Sosialisasi Stunting di Kedungasem, Pokmas Percajeh Tekankan Peran 1000 HPK untuk Cegah Stunting

Camat, lurah, Babinsa, Bhabinkamtibmas dan narasumber dari Dinkes P2KB saat hadir dalam acara sosialisasi gelarn Pokmas Percajeh.

PROBOLINGGO, BERITAKATA.id – Upaya percepatan penurunan stunting terus dilakukan Pemerintah Kota Probolinggo melalui berbagai program edukasi kepada masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan sosialisasi pencegahan dan penurunan stunting yang digelar oleh Pokmas Percajeh di Kelurahan Kedungasem, Kecamatan Wonoasih, Selasa (31/3/2026).

Kegiatan yang berlangsung di balai kantor Kelurahan Kedungasem ini diikuti puluhan warga, khususnya ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), serta calon pengantin (catin). Selain itu, turut hadir kader PKK, kader Posyandu, tokoh masyarakat, hingga perwakilan RW dengan total peserta sekitar 50 orang.

Lurah Kedungasem, Saiful Sarifudin, menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat terkait stunting, mulai dari pengertian, gejala, hingga langkah pencegahannya.

“Untuk menambah pengetahuan kita mengenai stunting ini apa, pencegahannya apa, gejalanya seperti apa, sehingga insyaallah tahun depan keluarga, keponakan, dan tetangga kita terhindar dari stunting,” ujarnya.

Saiful juga berharap para peserta dapat menyebarluaskan ilmu yang diperoleh kepada lingkungan sekitar. Menurutnya, peran masyarakat sangat penting dalam memutus rantai stunting melalui edukasi yang berkelanjutan.

Lurah Kedungasem memberikan sambutan kepada peserta sosialisasi.

“Harapan saya, panjenengan semua bisa berbagi ilmu kepada tetangga, komunitas, atau pengajian. Ilmu yang dibagikan dan dimanfaatkan akan menjadi amal dan membawa manfaat bagi banyak orang,” tambahnya.

Sosialisasi ini menghadirkan narasumber dari Dinas Kesehatan P2KB Kota Probolinggo, Tunik Agustina yang memaparkan tentang pencegahan stunting dengan makanan bergizi kaya protein hewani untuk mencapai generasi emas 2045.

Sementara itu, Camat Wonoasih, Eko Candra Wirawan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa penanganan stunting menjadi program prioritas pemerintah daerah dalam mewujudkan Kota Probolinggo bebas stunting.

Ia secara resmi membuka kegiatan sosialisasi dan mengajak seluruh peserta untuk aktif berdiskusi serta tidak ragu menyampaikan pertanyaan kepada narasumber.

Eko mengungkapkan, berdasarkan data, jumlah balita stunting di Kecamatan Wonoasih terus menunjukkan tren penurunan, meskipun masih memerlukan perhatian serius.

Camat Wonoasih memberikan arahan sekaligus membuka acara soialisasi.

“Dari 2.199 balita yang datang ke Posyandu, masih terdapat 175 balita yang mengalami stunting. Namun alhamdulillah, tren beberapa bulan terakhir ini menunjukkan penurunan,” jelasnya.

Khusus di Kelurahan Kedungasem, dari 405 balita yang rutin datang ke Posyandu, masih terdapat 28 balita yang masuk kategori stunting atau sekitar 6,9 persen.

“Ini memang tergolong rendah, tetapi tetap menjadi PR kita bersama. Tidak bisa kita anggap sepele karena masih ada anak-anak kita yang mengalami stunting,” tegasnya.

Eko juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, kader, dan masyarakat dalam menekan angka stunting. Berbagai program telah dijalankan, mulai dari edukasi kesehatan hingga pemberian makanan tambahan bagi balita.

Salah satu inovasi yang terus diperkuat adalah program pemberian makanan tambahan secara rutin, yang kini ditingkatkan frekuensinya menjadi setiap bulan.

Para peserta sosialisasi menyimak penjelasan dari narasumber.

“Harapannya, dengan intervensi yang lebih intensif ini, angka stunting di Kecamatan Wonoasih bisa terus menurun,” katanya.

Selain itu, ia juga menyinggung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini mulai menyasar ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam kesempatan tersebut, Eko juga mengingatkan pentingnya perubahan pola pikir masyarakat, khususnya dalam pemenuhan gizi anak.

“Masih ada kasus di mana balita tidak mau minum susu, bahkan ada yang justru susunya diberikan ke ternak. Ini yang perlu kita luruskan melalui edukasi agar bantuan yang diberikan benar-benar dimanfaatkan untuk anak,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Pokmas Percajeh, A. Sodik, menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi ini memiliki tujuan utama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan stunting sejak dini.

Peserta sosialisasi diberikan bantuan makanan tambahan (BMT) untuk menambah gizi anak.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat, khususnya ibu hamil, ibu balita, kader PKK, kader posyandu, dan ketua RW mengenai pentingnya pemenuhan gizi, pola asuh yang tepat, serta perilaku hidup bersih dan sehat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sosialisasi ini juga bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyebab dan dampak stunting, sekaligus mendorong perubahan perilaku menuju pola hidup sehat, gizi seimbang, dan sanitasi yang baik.

“Kami juga menekankan pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai masa krusial dalam mencegah stunting, serta mendorong peran aktif keluarga dan masyarakat dalam upaya pencegahannya,” tambahnya.

Lebih lanjut, A. Sodik berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak nyata, baik dalam peningkatan kesadaran masyarakat maupun penurunan angka stunting di tingkat kelurahan.

“Harapannya, masyarakat semakin memahami pentingnya pencegahan stunting sejak dini, ibu hamil dan ibu balita lebih aktif memantau kesehatan di posyandu, serta terjalin kerja sama yang baik antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Dengan begitu, angka stunting dapat terus menurun secara bertahap,” pungkasnya. ig/fat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *