PROBOLINGGO, BERITAKATA.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, kembali menggelar Aksi Bergizi di Sekolah dan Pesantren sebagai upaya meningkatkan kesadaran hidup sehat bagi remaja putri.
Kegiatan kali ini berlangsung di SMP dan Pondok Pesantren Muhammad Shodiq, Kecamatan Maron, Kamis (15/5/2025), dengan melibatkan sedikitnya 300 siswi sebagai peserta.
Rangkaian kegiatan meliputi minum tablet tambah darah bersama, sarapan sehat, skrining tuberkulosis (TBC), serta penyuluhan gizi oleh dosen dari Universitas Brawijaya, Achmad Dzulkifli yang juga merupakan ahli gizi.

Program ini dirancang untuk membentuk kebiasaan sehat pada remaja putri sejak dini, sebagai investasi kesehatan jangka panjang.
Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Probolinggo, Sri Wahyu Utami menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya bertujuan mencegah anemia, tapi juga membangun kesadaran pentingnya menjaga kesehatan bagi calon ibu masa depan.
“Harapan kami, remaja putri bisa disiplin minum tablet tambah darah seminggu sekali. Ini penting untuk mencegah anemia dan mendukung proses belajar, agar tidak mudah lelah, pusing, atau kurang konsentrasi. Mereka adalah calon ibu yang harus sehat sejak remaja,” tegas Wahyu.

Dengan Aksi Bergizi di Sekolah dan Pesantren, diharapkan dapat menumbuhkan kedisiplinan dalam menjaga kesehatan sejak remaja, terutama dalam mengonsumsi tablet tambah darah secara rutin.
Langkah ini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan generasi muda yang sehat, cerdas, dan siap menghadapi masa depan.
Lebih lanjut, Wahyu menjelaskan bahwa Aksi Bergizi di Sekolah dan Pesantren tahun ini akan dilaksanakan di 10 lokasi yang telah ditentukan oleh Dinkes. Untuk jumlah peserta bervariasi dan biasanya berjumlah ratusan. Saat ini sudah tiga lokasi yang didatangi oleh Dinkes, yakni SMA Zainul Hasan Genggong, SMA 1 Dringu dan SMP Muhammad Shodiq.

Meski lokasi terpusat di lembaga pendidikan seperti sekolah dan pondok pesantren, sasaran kegiatan ini mencakup seluruh remaja putri di Kabupaten Probolinggo.
Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Nina Kartika, menyampaikan bahwa kegiatan skrining TBC juga menjadi bagian penting dari aksi ini.
Skrining dilakukan terhadap peserta yang menunjukkan gejala batuk lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, nafsu makan menurun, dan keringat malam.

“Saat ini belum ditemukan kasus yang mengarah ke TBC, tetapi kami tetap memantau peserta yang memiliki gejala. Bila perlu, akan dilakukan pemeriksaan lanjut berupa tes dahak,” ujar Nina.
Menurutnya, pondok pesantren sebagai lingkungan komunal perlu mendapatkan perhatian lebih dalam upaya pencegahan penyakit menular.
Kegiatan ini juga disambut positif oleh pihak sekolah dan pengasuh pondok pesantren. Para santri mengaku senang bisa mengikuti kegiatan yang edukatif sekaligus bermanfaat bagi kesehatan mereka.

Dinkes pun memberikan enam tips untuk mencegah anemia terhadap remaja. Pertama, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Kedua, lakukan aktifitas fisik dan rajin minum air putih.
Ketiga, minum tablet tambah darah. Keempat, makan makanan tinggi protein dan zat besi. Kelima, tingkatkan makanan yang membantu penyerapan zat besi dan terakhir, hindari minuman yang menghambat penyerapan zat besi. ig/fat/fa












