MALANG, BERITAKATA.id – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada bulan Ramadan 2026 di Kota Malang, Jawa Timur terus berjalan. Di SMA Negeri 3 Malang, pendistribusian menu MBG disesuaikan menjadi makanan kering yang dapat dibawa pulang oleh siswa sebagai bekal berbuka puasa atau takjil.
Kepala SMAN 3 Malang, Dr. Sasongko, S.Pd., M.M., mengonfirmasi bahwa sekolahnya telah menerima penyaluran program tersebut. Total penerima di SMAN 3 Malang mencapai lebih dari seribu orang yang terdiri dari siswa, guru, dan tenaga kependidikan.
“Kami sudah mendapatkan, alhamdulillah. Ini sudah beberapa hari ini kita mendapatkan MBG untuk 1.060 siswa kami dan 98 guru dan tenaga kependidikan,” ujar Sasongko pada Kamis (26/2/2026).
Sasongko menjelaskan bahwa para siswa menyambut antusias program ini meskipun sedang menjalankan ibadah puasa. Menurutnya, paket makanan tersebut sangat bermanfaat untuk dibawa pulang.
“Alhamdulillah karena ini walaupun bulan puasa, kami mendapatkan dan saya melihat anak-anak cukup antusias, sehingga bisa menjadi bekal mereka nanti pulang, bisa untuk takjil mereka ketika buka puasa,” jelasnya.
Mengenai jenis makanan yang dibagikan selama Ramadan, pihak sekolah menerima paket berupa makanan tahan lama. Distribusi dilakukan setiap hari di lingkungan sekolah pada pagi hari.
“Ini menunya yang kering ya. Sementara yang kita dapat ada empat jenis makanan, terdiri dari kue yang awet, kemudian susu, dan ada buah. Buahnya bisa macam-macam, ada keju tadi juga. Kalau buah juga gantian. Kemarin jeruk, hari ini kita dapat pir, atau mungkin besok beda lagi,” papar Sasongko.
Terkait waktu pembagian paket MBG, Sasongko menyampaikan bahwa pihaknya menerima setiap hari dengan waktu tentatif.
“Ini beberapa hari ini kemarin jam 10-an, sekarang juga hampir jam 10-an itu mereka datang, kemudian kita distribusikan kepada anak-anak,” katanya.
Hingga saat ini, pihak sekolah memastikan tidak ada keluhan atau protes dari wali murid terkait pelaksanaan MBG. Sasongko justru mengapresiasi komunikasi terbuka dengan pihak penyelenggara terkait penyesuaian menu agar sesuai dengan selera siswa.
“Selama ini kok ndak ada (protes). Jadi yang kita lihat biasanya memang di awal-awal itu antusiasme yang sangat tinggi dari anak-anak. Enaknya bahwa dari pihak SPPG ada komunikasi intensif dengan kami, sehingga nanti untuk menu dan sebagainya kita bisa koordinasi lebih baik,” ungkapnya.
Sementara itu, Koordinator Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Kota Malang, Muhammad Atho’illah, menanggapi sorotan masyarakat di media sosial secara nasional mengenai porsi dan bentuk menu MBG Ramadan.
Ia menegaskan bahwa fokus utama program ini adalah pemenuhan Angka Kecukupan Gizi (AKG), bukan sekadar bentuk fisik atau kemasannya.
“Ya, kalau prinsipnya memang kalau di kami kan walaupun kemasan, walaupun kering, yang penting kan angka kecukupan gizinya terpenuhi. Ya, itu paling penting,” tegas Atho’illah.
Atho’illah merinci bahwa setiap paket makanan diawasi secara ketat oleh ahli atau pengawas gizi untuk memastikan kelengkapan nutrisinya.
“Mulai dari serat, protein nabati hewani, terus kalsium mungkin dari susu, terus juga dari karbonya. Semua harus diperhatikan oleh pengawas gizinya,” tambahnya.
Ia juga memberikan klarifikasi terkait isu harga paket MBG yang beredar di masyarakat, yang disebut-sebut berada di bawah Rp10.000 hingga Rp15.000 per porsi. Atho’illah menjelaskan bahwa pihaknya terkadang menerapkan sistem subsidi silang untuk menjaga kualitas dan standar nilai gizi setiap harinya.
“Kalau di kami biasanya memang ketika harganya nggak sampai Rp10.000 ya, itu nanti akan ada penyesuaian lagi di hari berikutnya. Biasanya kami subsidi silang,” pungkasnya. ig/nn












