Ketika “Moh Mashur Abadi” Sang Pemikir Pergi: Taneyan Lanjhang, dan Jejak Sunyi yang Tidak Pernah Mati

Rektor UIN Madura Dr H. Saiful Hadi, MPd

Oleh: Dr. H. Saiful Hadi, M.Pd, Rektor UIN Madura

BERITAKATA.id- Ketika manusia yang hidup hanya sebagai bagian dari keramaian zaman, lalu hilang tanpa meninggalkan gema apa pun dalam sejarah kehidupan. Tetapi ada pula manusia yang kehadirannya tidak terlalu banyak terdengar oleh publik, tidak selalu berdiri di panggung paling depan, namun diam-diam menanam akar pemikiran yang kelak tumbuh menjadi pohon peradaban.

Moh. Mashur Abadi tampaknya termasuk golongan manusia seperti itu. Kepergiannya bukan hanya meninggalkan kesedihan, tetapi meninggalkan ruang kosong yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Sebab yang wafat bukan sekadar seorang dosen, bukan sekadar seorang intelektual, melainkan seorang penjaga api keilmuan yang selama ini diam-diam menghangatkan arah berpikir banyak orang.

Kabar wafatnya menghadirkan kesadaran mendalam bahwa sesungguhnya manusia besar tidak selalu dikenal dari seberapa sering ia berbicara di hadapan publik, tetapi dari seberapa dalam ia mampu menyalakan kesadaran orang lain.

Ada guru yang mengajar dengan suara, tetapi ada guru yang mengajar dengan keberadaan dirinya. Moh Mashur Abadi termasuk sosok yang tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi menghadirkan keteduhan intelektual, menghadirkan ruang dialog, dan menghadirkan keberanian berpikir kepada murid-murid dan kolega-koleganya.

Dalam dunia akademik modern yang sering terjebak pada formalitas administratif, pencitraan akademik, dan kompetisi simbolik, sosok seperti beliau menjadi langka, Ia berpikir bukan untuk popularitas, tetapi untuk makna, ia berdiskusi bukan untuk memenangkan argumen, tetapi untuk menemukan kedalaman kebenaran. Karena itu, banyak gagasannya lahir bukan dari ruang formal yang penuh seremoni, melainkan dari ruang-ruang sunyi yang dipenuhi perenungan dan kegelisahan intelektual.

Salah satu jejak paling penting dari perjalanan intelektual itu adalah lahirnya falsafah keilmuan “Taneyan Lanjhang” UIN Madura. Sebuah gagasan yang tampak sederhana secara bahasa, tetapi sesungguhnya sangat dalam secara filosofis.

Taneyan Lanjhang dalam tradisi Madura bukan sekadar tata ruang rumah keluarga, melainkan simbol kehidupan kolektif yang menyatukan darah, nilai, sejarah, dan spiritualitas dalam satu halaman panjang kebersamaan, ia adalah ruang hidup yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu ikatan peradaban.

Ketika konsep itu dijadikan falsafah keilmuan UIN Madura, sesungguhnya para penggagasnya sedang berusaha menyelamatkan pendidikan dari keterasingannya sendiri. Sebab ilmu pengetahuan modern sering kali tumbuh tanpa akar budaya dan tanpa ruh kemanusiaan. Kampus menjadi megah secara fisik, tetapi kering secara filosofis. Manusia menjadi cerdas secara akademik, tetapi kehilangan ikatan sosial dan spiritualnya.

Dalam konteks inilah Taneyan Lanjhang menjadi simbol bahwa ilmu harus kembali memiliki rumah kebudayaan dan rumah kemanusiaan.

Di balik gagasan itu, ada malam-malam panjang yang kini terasa begitu berharga untuk dikenang. Diskusi awal tentang falsafah keilmuan itu berlangsung di lobi lantai satu IBS PKMKK. Tempat yang sederhana, jauh dari kemewahan ruang konferensi akademik. Pada tanggal 9 Juni 2025 yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha yang lalu, diskusi dimulai sekitar pukul dua belas malam hingga pukul dua dini hari. Ketika kebanyakan manusia larut dalam tidur dan perayaan, beberapa orang justru terjaga untuk memikirkan masa depan ilmu pengetahuan.

