MALANG, BERITAKATA.id – Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Malang memaparkan kondisi dan proyeksi ekonomi terkini di wilayah kerjanya. Pemaparan tersebut disampaikan dalam kegiatan Diseminasi Perkembangan Ekonomi Terkini melalui forum Bincang Santai Bersama Media (BISMA) Kantor Perwakilan BI Malang pada Kamis (5/3/2026).
Kepala Kantor Perwakilan BI Malang, Indra Kuspriyadi, mengatakan bahwa pihaknya dalam beberapa hari terakhir terus melakukan upaya stabilisasi harga guna menekan laju inflasi. Pada Februari 2026, tercatat angka inflasi mencapai 1,21 persen di Probolinggo dan 0,7 persen di Kota Malang.
“Capaian (inflasi) ini kita duga sebelumnya karena adanya hari besar keagamaan. Biasanya, ada peningkatan permintaan untuk produk-produk berbasis pangan,” ujar Indra, yang sebelumnya bertugas di Satker Sumatera Utara sebagai Kepala Divisi Implementasi Kebijakan.
Indra menjelaskan, tekanan inflasi di Malang Raya juga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti naiknya harga bahan bakar minyak (BBM), tensi geopolitik di Timur Tengah, serta melonjaknya harga emas dunia.
“Peningkatan harga emas ini tidak bisa kita kendalikan secara langsung, tetapi sangat berdampak terhadap tekanan inflasi. Ini menjadi tantangan tersendiri,” tuturnya.
Meski terdapat tekanan inflasi, Indra membawa kabar baik terkait perekonomian nasional dan daerah.
“Pertumbuhan ekonomi kita membaik. Karena kita mencapai pertumbuhan ekonomi yang baik, ini menjadi harapan baru. Kita optimis terhadap ekonomi kita meskipun tetap ada kewaspadaan,” tegasnya.
Untuk menjaga tren positif tersebut, BI Malang akan mengedepankan program pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) serta ekonomi syariah. BI meyakini kedua sektor ini membawa dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan peningkatan lapangan kerja.
Selain itu, BI mendorong digitalisasi sistem pembayaran melalui kolaborasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda) guna meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Menurut Indra, dana transfer keuangan daerah dari pusat saat ini cenderung menurun sehingga Pemda dituntut lebih kreatif.
“Transfer keuangan daerah menurun, tentunya ini harus diikuti kreativitas. Salah satunya melalui digitalisasi untuk menekan angka kebocoran PAD,” jelas Indra.
Dari sisi kebutuhan pokok, BI juga mengambil peran proaktif.
“BI akan berperan mendorong dan menciptakan ketahanan pangan di daerah, hal itu juga untuk menjaga inflasi dari produk pangan,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Kepala Kantor Perwakilan BI Malang, Dedi Prasetyo, memproyeksikan perekonomian global pada tahun 2026 kemungkinan akan melambat dibandingkan tahun 2025. Namun, ia berharap kondisi domestik justru akan membaik.
“Perekonomian global kemungkinan melambat, tetapi domestik semoga lebih bagus di tahun 2026. Ada program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan lain-lain yang semoga membantu pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Dedi.
Untuk wilayah kerja BI Malang, pertumbuhan ekonomi ditargetkan berada pada kisaran 5,1 hingga 5,8 persen pada tahun 2026 ini. Dedi merinci, Kota Malang dan Kabupaten Malang masuk dalam jajaran dengan pertumbuhan tertinggi di wilayah kerja BI Malang, diikuti oleh Kota dan Kabupaten Probolinggo. Pertumbuhan tertinggi di Jatim secara umum tercatat di Pacitan, sementara Kota Batu menjadi wilayah yang pertumbuhannya masih di bawah rata-rata nasional.
Secara struktur, ekonomi daerah masih ditopang kuat oleh konsumsi rumah tangga, industri pengolahan, dan investasi.
“Ke depan, harapannya ada dukungan dari ekspor dan impor. Walaupun tantangannya ada perang tarif dan lain-lain, tetapi peluangnya masih ada,” ujar Dedi.
Dedi juga memaparkan bahwa dari sisi psikologis pasar, hasil survei menunjukkan konsumen masih optimistis terhadap kondisi perekonomian. Kontraksi pada penjualan eceran pun terlihat sempat mengecil.
“Maret saya yakin penjualan eceran lebih baik, karena ada momen Ramadan juga,” tambahnya.
Terkait tingginya inflasi di Malang dan Probolinggo pada bulan Februari, Dedi menyebut emas sebagai pendorong utama seiring tren global dan tingginya animo masyarakat menyimpannya.
“Mudah-mudahan saat Lebaran nanti, orang-orang menjual emas untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga hal itu bisa menekan angka inflasi,” harapnya.
Faktor cuaca juga masih berkontribusi terhadap inflasi pangan. Curah hujan yang tinggi merusak tanaman cabai milik petani binaan BI di Probolinggo, sehingga mengganggu produksi. Namun, sebagai kabar baik, harga cabai keriting dan cabai besar saat ini lebih murah sehingga bisa menjadi opsi pengganti cabai rawit bagi masyarakat.
Sementara itu, harga daging ayam ras yang menyentuh Rp40.000 per kilogram dinilai sebagai hal lazim saat bulan puasa akibat naiknya permintaan. Di sisi lain, kenaikan harga telur terpantau normal dan tidak signifikan.
Guna menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan BI telah merumuskan sejumlah langkah strategis. Minggu ini dan minggu depan, hampir seluruh Pemda di wilayah kerja BI Malang akan menggelar rapat koordinasi.
“Beberapa hal disepakati dalam rakor itu sebagai action TPID. Pak Wahyu (Wali Kota Malang) akan menyelenggarakan Warung Tekan Inflasi (WTI), lalu dinas-dinas terkait sudah menyelenggarakan Gerakan Pangan Murah (GPM) di 30 titik di Kota Malang, daerah lain juga menyelenggarakan pasar murah,” jelas Dedi.
Dedi menekankan bahwa pasar murah merupakan instrumen penting untuk meredam lonjakan harga dan mempermudah akses masyarakat. Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak panik terhadap dinamika harga kebutuhan pokok.
Kelancaran distribusi logistik juga dijaga ketat agar tidak memicu kenaikan harga yang lebih tinggi. BI Malang berharap adanya intervensi dari Pemda untuk sektor transportasi.
“Harapannya ada bantuan ongkos angkut dari Pemda. Subsidi transportasi seperti tarif kereta api dan tol itu lebih bagus lagi, termasuk layanan mudik gratis dari Pemda. Tekanan dari kelompok transportasi ini bisa membantu menekan angka inflasi agar lebih rendah lagi,” terangnya.












