Kepala Disdikdaya: Kasus Bullying Siswa SD Kaliacar Sudah Selesai

Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Hary Tjahjono.

PROBOLINGGO, BERITAKATA.id – Kasus dugaan bullying yang terjadi di SDN Kaliacar 01, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, akhirnya dinyatakan selesai setelah melalui mediasi dan pendampingan dari berbagai pihak.

Peristiwa yang sempat viral itu melibatkan dua siswa kelas VI, masing-masing berinisial D sebagai korban dan E sebagai terduga pelaku.

Kejadian bermula dari persoalan pribadi antar siswa yang masih saling mengenal dan tinggal dalam satu lingkungan keluarga. Saat itu, D meminjam buku milik A, yang merupakan pacar E, dengan seizin A.

Namun ketika buku tersebut dikembalikan, terjadi perselisihan antara D dan A.

Menurut keterangan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo, Hary Tjahjono, suasana yang awalnya seperti bergurau berubah ketika muncul kata-kata tidak pantas dari A kepada D. Ucapan itu kemudian memicu E merasa tersinggung.

Hary menjelaskan bahwa insiden dipicu oleh faktor asmara dan kesalahpahaman antar siswa. Ketika D mengembalikan buku, A menjambak rambutnya dan mengeluarkan perkataan yang menyinggung.

“Perkataan tersebut disampaikan kepada E hingga membuatnya tersulut emosi. Aksi pemukulan terjadi secara spontan di area sekolah, meski kejadiannya berlangsung di luar jam pelajaran ketika tidak ada aktivitas belajar,” kata Hary, Selasa (25/11/2204).

Peristiwa itu direkam oleh seorang kakak kelas dan videonya kemudian beredar hingga membuat kasus ini viral.

“Alhamdulillah sekarang sudah clear, tidak ada masalah. Orang tuanya juga kumpul, masih satu lingkungan. Dari awal ini hanya miskomunikasi karena persoalan asmara,” kata Hary.

Hary menambahkan, penanganan telah dilakukan oleh Polsek dan Koramil setempat. Disdikdaya juga turun langsung bersama jajaran dan didampingi Ketua serta anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Probolinggo untuk memastikan penyelesaian berjalan dengan baik. Menurut Hary, para pihak kini sudah berdamai dan saling memaafkan.

Hary juga menyebut bahwa E selama ini dikenal sebagai siswa yang aktif secara keagamaan dan sering menjadi imam salat duha di sekolah.

Latar belakang budaya di wilayah Probolinggo yang kental dengan kultur Madura turut memengaruhi cara remaja merespons ketika merasa tersinggung.

“Kadang kalau merasa ingin membela pujaan hatinya, reaksinya spontan,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, Disdikdaya melakukan pendampingan lanjutan melalui tenaga yang ada di Korpri serta bekerja sama dengan Forkopimka untuk pembinaan rutin.

Pendampingan mencakup pembelajaran etika, sikap, dan penguatan nilai-nilai agama agar siswa mampu mengelola emosi dengan lebih baik. Kolaborasi antara sekolah, guru, dan orang tua juga diperkuat agar pengawasan terhadap siswa semakin optimal.

“Kami memaksimalkan pendampingan karena SDM kami terbatas. Pembinaan dilakukan rutin, ada pendidikan etika, attitude, dan agama. Kita sinergikan dengan orang tua dan guru,” jelas Hary.

Hary menambahkan, pendekatan restorative justice diterapkan karena siswa yang terlibat masih di bawah umur. Penyelesaian diarahkan pada mediasi, pendampingan, dan pembinaan, bukan pendekatan represif.

Hary berharap peristiwa ini dapat menjadi pelajaran bersama agar kekerasan antarsiswa tidak terjadi lagi di sekolah lain.

“Mudah-mudahan tidak terulang. Ini jadi pembelajaran bersama. Kami akan terus maksimalkan pendampingan kekerasan di lingkungan sekolah,” pungkasnya. ig/fat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *