MALANG, BERITAKATA.id – Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan peninjauan langsung ke sejumlah titik produksi pangan di Kota Malang pada Rabu (4/3/2026). Langkah ini diambil guna memetakan ketersediaan stok serta mengantisipasi lonjakan harga komoditas pokok menjelang Hari Raya Idulfitri.

Rangkaian kegiatan diawali dengan High Level Meeting (HLM) untuk mendiskusikan kondisi terkini berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan hasil koordinasi rutin TPID. Usai pertemuan tersebut, rombongan bertolak menuju lahan cabai kelompok tani Sido Makmur di RW 5 Lesanpuro dan lokasi peternakan ayam pedaging kelompok tani Sadar Jaya di RW 5 Kedungkandang.
Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peninjauan ini merupakan upaya TPID untuk melihat kondisi di tingkat hulu (produsen). Menurutnya, Kota Malang memiliki potensi lahan pertanian yang cukup luas untuk menyangga kebutuhan pangan mandiri.
“Ini kegiatan rutin TPID. Sebelum kita meninjau potensi cabai dan ayam potong, kita melakukan high level meeting dulu untuk mendiskusikan kondisi saat ini berdasarkan data BPS dan hasil zoom TPID kemarin,” ujar Wahyu Hidayat pada Rabu (4/3/2026).
Ia menambahkan, bahwa fokus utama saat ini adalah komoditas cabai dan daging ayam yang mulai merangkak naik seiring tingginya permintaan menjelang Lebaran. Berdasarkan pantauan di lapangan, Kota Malang masih memiliki hamparan pertanian yang signifikan.
“Kota Malang ini walaupun kota, kita punya hamparan yang luas. Di Kedungkandang ini ada 40 hektare, kemudian di Merjosari-Lowokwaru itu ada 25 hektare. Sebetulnya dengan potensi ini, kita tidak perlu sulit mendapatkan stok cabai dan ayam pedaging,” lanjutnya.
Meskipun pasokan cabai dari luar daerah seperti Jawa Tengah dan Banyuwangi telah masuk ke Malang, Wahyu mengungkapkan bahwa hal tersebut belum mampu menekan harga di tingkat pasar secara signifikan.
Saat ini, terdapat selisih harga yang cukup tinggi antara harga di tingkat petani dan harga di pasar.
“Pasokan dari Jawa Tengah dan Banyuwangi sementara ini harganya masih tinggi, sehingga belum mempengaruhi atau mengendalikan harga cabai di pasar. Kemarin Kepala BI melihat di pasar harga masih di atas Rp100.000, padahal harga jual di sini (petani) masih Rp80.000,” ungkap Wahyu.
Menyikapi kondisi tersebut, Pemkot Malang bersama TPID tengah menyiapkan skenario intervensi. Salah satu instrumen yang disiapkan adalah pengaktifan kembali Warung Tekan Inflasi (WTI) yang didanai melalui Belanja Tidak Terduga (BTT).
Strategi yang akan dijalankan adalah dengan memangkas rantai distribusi sehingga masyarakat bisa mendapatkan harga yang sama dengan harga di tingkat hulu.
“Kita sudah siapkan BTT. Nanti kita beli, misalkan dari sini Rp80.000, kemudian kita jual lagi di pasar Rp80.000 juga. Tujuannya supaya pedagang yang menjual tinggi mau tidak mau akan mengikuti atau mendekati harga dari Warung Tekan Inflasi,” jelasnya.
Hingga saat ini, TPID terus melakukan pemetaan (mapping) terkait teknis pelaksanaan, apakah akan melalui Kerjasama Antar Daerah (KAD) atau optimalisasi potensi lokal yang ada. Setelah meninjau sektor hulu, Wali Kota bersama tim dijadwalkan akan segera meninjau kondisi hilir di pasar-pasar rakyat untuk memastikan instrumen kebijakan yang diambil tepat sasaran.












