Kekhawatiran Konflik Sosial Jadi Sorotan DPRD Kota Probolinggo dalam Rencana Renovasi Jalan Cokroaminoto

Situasi Jl Cokro yang akan direvitalisasi.

PROBOLINGGO,BERITAKATA.id- Rencana revitalisasi Jalan Hos Cokroaminoto, Kota Probolinggo, menuai kekhawatiran dari anggota DPRD Kota Probolinggo. Mereka meminta proyek pembangunan tersebut tidak dilakukan secara terburu-buru tanpa kajian teknis dan sosial yang matang.

Dua anggota Komisi III DPRD Kota Probolinggo, Robit Riyanto dan Eko Purwanto, menyoroti pentingnya sosialisasi kepada warga sebelum pengerjaan dimulai. Robit Riyanto menegaskan, sosialisasi harus dilakukan sejak awal agar tidak menimbulkan gesekan sosial.

“Kalau tidak ada sosialisasi, efek sosialnya bisa besar. Kami ingin memastikan prosesnya berjalan lancar dan tidak menimbulkan konflik,” ujarnya dalam rapat, Senin (24/11/2025).

Robit juga mendukung upaya pembenahan kawasan, tetapi menekankan perlunya kajian yang benar-benar tuntas. Ia berharap, Pemkot Probolinggo dapat menyelesaikan permasalahan bangunan di atas trotoar tanpa konflik sosial.

Senada, Eko Purwanto mengingatkan agar Pemkot tidak memaksakan pengerjaan jika kajian belum selesai. Ia menyoroti rencana penyusunan DED yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan proyek, yang berpotensi tumpang tindih.

“Lebih baik selesaikan dulu semua persoalan bangunan, baru lanjut ke pengerjaan. Kalau harus bergeser anggaran, tidak masalah, asalkan tidak menimbulkan gesekan,” katanya.

Kepala Dinas PUPR-PKP Kota Probolinggo, Setyorini Sayekti, menyampaikan bahwa renovasi Jalan Hos Cokroaminoto merupakan program prioritas tahun 2026. Kawasan ini sering mengalami genangan air dan merupakan jalur vital di pusat kota.

Rini menambahkan, penataan akan dimulai dari sisi barat yang padat penduduk. Ia mencontohkan pola penataan akan mengikuti model Jalan Ikan Tengiri, meliputi pembangunan drainase baru, peningkatan trotoar, pemasangan PJU, dan fasilitas pendukung lainnya.

Namun, Rini mengakui adanya persoalan sosial yang menjadi titik krusial dalam proyek ini. Ia menegaskan, pihaknya akan menyelesaikan terlebih dahulu bangunan permanen dan semi permanen di atas trotoar.

“Kami ingin kondisi kawasan bersih dan clear sebelum pengerjaan dimulai,” ujarnya.

Rini juga menegaskan, keberhasilan proyek tidak hanya bergantung pada aspek teknis, tetapi juga keberhasilan komunikasi dengan warga terdampak. Semua masukan dari warga dan DPRD akan dipertimbangkan sebelum proyek dilanjutkan ke tahap konstruksi. ig/fa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *