MALANG, BERITAKATA.ID – CEO perusahaan asal Malang, Jawa Timur bernama Ngalup.co yakni Andina Paramitha menjadi mentor dan juri dalam 5th Korea ASEAN Business Model Competition 2024. Kompetisi ini diselenggarakan oleh Startups Korea (MSS Korea) bersama dengan Kementerian Koperasi dan UKM RI (Kemenkop UKM RI).
Kegiatan ini diikuti oleh 10 peserta startup dari berbagai negara, antara lain Indonesia, Korea, Malaysia dan Laos, dengan total hadiah hingga USD 10,000. Startup asal Indonesia, Rebricks mendapatkan posisi 3rd Winner.
Acara ini digelar rutin tahunan dan di tahun 2024 ini sudah memasuki tahun kelima. Terdapat 10 startup yang berkompetisi, antara lain REharvest Co, Ltd. (Korea), NUXCLE (Indonesia), RIFFAI (Laos), Millennial Flavor Town (Korea), Reclimate Sdn Bhd (Malaysia), BIKI (Indonesia), Faradays Energy (Malaysia), Print Squares (Laos), Rebricks (Indonesia), dan Goat Farm (Korea).
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, CEO Ngalup.co, Andina Paramitha menjadi mentor dan memberikan materi kepada peserta.
“Disini, saya memberikan materi mengenai sustainable scaling. Startup yang ingin tumbuh besar tidak hanya perlu fokus pada ekspansi, tetapi juga pada sustainable scaling—mengembangkan bisnis tanpa mengorbankan stabilitas jangka panjang,” kata Andina, Jumat (18/10/2024).
Sebab, dengan memahami cara menyeimbangkan inovasi dan efisiensi, startup dapat bertumbuh secara berkelanjutan.
“Sehingga dapat menghindari risiko burn-out sumber daya, serta memastikan mereka siap menghadapi perubahan pasar. Tanpa strategi scaling yang berkelanjutan, ekspansi yang cepat justru bisa menjadi ancaman bagi kelangsungan bisnis,” katanya.
Dalam hal ini, pertimbangan utama saat meningkatkan skala bisnis secara berkelanjutan (efisiensi energi, optimalisasi sumber daya, pengurangan limbah) sangat penting diketahui oleh para peserta.
“Disini, peserta akan dibimbing untuk mengetahui bagaimana menilai dampak lingkungan jangka panjang dari pertumbuhan bisnis dan cara-cara untuk menguranginya. Serta, pendekatan untuk meningkatkan skala yang memprioritaskan manusia dan bumi, bukan hanya keuntungan,” katanya.
Tak hanya menjadi mentor, perempuan yang akrab disapa Andien ini juga dipercaya menjadi dewan juri dan bersanding dengan juri dari negara lain.
Para jajaran juri tersebut antara lain Siti Azizah Depuuty for Entrepreneurship Ministry of Cooperatives and SMEs RI, Meliadi Smbiring Senior Advisor Green Business Center (GBC), Thomas Thimas CEO ASEAN CSR Network, Choonghyun Lee Executive Director ASEAN-RoK S&T Cooperation Center, Jaesung Lee Sub Regional Director Global Green Growth Institute (GGGI), Nicole Nguyen ASEAN Vice Chair Global Impact Fintech, David Sehyeon Baek Chief Strategy Officer NPCore.Inc, Diah Yusuf Founder Indonesia Prima & Director Women Economic Forum dan Elan Lockman CEO & Co-FOunder ATA Plus SDN BHD.
Para juri menekankan pentingnya inovasi yang berdampak nyata, model bisnis harus lebih dari sekadar ide bagus dan harus bisa diimplementasikan, relevan dengan kebutuhan pasar, dan menawarkan solusi yang berkelanjutan.
“Selain itu, fokus pada kolaborasi lintas budaya dan kemampuan startup untuk beradaptasi dengan cepat dalam ekosistem global menjadi kunci penilaian. Yang paling penting, juri mencari model bisnis yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga mampu menciptakan perubahan sosial yang positif,” ujarnya.
Kompetisi ini dimenangkan oleh Rebricks Indonesia sebagai Juara III, Reharvest (Korea) sebagai Juara II dan Milenial Flavor Town (Korea) sebagai Juara I.
Dia berharap, bahwa para pemenang dapat menjadi pemimpin perubahan yang mampu memberikan dampak positif bagi komunitas lokal maupun global, sambil menginspirasi generasi wirausaha berikutnya.ig/fa












