UM Gelar Kuliah Kebangsaan, Rektor Tegaskan Peran Kampus Pengaruhi Kemajuan Bangsa

Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd memberikan sambutan dalam kegiatan Kuliah Kebangsaan bertajuk Berani Berinovasi, Berani Memimpin di Aula Lantai 9 Gedung Kuliah Bersama (GKB) A20 pada Selasa (5/5/2026).

MALANG, BERITAKATA.id – Universitas Negeri Malang (UM) menyelenggarakan kegiatan Kuliah Kebangsaan bertajuk Berani Berinovasi, Berani Memimpin di Aula Lantai 9 Gedung Kuliah Bersama (GKB) A20 pada Selasa (5/5/2026). Acara ini menghadirkan beberapa narasumber, salah satunya adalah Wakil Ketua I DPRD Provinsi Jawa Timur, Deni Wicaksono, S.Sos.

Kegiatan ini secara khusus menyoroti peran strategis perguruan tinggi, penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek), serta pentingnya integritas pemimpin dalam menentukan arah kemajuan negara.

Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd, dalam sambutan pembukaannya menyampaikan bahwa relasi antara kampus dan eksistensi sebuah negara sangat erat. Ia mencontohkan sejarah pergeseran dominasi inovasi global, mulai dari Eropa sebelum Perang Dunia I, berpindah ke Amerika Serikat pasca-Perang Dunia II, hingga kini mulai bergeser ke negara-negara Asia seperti Cina, Jepang, Taiwan, dan Singapura.

“Proses perjalanan itu menunjukkan bahwa kampus yang memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, umumnya negaranya maju. Cina sekarang bisa mengalami lompatan kemajuan yang luar biasa karena dukungan kemampuan kampusnya,” ujar Prof. Hariyono pada Selasa (5/5/2026).

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa penguasaan Iptek bukan hanya untuk pembangunan ekonomi, melainkan juga untuk pertahanan dan kedaulatan negara dalam menghadapi perang modern.

“Negara yang maju umumnya karena memiliki inovasi dan pengembangan Iptek yang luar biasa. Kita ambil contoh saja Iran, yang sekarang sedang perang dengan Israel dan Amerika, bisa bertahan dan memberikan perlawanan yang cukup signifikan karena di sana ada inovasi yang berbasis teknologi. Sehingga mereka bisa membuat bungker, rudal balistik, dan seterusnya,” jelasnya.

Dalam menyoroti tema kepemimpinan, Prof. Hariyono mengingatkan bahwa masa depan Indonesia ada di tangan generasi pemuda yakni juga para mahasiswa. Namun menurutnya, kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh Iptek, melainkan juga oleh integritas dan moralitas pemimpin.

Ia menyampaikan, para pendiri bangsa Indonesia sejak awal abad ke-20 telah mencontohkan keberanian yang berbasis moral dan intelektual, bukan sekadar keberanian otot atau warisan keturunan. Para tokoh seperti Tan Malaka, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Soekarno, dan Agus Salim disebutnya sebagai pemikir yang gemar membaca, bahkan dalam kondisi pengasingan.

“Mereka bisa memotong mata rantai budaya sebelumnya, sehingga mereka tidak lagi mengandalkan warisan keturunan. Mereka menyebut dirinya adalah bangsawan pikiran, bukan bangsawan keturunan. Karena melalui pikiran-pikiran itulah sebuah bangsa bisa dibentuk,” tegas Rektor UM.

Selain itu, Prof. Hariyono juga menyoroti bahaya ketidakmampuan atau inkompetensi seorang pemimpin dalam birokrasi dan pembangunan.

“Inkompetensi itu tidak kalah berbahayanya dibanding korupsi. Kalau kita tidak kompeten, maka pada saat kita mengambil kebijakan, banyak yang keliru karena ketidaktahuannya. Kita memiliki kekayaan alam nikel yang luar biasa, tapi karena ketidaktahuan cara mengolahnya menjadi energi dan baterai mobil listrik, maka kita jual murah. Demikian pula uranium, tidak bisa diubah menjadi energi nuklir karena kita tidak kompeten,” paparnya.