Di sana hadir Rektor UIN Madura sebagai simbol “Jeregen Dere’”, Ketua Senat sebagai simbol “Jeregen Tase’”, dan tentu saja Moh Mashur Abadi yang menjadi salah satu ruh intelektual dari percakapan-percakapan itu. Mereka berbicara tentang identitas keilmuan, tentang arah peradaban kampus, tentang bagaimana Madura tidak hanya menjadi objek kajian, tetapi menjadi sumber epistemologi dan falsafah pendidikan.

Momen itu sesungguhnya sangat penting. Sebab peradaban besar selalu lahir dari komunitas kecil yang memiliki kesadaran kolektif tentang makna masa depan. Apa yang mereka lakukan malam itu bukan sekadar menyusun dokumen lima halaman, tetapi sedang merumuskan jiwa sebuah lembaga pendidikan. Lima halaman itu mungkin terlihat kecil, tetapi di dalamnya tersimpan pergulatan pemikiran tentang hubungan agama, budaya, modernitas, dan identitas lokal.

Ada sesuatu yang sangat menyentuh dari cara gagasan itu lahir, ia tidak lahir dalam suasana serba pasti, tetapi dalam keheningan, kegelisahan, dan kesederhanaan. Bahkan pada pertemuan berikutnya, ketika diskusi kembali dilakukan pada jam yang sama di tempat yang sama, sempat terjadi gempa bumi yang membuat pertemuan harus segera diakhiri. Anehnya, peristiwa itu kini terasa sangat simbolik. Seakan-akan alam ikut menjadi saksi bahwa setiap gagasan besar memang selalu lahir di tengah guncangan.

Gempa itu seperti metafora kehidupan intelektual itu sendiri. Bahwa manusia sering membangun gagasan di atas tanah yang tidak pernah benar-benar stabil. Bahwa pemikiran besar selalu lahir dari kegelisahan, dari ketidaknyamanan, dan dari keberanian menghadapi ketidakpastian. Dan mungkin, tanpa disadari, malam itu mereka sedang meninggalkan jejak sejarah yang suatu hari akan dikenang dengan rasa haru.

Kini, setelah Moh Mashur Abadi wafat, semua kenangan itu berubah menjadi lebih dalam maknanya. Ada rasa kehilangan yang tidak mudah dijelaskan, karena manusia seperti beliau bukan hanya menghadirkan ilmu, tetapi juga menghadirkan arah batin bagi orang-orang di sekitarnya. Figur intelektual seperti beliau sering menjadi jangkar makna bagi komunitas akademik. Ketika figur itu pergi, yang hilang bukan hanya seseorang, tetapi juga rasa teduh, rasa orientasi, dan rasa keyakinan bahwa masih ada orang yang berpikir dengan tulus demi ilmu pengetahuan.

Yang paling menyedihkan dari kehilangan seorang pemikir adalah karena kita sering baru menyadari besarnya pengaruh mereka setelah mereka tiada. Ketika mereka masih hidup, gagasan-gagasannya terasa biasa. Diskusi-diskusinya terasa sederhana. Nasihat-nasihatnya terdengar seperti percakapan biasa. Tetapi setelah kepergiannya, semua itu berubah menjadi kenangan yang terasa sangat mahal.

Moh Mashur Abadi telah pergi, tetapi sesungguhnya ia belum benar-benar hilang. Sebab manusia tidak sepenuhnya mati ketika tubuhnya dikuburkan, ia benar-benar mati ketika gagasan dan nilai-nilai yang diperjuangkannya berhenti hidup dalam kesadaran generasi setelahnya. Dan tampaknya, jejak-jejak intelektual beliau akan terus hidup dalam denyut falsafah Taneyan Lanjhang, dalam tradisi diskusi yang ia hidupkan, dan dalam keberanian berpikir yang ia wariskan kepada banyak orang.

Mungkin benar bahwa umur biologis manusia terbatas. Tetapi pemikiran yang lahir dari ketulusan dan kegelisahan peradaban sering kali memiliki umur yang jauh lebih panjang daripada tubuh pemiliknya. Karena itu, kepergian Moh Mashur Abadi sesungguhnya bukan akhir, melainkan perpindahan dari keberadaan fisik menuju keabadian gagasan.

Malam-malam sunyi di lobi IBS PKMKK itu kini tidak lagi sekadar kenangan, ia telah berubah menjadi fragmen sejarah intelektual yang akan terus hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah menyaksikan bagaimana sebuah falsafah besar lahir dari kesederhanaan, dari kegelisahan, dan dari seorang pemikir yang memilih bekerja dalam diam demi masa depan ilmu pengetahuan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *