Pemkot Gelar Sekolah Lapang Budidaya Ikan Lele di Ponpes

PROBOLINGGO, BERITAKATA.id – Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kota Probolinggo kembali menyelenggarakan kegiatan Sekolah Lapang (SL) Budidaya Ikan Lele. Kali ini, kegiatan berlangsung di Pondok Pesantren Al Aliyatul Mukarromah, Kanigaran, dan resmi dibuka oleh Penjabat Wali Kota Probolinggo, Nurkholis, pada Kamis (12/9/2024) sore.

Nurkholis menyampaikan pentingnya tidak hanya mengajarkan sisi produksi kepada para peserta, tetapi juga keterampilan pemasaran. 

“Sekolah Lapang ini bagus, ya, mengajari dari sisi produksi. Kalau sudah berproduksi, ajari juga cara menjualnya, bagaimana memasarkannya. Ini juga adalah bentuk dukungan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat akan ikan di Kota Probolinggo,” ujarnya.

Penjabat Wali Kota itu juga menyoroti peran penting Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) yang bertujuan untuk mensosialisasikan kegiatan di berbagai institusi dengan program nasional. 

Ia berharap, program Forikan di Kota Probolinggo bisa terus dikembangkan.

Kepala DKPPP, Aries Santoso, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat di lingkungan pesantren. 

Program ini juga didukung oleh Peraturan Wali Kota Probolinggo No. 75 Tahun 2022 yang mengatur tentang pendanaan penyelenggaraan pesantren. 

“Sekolah lapang ini memberikan pengetahuan dan keterampilan budidaya ikan lele, agar santri bisa mengembangkan semangat kewirausahaan sekaligus meningkatkan perekonomian di pesantren,” jelas Aries.

Tahun ini, setidaknya ada 12 pondok pesantren yang menjadi penerima manfaat Sekolah Lapang, terbagi dalam empat gelombang. 

DKPPP juga memberikan berbagai bantuan praktik, seperti kolam terpal, 2.000 ekor bibit lele, pakan ikan, probiotik, dan peralatan pendukung lainnya.

Usai membuka acara, Nurkholis meninjau langsung proses budidaya ikan lele di lokasi. 

Ia juga menyaksikan teknik perawatan dan penanganan pasca-panen yang diajarkan kepada kelompok tani. 

Sistem budidaya lele ini menggunakan pakan alami, di mana limbah budidaya diurai menjadi pakan tambahan dengan bantuan probiotik.

Dengan pendekatan ini, budidaya ikan lele di lahan terbatas tetap dapat dilakukan secara efisien, sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan mendukung kemandirian ekonomi pesantren. ig/fat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *