Kurangi Kemacetan, Dishub Kota Malang Dukung Penuh Operasional Bus TransJatim Koridor I

Bus TransJatim Koridor I bernama Gajayana untuk wilayah Malang Raya.

MALANG, BERITAKATA.id – Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Perhubungan (Dishub) menyatakan dukungan penuh terhadap operasional Bus TransJatim Koridor I bernama Gajayana untuk wilayah Malang Raya. Hal ini ditegaskan usai Peresmian Bus TransJatim Koridor I dan Implementasi QRIS Tap serta Penandatanganan Kesepakatan Bersama Kepala Daerah Malang Raya di Balai Kota Malang, Kamis (20/11/2025).

Kehadiran moda transportasi ini diharapkan menjadi solusi konkret mengurangi kemacetan di tiga daerah Malang Raya. Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, menyampaikan bahwa kewenangan pemerintah kota adalah mendukung terwujudnya integrasi transportasi ini.

Ia mengapresiasi kolaborasi dengan paguyuban angkutan umum di Kota Malang yang menyambut baik program tersebut.

Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra.

“Kami sangat berterima kasih kepada paguyuban angkutan Kota Malang yang terdiri dari 15 trayek, mereka sangat mendukung terwujudnya TransJatim ini. Tanpa dukungan mereka, program ini akan sulit berjalan,” ujar Widjaja pada Kamis (20/11/2025).

Widjaja menjelaskan, Kota Malang memiliki titik pemberhentian Transjatim terbanyak, yakni 32 titik yang telah disurvei kelayakannya bersama pihak pemerintah provinsi. Rute yang dilalui mencakup kawasan strategis seperti pendidikan, wisata, olahraga, pusat perbelanjaan, permukiman ASN, dan rumah sakit.

“Halte dan titik-titik pemberhentian melewati kampus-kampus besar seperti UM, UB, UIN, hingga UMM. Atas permintaan UIN, salah satu halte juga ditempatkan di sana. Selain itu, bus juga melintasi pusat perbelanjaan seperti MOG, Matos, serta kawasan wisata Kayutangan Heritage,” jelasnya.

Rute Bus TransJatim Koridor I ini diantaranya dari Kota Malang menghubungkan Terminal Hamid Rusdi, Rampal, Sawojajar, Balai Kota Malang, Jalan Kawi, Jalan Ijen, Jalan Bandung, Jalan Veteran, hingga masuk ke wilayah Dau di Kabupaten Malang dan juga menuju ke Terminal Kota Batu.

Terkait operasional, Widjaja menekankan bahwa sistem Bus TransJatim sangat ketat dan berbasis teknologi. Bus tidak boleh menaikkan atau menurunkan penumpang di sembarang tempat.

“Bus harus berhenti di titik-titik atau halte yang telah ditentukan. Waktu pemberhentian tidak boleh lebih dari 2 menit, jadi tidak ada istilah ngetem, menunggu penumpang. Pembayaran bisa tunai, QRIS, atau melalui aplikasi,” terangnya.

Total terdapat 17 armada bus, diantaranya 14 unit mulai beroperasi pada peluncuran perdana ini. Widjaja berharap kehadiran TransJatim dapat mengubah budaya masyarakat dari penggunaan kendaraan pribadi ke transportasi publik secara bertahap.

“Ini proses menuju perubahan perilaku transportasi yang lebih baik. Target utamanya bagaimana memindahkan pengguna kendaraan pribadi ke transportasi publik untuk mengurangi kemacetan di Malang Raya,” kata Widjaja.

Sementara itu, Kepala Dishub Provinsi Jawa Timur, Nyono, yang turut hadir dalam kesempatan tersebut menjelaskan bahwa TransJatim tidak mematikan angkutan kota atau mikrolet, melainkan membangun sinergi.

Dikatakannya, seluruh kru operasional TransJatim, mulai dari sopir hingga petugas kebersihan, direkrut dari sebagian tenaga kerja mikrolet yang ada.

“Mikrolet akan berperan sebagai feeder atau pengumpan. Penumpang turun di titik pemberhentian atau halte TransJatim, lalu melanjutkan ke tujuan akhir seperti perumahan atau kampus menggunakan mikrolet. Integrasi ini justru diharapkan tidak mengurangi penumpang mikrolet,” kata Nyono.

Nyono menambahkan, tarif murah yakni Rp 2.500 untuk pelajar/ mahasiswa dan Rp 5.000 untuk umum diyakini akan memicu pertumbuhan ekonomi, khususnya bagi UMKM di sekitar rute yang dilalui.

“Akses yang mudah dan murah membuat masyarakat mau bepergian. Contohnya orang mau beli Onde-onde di dekat Hamid Rusdi jadi lebih ringan di ongkos. Jika akses susah dan mahal, UMKM bisa tutup karena tidak ada pembeli. Inilah yang dimaksud bahwa TransJatim memberikan dampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi,” papar Nyono.

Dari sisi keamanan, bus TransJatim dilengkapi teknologi termasuk CCTV sensitif untuk mengawasi perilaku seperti pelecehan seksual dan pencopetan. Masyarakat juga dapat memantau posisi bus secara real-time dan melaporkan pengemudi yang ugal-ugalan melalui aplikasi Trans Jatim Ajaib atau ke Jatim Transportation Control Center (JTCC).

Mengenai pengembangan selanjutnya, Nyono menyampaikan terkait rencana penambahan koridor di Malang Raya. Sedangkan, Koridor I yang saat ini beroperasi adalah Koridor Tengah.

“Berikutnya direncanakan Koridor Timur dan Barat. Koridor Timur nantinya dari Batu menuju Ngijo, Pakis, mendekat ke Bandara Abdul Rachman Saleh, hingga diharapkan tembus ke Kepanjen. Mudah-mudahan bisa terealisasi pada anggaran perubahan tahun 2026, tergantung kondisi fiskal,” ungkap Nyono. ig/nn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *