PROBOLINGGO, BERITAKATA.id – Di jalur Krucil-Tiris yang menghubungkan destinasi wisata selatan Kabupaten Probolinggo, ada satu titik singgah yang pelan-pelan mencuri perhatian. Udara sejuk, hamparan terasering hijau di lereng Gunung Argopuro, dan secangkir kopi sore hari. Namanya Rest Area Betek.
Tapi di balik pemandangan itu, ada cerita panjang tentang sebuah desa yang memilih tidak tinggal diam.
Tahun 2019 jadi titik balik. Pemerintah Desa dan BUMDes Betek melihat lahan kas desa yang selama ini hanya disewakan, punya potensi lebih besar. Lokasinya strategis, dilalui wisatawan menuju kawasan pegunungan.
Agus Suwanto, yang dikenal sebagai penggerak wisata desa, menangkap peluang itu. Bersama perangkat desa, ia mendorong lahirnya kawasan istirahat yang bukan sekadar tempat mampir, tapi pintu masuk ekonomi desa.
“Kalau desa punya potensi dan tidak dikembangkan, maka desa akan tertinggal. Kami ingin Rest Area Betek ini bukan hanya ramai dikunjungi, tapi juga menghidupkan ekonomi masyarakat,” kata Agus, Selasa (19/5/2026).
Jalan tidak mulus. SDM terbatas, modal minim, dan kesadaran warga terhadap potensi wisata masih rendah. Tantangan terbesarnya adalah menjaga wisata tetap hidup tanpa kehilangan jati diri lokal.
Solusinya sederhana tapi konsisten: libatkan warga. Lewat Pokdarwis, Agus mengajak masyarakat membuka usaha, mengembangkan UMKM, menjaga kebersihan, sampai mempromosikan desa lewat media sosial.
Hasilnya mulai terlihat. Lapangan kerja baru terbuka. Warung kuliner dan kerajinan lokal tumbuh. Ekonomi desa ikut bergerak.
Yang bikin Rest Area Betek berbeda adalah pendekatannya. Agus memberi ruang bagi karyawan difabel, sebagai bentuk dukungan pada lingkungan kerja inklusif.
Dukungan juga datang dari luar. Sejak 2022, PT POMI dan Paiton Energy masuk lewat program CSR untuk membantu pengembangan kawasan. Kolaborasi antara pemerintah desa, BUMDes, Pokdarwis, warga, dan perusahaan jadi kunci agar tempat ini bisa bertahan.
Kini Rest Area Betek sudah jadi simbol semangat desa membangun kemandirian ekonomi lewat pariwisata. Pengunjung datang bukan cuma untuk istirahat, tapi menikmati suasana pedesaan yang tenang dan hangatnya interaksi warga.
Bahkan kawasan ini pernah jadi titik singgah tamu-tamu negarawan yang ingin merasakan sisi lain Probolinggo yang tenang dan asri.
Bagi Agus, sukses wisata desa bukan dilihat dari megahnya bangunan.
“Wisata desa harus bisa jadi penggerak ekonomi masyarakat, membuat desa semakin dikenal, dan membawa desa menuju kemandirian,” tegasnya.
Di akhir obrolan, Agus menitipkan pesan singkat:
“Datanglah bukan hanya untuk melihat tempatnya, tetapi untuk merasakan ketenangan yang ada di dalamnya. Biarkan alam menyambutmu, jauh dari hiruk pikuk, agar hati dan pikiran kembali damai.”
Dari lereng Gunung Argopuro, Rest Area Betek membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari tanah desa yang dulu dianggap biasa saja. Asal ada orang yang mau bergerak dan mengajak warga berjalan bersama. ig/fa












