Cegah Kerusakan Pondasi, UPT PJJ Malang Bersih-bersih Timbunan Sampah di Bawah Jembatan Kalisari Pakis

Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Jalan dan Jembatan (PJJ) Malang Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Provinsi Jawa Timur melaksanakan pembersihan material sampah di bawah Jembatan Kalisari, Jalan Raya Wendi Barat, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, pada Senin (25/5/2026).

MALANG, BERITAKATA.id – Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Jalan dan Jembatan (PJJ) Malang Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Provinsi Jawa Timur melaksanakan pembersihan material sampah di bawah Jembatan Kalisari, Jalan Raya Wendit Barat, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, pada Senin (25/5/2026). Langkah ini diambil guna menjaga keandalan aset jembatan dari risiko kerusakan struktur akibat pengikisan pondasi atau scouring.

Dalam pelaksanaan di lapangan, UPT PJJ Malang Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa Timur menerjunkan sebanyak 12 personel. Penanganan ini dilakukan secara bersinergi dengan melibatkan bantuan 8 personel dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas serta sejumlah relawan dari Desa Tangguh Bencana (Destana) Mangliawan.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Wilayah II UPT PJJ Malang, Nina Pudji Lestari, menjelaskan bahwa kolaborasi dengan para relawan lokal merupakan bagian penting dari upaya mitigasi bencana yang berbasis masyarakat dari tingkat desa.

“Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk mitigasi bencana. Fokus utamanya adalah melindungi infrastruktur jembatan dari risiko kerusakan akibat fenomena scouring atau pengikisan dasar sungai oleh aliran air,” kata Nina, Senin (25/5/2026).

Nina memaparkan lebih lanjut mengenai dampak teknis apabila tumpukan sampah di sekitar pilar jembatan dibiarkan berlarut-larut. Tumpukan material tersebut berpotensi besar membelokkan arus sungai dan menciptakan aliran liar yang mengancam struktur bawah jembatan.

“Penumpukan material atau timbunan pada pilar dapat mengubah arah aliran air. Aliran air yang tidak lagi lurus tersebut akan mencari jalur baru, sehingga memicu pengikisan (scouring) di sisi abutment (kepala jembatan). Kondisi ini dinilai dapat membahayakan stabilitas struktur jembatan,” papar Nina.

Ia menambahkan bahwa scouring yang dimaksud merujuk pada proses tergerusnya pondasi jembatan serta sayap-sayap jembatan. Oleh karena itu, pembersihan rutin menjadi agenda wajib untuk mengamankan bangunan jembatan dari daya rusak aliran air yang menyimpang.

“Upaya pencegahan dilakukan dengan rutin membersihkan sampah di bawah jembatan, khususnya pada bagian pilar yang berpotensi menghambat aliran air. Langkah ini diambil demi memastikan keamanan jembatan dari arus air yang tidak terkendali serta dampak buruk luapan sampah terhadap struktur bangunan,” tegasnya.

Pembersihan di Jembatan Kalisari ini sebagai titik pertama yang dikerjakan oleh UPT PJJ Malang pada tahun 2026. Kegiatan pemeliharaan tersebut dijadwalkan secara rutin setiap tahun dengan memanfaatkan momentum memasuki musim kemarau.

Secara keseluruhan, terdapat 15 jembatan yang menjadi sasaran pemeliharaan tahun ini, meliputi 13 jembatan di wilayah Kabupaten Malang dan 2 jembatan di wilayah Kota Malang. Rangkaian program pembersihan ini ditargetkan rampung pada bulan Juni 2026 depan, dengan estimasi waktu penanganan sekitar 2 hingga 3 hari untuk setiap jembatan. Jembatan Suhat di Kota Malang ditargetkan menjadi titik lokasi terakhir dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.

Berdasarkan data di lapangan, Jembatan Kalisari memiliki akumulasi timbunan sampah paling besar dibandingkan titik-titik jembatan lainnya. Volume sampah didominasi oleh material kiriman dari kawasan hulu seperti Singosari dan Lawang yang berupa ranting pohon, batang pohon, serta akumulasi sedimen endapan sungai.

Menurut Nina, kondisi serupa berupa pembersihan rutin juga diberlakukan di jembatan wilayah lain di luar Malang. Kendati demikian, karakteristik tantangan di setiap lokasi jembatan berbeda-beda, terutama terkait dengan volume dan jenis material yang menyumbat aliran air.

“Volume sampah di lokasi lain tidak sebanyak di titik tersebut. Kendati demikian, keberadaan tanaman liar di sekitar jembatan juga menjadi perhatian serius dan harus segera dibersihkan. Area jembatan harus steril dari vegetasi liar yang berpotensi mengganggu atau merusak struktur bangunan, termasuk tanaman yang mulai tumbuh di bagian atas jembatan,” kata Nina.

Proses evakuasi material sampah di Jembatan Kalisari mengandalkan sejumlah peralatan mekanis dan alat berat. Peralatan yang dikerahkan meliputi gergaji mesin untuk memotong batang pohon, 2 unit alat berat, serta 1 unit alat bantu berupa crane yang dilengkapi dengan sling dan katrol. Seluruh material sampah yang berhasil diangkat kemudian diangkut menggunakan dump truck.

Nina tidak menampik bahwa karakteristik konstruksi jembatan dan medan geografis sungai menghadirkan tantangan tersendiri bagi tim di lapangan. Diantaranya, pengaturan lalu lintas dan aksesibilitas menuju dasar aliran sungai.

Guna mengatasi kendala kelancaran arus lalu lintas di atas jembatan selama operasional alat berat berlangsung, pihak UPT PJJ Malang juga telah melakukan koordinasi intensif dengan aparat kepolisian lalu lintas wilayah setempat untuk melaksanakan pengaturan jalur di lokasi kegiatan.

“Tantangan dalam melaksanakan kegiatan pembersihan jembatan menghadapi kendala teknis, terutama terkait regulasi larangan kendaraan berhenti di atas jembatan. Kondisi tersebut memaksa petugas memberlakukan sistem contraflow untuk mengurai kepadatan lalu lintas. Hambatan lain yang dihadapi adalah topografi sungai yang curam, sehingga menyulitkan akses petugas menuju area bawah jembatan,” ungkap Nina. (NP/ FAS)

Reporter: Nugraha Perdana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *