MALANG, BERITAKATA.id – Tingkat kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan di Kota Malang, Jawa Timur, mengalami peningkatan signifikan selama periode libur sekolah saat ini. Peningkatan tersebut membuat situasi akhir pekan menjadi jauh lebih padat dibandingkan dengan akhir pekan pada hari-hari biasa.
Salah satu lonjakan pengunjung ini terpantau di Mal Malang Town Square atau Matos. Peningkatan jumlah pengunjung terlihat berpusat di sejumlah area hiburan dan kuliner, serta didominasi oleh kalangan keluarga yang menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka. Beberapa di antara pengunjung juga tampak memanfaatkan waktu untuk bersantai di area roof top pusat perbelanjaan tersebut.
Regional Mall Director Lippo Malls Jawa Timur, Fifi Trijanti mengonfirmasi tingginya angka kunjungan tersebut. Berdasarkan pantauannya, tren peningkatan mulai terjadi sejak hari pertama libur sekolah di berbagai lokasi.
“Sejak liburan sekolah, naik drastis, iya. Di Sidoarjo, di Batu semua, naik semua. Naik 25 persenlah, nah, saya tiap hari lihat trafik, uh, naik,” ujar Fifi pada Sabtu (4/7/2026).
Ia memaparkan bahwa pada hari-hari biasa, rata-rata jumlah pengunjung berada di kisaran 18 ribu orang. Namun, angka tersebut melonjak tajam pada masa liburan saat ini.
“Kalau biasanya hari biasa kan 18 ribuan (orang) ya, kemarin bisa 25 (ribuan) kayak weekend. Kalau pas liburan sekolah bisa 30-ribuan ya, iya 30-ribuan,” paparnya.
Menurut Fifi, konsentrasi keramaian paling tinggi berada di area bermain anak dan pusat kuliner. Hal ini sejalan dengan banyaknya kelompok keluarga dan anak muda yang datang berkunjung.
“Yang pasti food court full terus, ya, terus tempat mainan tuh penuh terus. Waduh, iya meningkat. Bisa lihat sendiri ya,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa demografi pengunjung sangat beragam, mulai dari mahasiswa, keluarga muda, hingga kelompok usia lanjut.
“Banyak anak-anak muda sih, jadi mahasiswa banyak, keluarga muda banyak. Tapi, yang family yang agak senior-senior tuh masih ada karena mereka mau belanja ke supermarket. Lagian banyak oma-oma itu anter anaknya mainan. Terus di sini tuh makanannya macam-macam, lebih dari 100 macam, itu pilihan,” kata Fifi.
Meski tingkat kunjungan terbilang tinggi, daya beli masyarakat untuk barang-barang umum terpantau cenderung tertahan, kecuali untuk produk kebutuhan sekolah. Masyarakat lebih selektif dalam mengeluarkan uang dan mengutamakan barang yang benar-benar dibutuhkan.
“Memang agak kurang, ya. Tapi terakhir ini orang tetap belanja, tapi ya milih yang sesuai kantong. Jadi sebenarnya mereka itu bukan enggak ada uang, ya, tapi ngerem untuk sesuatu yang belum terlalu diperlukan,” ungkap Fifi terkait daya beli pengunjung.
Tingginya antusiasme belanja hanya terlihat secara spesifik pada toko-toko yang menjual perlengkapan pendidikan.
“Iya, kan mereka beli yang pas untuk sekolah. Di sini kan banyak ya, toko buku juga masih senang di sini,” tutupnya.












