MALANG, BERITAKATA.id – Dugaan melemahnya kondisi perekonomian nasional akhir-akhir ini berpotensi terhadap terganggunya kesehatan mental masyarakat. Indonesia Sehat Jiwa, sebuah organisasi non-profit di bawah naungan yayasan sosial yang berpusat di Kota Malang, Jawa Timur mencatat adanya lonjakan keluhan kecemasan hingga potensi depresi sebesar dua kali lipat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Berdasarkan data organisasi yang memiliki misi mensejahterakan kesehatan mental Indonesia melalui program integrasi psikososial ini, 90 persen dari total keluhan yang masuk dipicu oleh persoalan ekonomi. Peningkatan kasus dengan konsultasi ini secara drastis didominasi oleh kelompok laki-laki.
Ketua Indonesia Sehat Jiwa, Sofia Ambarini, membenarkan fenomena tersebut. Ia menyebut bahwa kesulitan finansial dan hilangnya mata pencaharian menjadi faktor penekan paling dominan bagi para kepala keluarga.
“Banyak yang mengunjungi hotline kami itu kebanyakan memang masalah ekonomi, dan meningkat ke bapak-bapak. Pada saat ekonomi yang sekarang ini, tidak bisa dipungkiri banyaknya terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), banyak yang terjepit, terjerat pinjaman online (pinjol), dan berbagai macam masalah ekonomi lainnya,” ujar Sofia di Kota Malang, Selasa (21/7/2026).
Menyikapi hal tersebut, Indonesia Sehat Jiwa menggencarkan kampanye bertajuk Laki-Laki Harus Bercerita untuk meruntuhkan stigma bahwa laki-laki tidak boleh mengeluh. Melalui program ini, yayasan kini melayani hingga 50 orang klien yang berkonsultasi setiap harinya dari berbagai wilayah di Indonesia.
Sebagian besar klien laki-laki memendam kekhawatiran dan tekanan psikologis berat akibat merasa tidak mampu menafkahi keluarga pasca terkena PHK, belum mendapat penghasilan baru yang layak, hingga menghadapi ancaman perceraian dari pihak istri.
Sofia menegaskan bahwa tingginya angka kasus saat ini murni berakar dari masalah sosial, bukan karena riwayat gangguan mental klinis bawaan klien.
“Depresi di kita itu yang meningkat bukan karena dia memiliki masalah mental, tapi lebih karena masalah sosial. Karena memang tidak memiliki income, tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki uang,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa krisis kesehatan mental ini merupakan persoalan struktural yang erat kaitannya dengan peran negara. Sofia menilai masyarakat saat ini diliputi perasaan waswas karena kehilangan rasa aman terhadap jaminan masa depan.
Ia juga menyinggung adanya keluhan masyarakat terkait kebijakan-kebijakan pemerintah yang dirasa kurang berpihak pada rakyat, hingga memunculkan sentimen seolah menjadi warga negara saat ini adalah sebuah cobaan.
“Masalah mental itu sebetulnya bukan hanya masalah individual, tapi juga suatu masalah dari negara dan pemerintah. Masalah-masalah yang berakar ini banyak yang belum terpecahkan. Saya harapkan pemerintah bisa melakukan hal yang lebih baik lagi bagi para warga negaranya,” tegas Sofia.
Lonjakan jumlah klien yang mencari pertolongan ini membuat tim Indonesia Sehat Jiwa harus bekerja ekstra keras. Meski didukung oleh relawan dan tenaga ahli multidisipliner dengan penyiagaan hingga delapan orang setiap shift, pihak yayasan mengaku mulai kewalahan menghadapi tingginya intensitas keluhan.
Sofia menyadari bahwa yayasannya tidak memiliki kapasitas untuk mengentaskan akar masalah klien, yakni terutama memberikan pekerjaan baru. Fokus utama lembaga saat ini adalah melakukan pendampingan psikis agar masyarakat tidak mengambil jalan pintas yang merugikan.
“Kita hanya bisa mendampingi. Mereka sebetulnya hanya membutuhkan pekerjaan, sementara kita tidak bisa memberikan pekerjaan kepada mereka. Tetapi minimal, kita membesarkan hati mereka untuk tidak putus harapan dan bisa tetap tabah dalam menjalani apapun kehidupannya,” pungkasnya. (NP/ FAS)
Reporter: Nugraha Perdana