Dalam kegiatan tersebut, UM juga mendorong implementasi kerja sama nyata dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Kerja sama ini diharapkan dapat memberikan ruang bagi mahasiswa UM untuk melakukan riset, magang, hingga berkontribusi langsung dalam perumusan kebijakan daerah.

Prof. Hariyono mengungkapkan adanya permintaan khusus dari perwakilan dewan terkait kebutuhan tenaga ahli bahasa isyarat di instansi pemerintahan. Sesuai aturan terbaru, setiap dinas wajib didampingi penerjemah bahasa lisan ke bahasa isyarat.

“Saya jawab di UM tidak hanya punya yang S1, tapi yang S2 juga banyak. Beliau langsung meminta agar Perjanjian Kerja Sama (PKS) segera ditindaklanjuti agar setiap dinas di Provinsi Jawa Timur bisa langsung merekrut alumni-alumni kita yang ahli bahasa isyarat,” ungkapnya.

UM juga menyatakan kesiapannya untuk mendampingi proses kinerja yang ada di pemerintahan daerah, mulai dari pembekalan kepala desa hingga seleksi calon kepala dinas atau eselon. Hal ini didorong agar pembelajaran di kampus dapat membumi dan menyentuh realitas masyarakat.

“Kami ingin adik-adik dua kakinya tetap menginjak tanah. Itulah realitas. Tapi kepala kita selalu melihat ke langit. Itulah idealitas. Realitas dan idealitas hanya bisa diperjuangkan kalau kita memiliki fleksibilitas,” pesan Prof. Hariyono.

Ditemui dalam sesi wawancara usai pembukaan, Prof. Hariyono menjelaskan bahwa Kuliah Kebangsaan ini adalah komitmen UM untuk merawat wawasan kebangsaan mahasiswa. Ia menyebut bahwa kebangsaan bukanlah sekadar warisan teritorial atau biologis, melainkan warisan intelektual.

Ia juga menanggapi isu krisis nasionalisme yang saat ini ramai dibicarakan. Menurutnya, untuk menjadi bangsa yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur, generasi muda mutlak harus memiliki wawasan kebhinekaan dan toleransi. Namun, toleransi saja tidak cukup.

“Kalau hanya bersatu dengan toleransi saja tidak cukup, karena tidak mungkin kita bisa berdaulat kalau kita tidak inovatif dan kreatif. Dua hal itu berjalan seiringan. Di sisi persatuan kita menekankan diksi toleransi, maka di sisi kemajuan diksi yang paling dominan adalah inovasi dan kreativitas,” terang Prof. Hariyono.

Menurutnya, ilmu pengetahuan hanya bisa tumbuh di masyarakat yang stabil dan damai. Ia mencontohkan sejarah konflik rasial dan keagamaan di Ambon pada masa lalu yang berujung pada lumpuhnya aktivitas akademik dan tutupnya salah satu perguruan tinggi.

Melalui filosofi pendidikan Plato, Rektor UM menganalogikan negara dengan tubuh manusia: otak di kepala mengatur nalar (logos), dada adalah kebanggaan (thumos) prajurit, dan perut ke bawah adalah kebutuhan rakyat biasa (epitumea).

“Sebagai seorang pemimpin, rakyat yang dibutuhkan bukan hanya pangan atau perut. Yang lebih utama adalah bagaimana kita bisa menyadarkan bahwa makan itu penting sebagai prasyarat hidup, tapi hidup bukan hanya untuk makan. Keberanian moral itulah yang menuntun visi intelektual seorang pemimpin agar kita tidak tertinggal oleh bangsa lain,” pungkasnya.

Melalui kolaborasi dengan instansi strategis seperti DPRD Jawa Timur, UM berharap ilmu yang didapat di kampus dapat disinergikan dengan pemecahan masalah di lapangan. Salah satu contoh yang telah berjalan adalah keterlibatan Fakultas Psikologi UM dalam tes psikologi seleksi calon pemimpin partai politik, yang bertujuan meningkatkan kualitas kepemimpinan sekaligus memulihkan kepercayaan publik terhadap lembaga negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *