Putus Mata Rantai Stunting, Dinkes Kabupaten Probolinggo Gandeng Alodokter dan RS

Seorang balita menjalani timbang badan dalam Mobi Screening di kantor Kecamatan Dringu.

PROBOLINGGO, BERITAKATA.id – Sedikitnya 160 ibu balita se-Kecamatan Dringu, antusias mengikuti kegiatan skrining gizi yang digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo.

Kegiatan bertajuk Mobi Screening Generasi Maju Bebas Stunting tersebut digelar di kantor Kecamatan Dringu, Rabu (11/6/2025).

Ratusan ibu dan balita tampak bersemangat mengikuti skrining gizi mulai pengukuran tinggi badan, lingkar kepala dan timbang badan, hingga konsultasi dengan dokter spesialis anak, yakni dr Muhammad Reza.

Para ibu balita menunggu giliran pemeriksaan balita dalam skrining gizi.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Prooblinggo dr Hariawan Dwi Tamtomo mengatakan kegiatan layanan jemput bola tersebut hasil kolaborasi Dinkes, Alodokter dan sejumlah rumah sakit di Kabupaten Probolinggo.

“Kegiatan ini hasil sinergitas Pemkab Probolinggo dengan Alodokter dan beberapa rumah sakit termasuk swasta, khususnya tenaga kesehatan yang memberikan kontribusi pemeriksaan, penyuluhan, dll,” jelas Hariawan.

Maksud dan tujuan Mobi Screening, pihaknya ingin melaksanakan pencegahan stunting sejak dini. Dengan cara mendeteksi sejak awal anak-anak khususnya balita yang mengalami permasalahan gizi.

Kepala Dinkes Kabupaten Proobliggo dr Hariawan Dwi Tamtomo, M.Mkes

“Melalui kegiatan Mobi Screening, anak langsung dideteksi tenaga ahli gizi, dokter spesialis anak, konsultan. Dokter anak M. Reza mengidentifikasi dan mendeteksi apa yang menjadi penyebab anak-anak tersebut mengalami gangguan status gizi.

Tak hanya pemeriksaan. Pihaknya melakukan intervensi kepala balita berupa susu, pemberian makanan tambahan (PMT). Pihaknya juga menyediakan susu lengkap yang terkait kondisi status bayi atau anak yang mengalami gangguan penyakit penyerta sehingga perkembangan gizi anak tidak baik, Susu khusus juga disiapkan, termasuk bayi yang mengalami status kurang gizi.

Untuk bayi baru lahir disiapkan PMT berupaya susu untuk mencegah kekurangan gizi.

Seorang balita diperiksa petugas kesehatan.

“Intinya dengan Mobi Screening, Dinkes, Alodokter, rumah sakit dan puskesmas ingin jemput bola mendekatkan akses layanan mendeteksi secara dini masalah status gizi pada anak-anak kita. Kegiatan ini digelar di lima puskesmas selama lima hari,” imbuh Hariawan.

Melalui skrining gizi pihaknya ingin mengetahui kondisi anak yang mengalami gangguan gizi kronis yang sudah lama.

“Sehingga kita ingin memutus mata rantai anak supaya tidak jatuh dalam kondisi stunting. Tujuannya kita deteksi dan diagnosa secara dini anak-anak kita yang kurang gizi,” kata Hariawan.

Balita dihibur oleh badut sebelum menjalani pemeriksaan.

Termasuk dengan adanya dokter spesialis anak, Dinkes ingin mendeteksi secara mendalam, kenapa anak ini berat badannya tidak mau naik dan status gizinya tidak kunjung baik, apakah ada latar belakang penyakit yang lain.

“Karena banyak anak kita yang status gizinya yang kurang baik ini ada yang mengalami penyakit diare kronis, diare turunan, dan dia juga menderita penyakit TBC, cacingan, dll. Ini tidak bisa kita hanya bisa kita berpikir simpel saja, hanya dengan memberikan asupan makanan sebanyak-banyaknya, tidak bisa seperti itu,” jelas Hariawan.

Latar belakang penyakit yang menyertai yang menyebabkan status gizi anak kurang baik harus diatasi dan diobati.

“Jadi, intinya kami mendekatkan layanan jemput bola deteksi dini dan memutus mata rantai stunting,” pungkas Hariawan.

Sementara, PIC Alodokter Helmi yang hadir dalam Mobi Screening di Dringu, mengatakan
kegiatan Mobi Screening di Kabupaten Probolinggo adalah kota keenam di Indonesia.

Alodokter kerja sama dengan Kemenkes, Kemenkes merekomendasikan Dinkes daerah mana yang menjadi target 1 juta skrining oleh Alodokter. Salah satu yang direkomendasikan adalah Dinkes Kabupaten Probolinggo.

“Antusiasme warga Kabupaten Probolinggo dan Dinkes Kabupaten Probolinggo luar biasa dan sangat menerima. Kami senang melihat antusiasme masyarakat dalam kegiatan ini,” tambah Helmi.

Bidang Promkes Dinkes Kabupaten Probolinggo bertugas dalam kegiatan Mobi Screening.

Kegiatan Mobi Screening yang digelar Alodokter seperti kegiatan posyandu tapi dengan sentuhan modern.

“Yang membedakan posyandu bulanan dengan kegiatan kami yaitu menyiapkan dokter spesialis anak langsung. Kami jemput bola dengan sasaran anak berusia usia 12 bulan sampai 59 bulan. Kami menyiapkan susu untuk stimulus bagi anak terindikasi tumbuh kembang kurang baik,” jelas Helmi.

“Mobi Screening digelar lima hari di Kabupaten Probolinggo. Kami sangat diterima dengan baik oleh Dinkes. Kami senang disupport oleh Dinkes Kabupaten Proobliggo,” pungkas Helmi.

Di tempat yang sama, Nur Cahyati (29), terlihat antusias mengikuti kegiatan Mobi Screening. Dia bisa memperhatikan kondisi anak yang berpotensi kurang gizi. Kegiatan ini beda dengan posyandu, yakni bisa konsultasi dengan dokter anak secara langsung.

“Kami senang ikut kegiatan ini. Dengan begitu bisa memberikan perhatian lebih kepada anak setelah diperiksa dan konsultasi ke dokter anak,” kata Nur Cahyati. ig/fa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *