MALANG, BERITAKATA.id – Insiden pendakian ilegal kembali terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Tiga orang pendaki dilaporkan nekat memasuki kawasan Gunung Semeru melalui jalur tidak resmi hingga berujung pada kecelakaan. Saat ini, dua pendaki telah dievakuasi ke Puskesmas Ampelgading, sementara satu pendaki lainnya yang terjatuh ke jurang masih dalam proses evakuasi.
Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar (BB) TNBTS, Bambang Suryono, membenarkan adanya insiden tersebut. Ia menjelaskan bahwa kronologi bermula pada akhir bulan lalu ketika ketiga pendaki tersebut menerobos masuk kawasan tanpa izin.
“Berdasarkan informasi yang kami terima, pada tanggal 30 Mei 2026, terdapat tiga orang pendaki yang memasuki kawasan Gunung Semeru melalui jalur tidak resmi atau ilegal. Kemudian, pada tanggal 1 Juni 2026, salah satu pendaki menghubungi orang tuanya untuk mengabarkan bahwa dirinya terjatuh dan membutuhkan pertolongan,” ungkap Bambang saat memberikan keterangan pada Jumat (5/6/2026).
Merespon laporan tersebut, tim gabungan yang terdiri dari personel BB TNBTS, TNI, Basarnas, TP Gst, masyarakat setempat, serta para relawan segera melakukan pencarian. Korban berhasil ditemukan pada tanggal 2 Juni 2026, dan proses evakuasi langsung dijalankan.
Bambang memberikan pembaruan informasi terkait status evakuasi terkini. Meskipun sebagian tim gabungan telah tiba di posko pada Jumat (5/6/2026) pukul 00.07 WIB dini hari, proses penyelamatan secara keseluruhan belum usai.
“Yang dua korban sudah berhasil dievakuasi dan saat ini mendapat penanganan di Puskesmas Ampelgading. Namun, satu korban yang jatuh di jurang masih dalam proses evakuasi turun. Belum selesai, masih tersisa satu korban yang belum terevakuasi,” tegas Bambang.
Terkait insiden ini, pihak BB TNBTS kembali memberikan peringatan keras kepada masyarakat. Bambang menekankan bahwa pendakian menuju puncak Mahameru masih ditutup total demi keselamatan pengunjung.
“Perlu kami tegaskan kembali bahwa sampai dengan saat ini, jalur pendakian menuju puncak Gunung Semeru masih ditutup, mengingat status gunung yang berada pada Level III (Siaga). Saat ini, kunjungan di area Gunung Semeru kami batasi hanya sampai di Ranu Kumbolo. Tentu saja, kunjungan ke sana pun wajib melalui pintu masuk resmi kawasan BB TNBTS,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipatif ke depan, BB TNBTS akan memperkuat edukasi melalui media sosial serta menjalin sinergi yang lebih erat dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat. Hal ini bertujuan untuk mencegah aktivitas pendakian ilegal yang tidak hanya membahayakan nyawa, tetapi juga mengancam kelestarian ekosistem taman nasional.
Menyikapi celah keamanan yang dimanfaatkan oleh ketiga pendaki tersebut, BB TNBTS berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap titik-titik akses tidak resmi di sekitar kawasan Gunung Semeru.
“Jalur yang digunakan oleh para pendaki dalam insiden ini bukan merupakan jalur pendakian resmi yang dikelola oleh kami. Oleh karena itu, kami akan melakukan evaluasi bersama pihak-pihak terkait. Jika diperlukan, kami akan mengambil langkah pengamanan tambahan, seperti pemasangan papan larangan yang lebih tegas dan upaya pencegahan lainnya,” papar Bambang.
Terkait proses hukum, Bambang memastikan bahwa tindakan memasuki kawasan konservasi secara ilegal tidak akan dibiarkan begitu saja. Berdasarkan peraturan perundang-undangan, pelanggar dapat dikenakan sanksi tegas.
“Mengenai sanksi, kami ingatkan bahwa memasuki kawasan konservasi tanpa izin dapat dikenakan sanksi tegas. Sebagai catatan, kami sebelumnya juga telah memberikan sanksi tegas kepada para pelaku pada kasus pendakian ilegal terdahulu. Namun demikian, fokus utama kami saat ini adalah penanganan dan evakuasi korban. Setelah seluruh proses ini selesai, Balai Besar TNBTS akan melakukan evaluasi dan pendalaman lebih lanjut,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, Kantor SAR Surabaya memberangkatkan satu tim rescue tambahan menuju jalur pendakian Gunung Semeru. Personel tambahan ini dikerahkan untuk mempercepat proses evakuasi Cakra (18), seorang pendaki yang terperosok ke dalam jurang sejak Selasa (2/6/2026) sore. Sebelumnya, Unit Siaga SAR Malang telah menerjunkan tim pertama pada Selasa malam.












