Sempat Terlilit Biaya Puluhan Juta, Kini Pasien Bayi di RSU M. Noer Dapat Jaminan Biaya dari Pemprov Jatim

Ini keterangan fotonya: Ketua Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP) saat Melakukan Pengkawalan Pertama Kali

PAMEKASAN, BERITAKATA.id – Perjalanan panjang penuh ketidakpastian yang dialami keluarga Ach. Ahmadi, warga Desa Bangsereh, Kecamatan Batumarmar, akhirnya mulai menemukan titik terang setelah berbagai upaya dilakukan untuk menyelamatkan sang buah hati, Jumat, 3/4/2026.

Bayi mereka, Muhammad Arkhana Dzikrullah, harus menjalani perawatan serius sejak usia belum genap dua bulan akibat infeksi paru berat. Kondisinya sempat mengkhawatirkan hingga harus dirawat intensif di ruang ICU RSU Mohammad Noer.

Sejak awal masuk rumah sakit pada 23 Maret 2026, keluarga dihadapkan pada situasi sulit. Selain fokus pada keselamatan sang bayi, mereka juga harus memikirkan pembiayaan medis yang terus membengkak.

Selama masa perawatan, Arkhana menghabiskan sekitar 10 hari di ICU sebelum akhirnya menunjukkan perkembangan positif. Kini, ia telah dipindahkan ke ruang rawat inap Edelweis 3A dan kondisinya berangsur membaik.

Namun, proses pemulihan tersebut berjalan beriringan dengan tekanan ekonomi yang berat. Total biaya pengobatan yang muncul mencapai sekitar Rp33,7 juta, angka yang jauh di luar kemampuan Ahmadi yang bekerja sebagai buruh serabutan.

Kondisi ini semakin rumit karena meskipun masuk dalam kategori keluarga kurang mampu (desil empat DTSEN), mereka belum tercatat sebagai penerima bantuan iuran daerah BPJS Kesehatan.

Upaya untuk mengaktifkan kepesertaan BPJS sebenarnya telah dilakukan. Akan tetapi, proses administrasi yang membutuhkan waktu hingga dua pekan menjadi kendala, sementara kebutuhan pembayaran dari pihak rumah sakit bersifat mendesak.

Dalam situasi terdesak itu, keluarga sempat tidak memiliki pilihan selain menjalani perawatan melalui jalur umum, sembari terus mencari solusi agar biaya dapat tertangani.
Perkembangan kemudian terjadi setelah adanya perhatian dan koordinasi lintas instansi. Dinas Kesehatan Pamekasan bersama pihak rumah sakit, pemerintah provinsi, serta instansi terkait lainnya melakukan pembahasan untuk mencari jalan keluar terbaik.

Kepala Dinas Kesehatan Pamekasan, Saifudin, menyampaikan bahwa proses penanganan pembiayaan kini telah memasuki tahap akhir.

“Prosesnya sedang dibahas dan mendekati tuntas,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa sejak beberapa hari setelah pasien dirawat, pihak keluarga sebenarnya telah diingatkan untuk segera melengkapi dokumen yang dibutuhkan guna mengakses bantuan layanan kesehatan.

Koordinasi yang melibatkan berbagai pihak tersebut akhirnya menghasilkan kesepakatan. Biaya perawatan Arkhana akan difasilitasi melalui program bantuan kesehatan masyarakat miskin (Beakesmaskin) dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

“Semua pihak sudah sepakat untuk melengkapi berkas agar klaim bisa diproses,” tambahnya.

Di sisi lain, Ahmadi mengaku lega melihat kondisi anaknya yang mulai membaik sekaligus adanya kejelasan terkait pembiayaan.

“Alhamdulillah sudah dipindah dari ICU ke ruang rawat inap,” ucapnya.

Kasus ini menjadi gambaran bagaimana perjuangan keluarga kecil menghadapi kondisi darurat medis tidak hanya soal kesehatan, tetapi juga berkaitan erat dengan akses jaminan sosial yang belum sepenuhnya terjangkau sejak awal.

ig/an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *