendahnya kewaspadaan pasien dalam mengenali gejala.

“Keterlambatan yang paling banyak disebabkan dari sisi pasien yaitu keterlambatan mengenali gejala dan tanda serangan jantung. Kesalahan interpretasi keluhan nyeri dada menyebabkan pre-hospital delay yang merupakan kontributor utama prolonged total ischemic time,” jelasnya.

Aplikasi Detak C merupakan pengembangan dari sistem konsultasi berbasis WhatsApp (MACSN) yang dimulai pada 2017. Sistem tersebut dapat menurunkan waktu keterlambatan transportasi pasien dari puskesmas ke rumah sakit dari 6 jam menjadi 3-4 jam.

“Pada 2018, algoritma AI mulai dikembangkan hingga akhirnya meluncurkan aplikasi Detak C yang kini telah diunduh oleh sekitar 10 ribu pengguna di Google Playstore,” katanya.

Aplikasi Detak C memiliki berbagai fitur unggulan, di antaranya, Lapor Gejala yakni untuk mendeteksi gejala awal penyakit jantung secara cepat. Kemudian, Perawatan Mandiri yaitu membantu pengguna memantau tekanan darah, gula darah, status obesitas, hingga rehabilitasi.

Selanjutnya, Pengingat atau fitur pengingat jadwal minum obat dan kontrol ke poliklinik. Terakhir, Self-Chest Pain Checklist yakni memungkinkan pasien mengisi profil risiko dan karakteristik nyeri dada yang dirasakan.

Terkait implementasi di lapangan, PERKI Malang telah berkolaborasi dengan seluruh Puskesmas di Malang Raya melalui grup jejaring kardiovaskular. Melalui platform tersebut, dokter spesialis jantung anggota PERKI dapat memberikan advis langsung kepada tenaga kesehatan di Puskesmas jika ditemukan pasien dengan kecurigaan serangan jantung.

“Diharapkan dengan kehadiran aplikasi DETAK C dapat membantu mengurangi keterlambatan dari sisi pasien agar lebih cepat menyadari (improving awareness) dan segera mencari pertolongan tenaga kesehatan,” kata Prof. Saifur.

Selain aplikasi, PERKI Malang juga meluncurkan Buku Pedoman Layanan Kardiovaskular. Buku ini berfungsi sebagai panduan standar bagi tenaga kesehatan di lini primer hingga lanjutan, terutama pada wilayah dengan fasilitas dan SDM yang terbatas.

“Kontribusi dalam program jejaring kardiovaskular yang diinisiasi oleh Kemenkes RI bersama pengurus pusat PERKI terus dilakukan untuk mengawal mutu sesuai standar, mulai perencanaan, pelaksanaan, hingga monev (monitoring dan evaluasi),” pungkasnya. ig/nn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *