MALANG, BERITAKATA.id – Produksi layangan jenis Sukhoi dari Kota Malang, Jawa Timur berhasil menembus pasar internasional. Kerajinan lokal ini tercatat rutin dikirim untuk memenuhi permintaan pehobi layangan di berbagai negara, termasuk Prancis dan Malaysia.
Pemilik usaha Ahoed DC Malang, Lucky Maulana, mengatakan bahwa kualitas layangan buatan Malang menjadi faktor utama produk ini mampu bersaing dengan daerah produsen lain seperti Bandung dan Pasuruan. Menurutnya, Malang juga dikenal sebagai pionir layangan Sukhoi di Indonesia.
“Malang ini dari dulu terkenal dengan layangan Sukhoi. Sampai sekarang masih dikenal ke mancanegara. Kami pernah kirim ke Prancis dan Malaysia,” ujar Lucky pada Rabu (10/6/2026).
Volume pengiriman ke luar negeri tercatat dalam jumlah besar. Untuk pasar Eropa, produk yang dikirim adalah layangan dengan rentang harga Rp5.000 hingga Rp10.000 per unit.
“Kalau ke Prancis sekali kirim bisa 3.000 sampai 5.000 layangan,” ungkap Lucky.
Usaha kerajinan layangan yang dijalankan keluarga Lucky ini telah berdiri sejak tahun 1960. Saat ini, sistem penjualan daring membantu memperluas jangkauan pasar domestik, khususnya untuk layangan spesifikasi turnamen yang banyak diminati pembeli dari luar Pulau Jawa.
“Kalau untuk kelas turnamen, pembeli justru lebih banyak dari luar Jawa. Pernah ada pemesanan online sampai Rp30 juta sampai Rp50 juta,” katanya.
Terkait tren penjualan, Lucky menjelaskan bahwa bisnis layangan memiliki siklus musiman. Permintaan pasar akan mengalami lonjakan signifikan mulai masa libur sekolah di bulan Juni hingga menjelang datangnya musim penghujan.
“Layangan memang musiman. Biasanya mulai ramai bulan Juni sampai menjelang musim hujan. Kalau sudah musim, turnamen ada terus hampir setiap minggu,” tuturnya.
Tingginya minat terhadap layangan juga didukung oleh besarnya komunitas pehobi di wilayah Malang, seperti di Sawojajar, Gadang, Kepuh, hingga Malang Selatan. Dalam satu pekan, komunitas-komunitas ini dapat menyelenggarakan lima hingga enam turnamen.
“Kalau pemain layangan di Kota Malang jumlahnya ribuan. Lomba satu hari saja pasti penuh peserta. Tiap minggu selalu ada turnamen,” jelas Lucky.
Meski peminatnya tinggi, para pemain layangan menghadapi kendala berupa penyusutan lahan terbuka hijau akibat alih fungsi lahan dan pembangunan perumahan. Lucky meminta adanya perhatian dari pemerintah daerah terkait penyediaan ruang publik.
“Harapannya ada lahan khusus untuk bermain layangan, terutama bagi anak-anak. Sekarang lahan semakin berkurang karena pembangunan terus berjalan,” tutupnya. (NP/ FAS)
Reporter: Nugraha Perdana












