MALANG, BERITAKATA.id – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang terus berupaya menekan volume sampah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang. Berdasarkan arahan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), DLH menargetkan sampah yang masuk di TPA maksimal hanya 35 persen dari total produksi sampah harian Kota Malang.
Plt Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, menyampaikan bahwa saat ini produksi sampah di Kota Malang mencapai rata-rata 787 ton per hari. Dari jumlah tersebut, lebih dari separuhnya masih berujung di TPA.
“Sesuai dengan arahan dari Kementerian Lingkungan Hidup, harapannya jumlah tonase sampah yang masuk ke TPA berada di angka 35 persen. Tetapi Kota Malang sampai hari ini masih di atas 50 persen, kurang lebih sekitar 60 persen (atau sekitar 500 ton per hari) yang masuk di TPA Supit Urang,” ujar Raymond, Selasa (22/9/2026).
Untuk mencapai target penurunan tersebut, DLH Kota Malang menggencarkan pengolahan sampah dari hulu. Langkah yang dilakukan adalah memaksimalkan peran bank sampah, Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R), Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), hingga pihak swasta.
Saat ini, terdapat 370 bank sampah aktif di Kota Malang yang mampu mengolah sekitar 14 ton sampah. Selain itu, beroperasi 1 TPST dan 5 TPS 3R yang masing-masing fasilitasnya mampu mengolah rata-rata 50 ton sampah per hari. Upaya ini juga dibantu oleh transporter swasta yang menangani kurang lebih 180 ton sampah per harinya.
Terkait penerapan teknologi pengolahan, Pemkot Malang dipastikan tidak menggunakan teknologi insinerator. Keputusan ini diambil berdasarkan rekomendasi KLH karena asap pembakaran insinerator dinilai berbahaya.
“Sementara ini, ada informasi dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk tidak menggunakan insinerator karena mengandung dioksin furan yang melebihi ambang batas. Jadi kita tidak menggunakan insinerator,” tegas Raymond.
DLH memfokuskan pengolahan sampah menggunakan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF), bioplav, dan pirolisis. Teknologi pirolisis sudah mulai berjalan di dua lokasi, yakni di TPA Supit Urang dan TPS 3R Buring.
Menurutnya, teknologi pirolisis efektif mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar bernilai ekonomis.
“Khusus untuk pirolisis dari sampah plastik, itu bisa menghasilkan solar petasol dengan kualitas setara Pertadex. Saat ini, setiap 100 kilogram sampah plastik dapat menghasilkan 65 liter solar petasol,” paparnya.
Ke depan, untuk mempercepat pencapaian target 35 persen, DLH Kota Malang juga akan memanfaatkan dana bantuan dari pemerintah pusat. Anggaran dari program Local Service Delivery Improvement Project (LSDP) tersebut akan sepenuhnya dialokasikan untuk pengembangan teknologi RDF.
“Harapannya minimal ada 150 ton sampah yang terkelola. Setelah dikurangi 150 ton, yang masuk ke sanitary landfill TPA Supit Urang hanya tersisa sekitar 300-an ton,” pungkasnya. (NP/ FAS)
Reporter: Nugraha Perdana












