Lulusan SMAN 3 Malang Raih Medali Perunggu Ajang Olimpiade Biologi Internasional 2026

Sabrina Yeira Arisandra (18), lulusan SMA Negeri 3 Malang tahun 2026, sukses meraih medali perunggu dalam ajang International Biology Olympiad (IBO) 2026 yang diselenggarakan di Lithuania pada 12 hingga 19 Juli 2026.

MALANG, BERITAKATA.id – Prestasi membanggakan di kancah internasional berhasil ditorehkan oleh pelajar asal Kota Malang, Jawa Timur. Sabrina Yeira Arisandra (18), lulusan SMA Negeri 3 Malang tahun 2026, sukses meraih medali perunggu dalam ajang International Biology Olympiad (IBO) 2026 yang diselenggarakan di Lithuania pada 12 hingga 19 Juli 2026.

Dalam wawancara pada Jumat (24/7/2026), gadis kelahiran Kediri, 24 Desember 2007 ini membagikan pengalaman dan perjuangannya selama mengikuti kompetisi yang diikuti oleh 302 peserta dari 78 negara tersebut. Indonesia sendiri mengirimkan empat perwakilan terbaiknya, termasuk Sabrina.

Perjalanan menuju Lithuania menjadi tantangan tersendiri bagi kontingen Indonesia. Sabrina menceritakan, penerbangan memakan waktu hingga 19 jam. Bahkan, peserta Indonesia lainnya sempat kehilangan koper saat kedatangan. Namun, masalah tersebut segera teratasi sehingga mereka dapat mengikuti perlombaan dengan lancar.

Kompetisi IBO 2026 berlangsung padat dan menguras tenaga. Pada hari pertama, peserta dihadapkan dengan ujian praktikum yang terbagi dalam empat topik, yakni biologi sel molekuler dan biokimia, bioinformatika terkait tumbuhan, fisiologi hewan, serta morfologi dan sistematika hewan.

“Semua praktikum ada serunya masing-masing, tetapi saya paling suka fisiologi hewan. Di sana kami belajar menginterpretasikan data terkait ginjal dan menghitung sel darah merah,” ujar Sabrina pada Jumat (24/7/2026).

Setelah jeda istirahat satu hari yang diisi dengan kegiatan jalan-jalan ke Kota Tua di Lithuania, ujian dilanjutkan ke tes teori. Tes ini berlangsung selama enam jam penuh yang terbagi dalam dua sesi, mulai pukul 08.00 hingga 16.00 waktu setempat. Tes ini menuntut fokus dan ketenangan ekstra dari seluruh peserta.

Sabrina juga menyoroti perbedaan atmosfer kompetisi internasional dan nasional. Menurutnya, peserta internasional memiliki kesiapan mental yang luar biasa.

“Kalau di luar negeri, peserta datang dengan mental yang sudah terbentuk dan siap. Target mendapat medali tetap ada, tetapi mereka lebih santai, ingin berteman, dan menghabiskan waktu dengan bahagia,” ungkapnya.

Hal ini berbeda dengan kompetisi di dalam negeri yang suasananya cenderung sangat tegang karena semua orang berfokus pada target juara. Sabrina menyebutkan bahwa kontingen Amerika Serikat menjadi salah satu saingan terberat karena mental bertanding mereka yang sangat tenang, selain Tiongkok yang peserta-pesertanya dinilai sangat cerdas dan akhirnya keluar sebagai Juara Umum IBO 2026.

Keberhasilan Sabrina di ajang IBO tidak lepas dari persiapan panjang. Sebelumnya, ia merupakan peraih medali perak bidang biologi pada ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2025 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sejumlah 30 pemenang OSN 2025 hingga tersaring empat peserta termasuk Sabrina mengikuti pemusatan latihan nasional (pelatnas) secara intensif sejak November 2025.

Meski telah lulus dari bangku SMA, saat ini Sabrina masih aktif meluangkan waktunya untuk membantu membimbing adik-adik kelasnya di SMAN 3 Malang. Ke depannya, mahasiswi yang baru saja diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) melalui jalur prestasi SNBP ini memiliki cita-cita besar. Ia bertekad melanjutkan pendidikan hingga jenjang S3 untuk menjadi seorang peneliti. Saat ini, Sabrina juga tengah dalam proses pengajuan beasiswa Talenta Indonesia untuk mendukung masa kuliahnya.

Keberhasilan Sabrina juga tidak terlepas dari peran aktif SMA Negeri 3 Malang. Guru Biologi sekaligus Pembina OSN SMA Negeri 3 Malang, Dwi Sulistiarini, M.Pd., menjelaskan bahwa olimpiade sains dan Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) telah menjadi program unggulan sekolah sejak tahun 2006.

Untuk menjaga konsistensi prestasi, pihak sekolah menerapkan sistem pembinaan yang terstruktur. SMAN 3 Malang menyediakan kelas khusus untuk siswa kelas 10 yang berminat pada olimpiade.

“Tujuannya bukan untuk membedakan siswa, melainkan untuk memudahkan koordinasi dan pengondisian kelas, terutama menjelang kompetisi seperti OSK, OSP, dan OSN,” jelas Dwi.

Sekolah memfasilitasi pembinaan rutin satu hingga dua kali seminggu. Menjelang kompetisi, sekolah mengadakan pembinaan intensif dengan mendatangkan tutor luar, yang diutamakan berasal dari alumni peraih medali atau minimal pernah mengikuti pelatnas.

Khusus untuk bidang biologi di tingkat nasional, sekolah berkoordinasi dengan Tim Olimpiade Biologi Indonesia (TOBI) untuk mengirimkan siswa mengikuti pelatihan pra-OSN di Bandung. Selain itu, sekolah juga memfasilitasi penggunaan laboratorium dan alat-alat praktikum sesuai dengan silabus OSN.

“Support sekolah sangat besar dalam membimbing dan mengarahkan. Anak yang pintar dan mendapat dukungan orang tua sekalipun, tetap membutuhkan arahan dari guru pembimbing terkait tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk meraih prestasi,” pungkas Dwi. (NP/ FAS)

Reporter: Nugraha Perdana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *