PROBOLINGGO, BERITAKATA.id – Dalam upaya menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan balita, Pemerintah Kabupaten Probolinggo melalui Dinas Kesehatan menggelar layanan kesehatan yang menyentuh langsung ke tengah masyarakat.
Kegiatan bertajuk “SAE Kesehatan Mobi Screening Generasi Maju Bebas Stunting” ini menghadirkan layanan skrining gizi dan tumbuh kembang balita secara langsung di desa-desa, dengan melibatkan dokter spesialis anak.
Tak tanggung-tanggung, lima dokter anak turun langsung dalam kegiatan ini. Yakni dr Vonny Mariany, dr Fauziah Pratiwi, dr Muhammad Reza, dr Felicia Anita W, dan dr Ni Made Maya Purnama Wulandari.

Salah satu kegiatan berlangsung di Balai Desa Sogaan, Kecamatan Pakuniran, pada Selasa (10/6/2025), yang menjadi salah satu contoh nyata kolaborasi efektif antara pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat.
Melalui pendekatan jemput bola, layanan ini memudahkan orang tua yang selama ini enggan atau terkendala mengakses fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan menyeluruh bagi anak mereka.
Dalam kegiatan ini, balita diperiksa secara lengkap mulai dari pengukuran berat badan dan tinggi badan, hingga asesmen status gizi melalui aplikasi khusus. Jika ditemukan tanda-tanda gizi buruk atau stunting, anak langsung dirujuk ke dokter umum maupun dokter spesialis anak untuk penanganan lebih lanjut.

“Kami ingin mendekatkan layanan ini agar anak-anak yang membutuhkan intervensi gizi tetap bisa tertangani, tanpa harus menunggu mereka datang ke fasilitas kesehatan formal,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo, dr. Hariawan Dwi Tamtomo.
Lebih dari sekadar layanan pemeriksaan, kegiatan ini juga menjadi momentum kolaborasi strategis dengan platform layanan kesehatan digital, Alodokter.
Kabupaten Probolinggo terpilih menjadi satu-satunya daerah di Jawa Timur yang mendapatkan dukungan langsung dari lima dokter spesialis anak selama periode 10 hingga 14 Juni 2025. Dukungan ini diharapkan mampu mempercepat penanganan dan pencegahan stunting di tingkat desa.

Dokter spesialis anak, dr. Ni Made Maya Purnama Wulandari, yang turut terlibat dalam kegiatan ini, menegaskan pentingnya skrining dini.
“Dengan deteksi awal, kita bisa menemukan balita yang mengalami gizi buruk dan stunting lebih cepat, sehingga intervensi yang tepat bisa diberikan sebelum kondisi mereka memburuk,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa stunting merupakan masalah kompleks yang memerlukan perhatian jangka panjang, dan penanganan yang tepat harus dilakukan sejak dini.

Kepedulian juga datang dari Camat Pakuniran, Hasan Zainuri. Ia menyampaikan apresiasi terhadap langkah inovatif ini, yang dinilai mampu memperkuat sinergi antar tingkat pemerintahan desa, kecamatan, dan kabupaten. “Kami berharap, melalui program ini, warga kami bisa hidup sehat dan terbebas dari stunting,” katanya.
Di sisi lain, Kepala Puskesmas Glagah, Eko Murdiati Ningsih, menambahkan bahwa dari tujuh desa binaannya, lima desa menjadi sasaran skrining hari itu.
Ia bersyukur karena dengan kehadiran dokter spesialis di desa, balita yang sebelumnya berpotensi mengalami masalah gizi tidak perlu lagi dirujuk ke rumah sakit, melainkan bisa langsung mendapatkan penanganan di tempat.

Desa Bucor Kulon, yang juga merupakan lokus stunting utama di wilayah tersebut, menjadi fokus utama dalam upaya penurunan angka stunting yang terus berlangsung.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa inovasi layanan kesehatan yang mendekatkan tenaga medis langsung ke masyarakat merupakan langkah strategis dalam menanggulangi stunting dan meningkatkan kualitas hidup generasi muda. Dengan kolaborasi yang solid dan komitmen semua pihak, harapan akan generasi yang lebih sehat dan bebas stunting di Kabupaten Probolinggo semakin nyata. ig/fat/fa












