PROBOLINGGO, BERITAKATA.id – Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat Kabupaten Probolinggo masih rendah di angka 15,5%. Untuk mengejar ketertinggalan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pemkab Probolinggo meluncurkan strategi “Jemput Bola, Digitalisasi, dan Kolaborasi”.
Strategi itu difokuskan untuk mengatasi ketimpangan akses buku dan jarak ke pusat layanan perpustakaan, kata Kepala Disperpusip Pemkab Probolinggo Ulfiningtyas di Kraksaan, Senin (13/7/2026).
“Minat baca masyarakat sebenarnya lumayan. TKM kita 63,42%. Tantangan utamanya adalah rasio ketersediaan buku yang berkualitas dibanding jumlah penduduk,” ujar Ulfiningtyas.
Data Disperpusip 2026 menunjukkan kesenjangan fasilitas masih lebar. Di pusat kecamatan seperti Kraksaan, Dringu, dan Paiton, sekolah negeri memiliki perpustakaan memadai. Sementara di desa terpencil, perpustakaan sering hanya berupa ruangan kecil yang disekat dengan ruang guru, UKS, atau gudang.
Kendala geografis juga membuat kunjungan ke Gedung Perpusda Kraksaan fluktuatif. Kunjungan tertinggi tercatat April 2026 sebanyak 1.043 pemustaka. Titik terendah terjadi Maret 2026 dengan 327 pemustaka.
Untuk menjawab persoalan itu, Disperpusip menjalankan tiga pilar utama.
Disperpusip Pemkab menargetkan replikasi perpustakaan desa di 330 desa dan kelurahan. Tujuannya agar warga pelosok tidak perlu ke Kraksaan untuk mengakses buku. Armada perpustakaan keliling juga rutin dikirim ke sekolah.
Layanan e-book gratis disediakan agar buku bisa diakses dari rumah. Pojok Baca Digital (POCADI) ditempatkan di berbagai tempat pelayanan publik.
Perpustakaan tidak lagi hanya sebagai tempat baca. Disperpusip memfasilitasi ibu rumah tangga dan pelaku UMKM dengan pelatihan keterampilan gratis seperti memasak hingga pemasaran digital. Materi pelatihan diambil dari koleksi buku perpustakaan.
“Ketika masyarakat merasakan manfaat ekonomi langsung dari perpustakaan, tingkat kunjungan dan kepedulian terhadap literasi otomatis akan naik,” kata Ulfiningtyas. ig/fa












