PROBOLINGGO, BERITAKATA.id – Kondisi pasar tradisional Semampir, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo kian memprihatinkan. Aktivitas jual beli yang dulu ramai, terutama menjelang Ramadan dan Idul Fitri, kini justru terlihat lengang.
Sejumlah kios bahkan mulai tutup karena tidak mampu bertahan di tengah lesunya daya beli masyarakat dan gempuran penjualan online.
Wawan (45), pedagang kain asal Bandung yang kini menetap di Kraksaan, menjadi salah satu yang merasakan langsung dampak penurunan tersebut. Ia mengaku, sejak pandemi Covid-19, kondisi usahanya tidak pernah benar-benar pulih.
“Ada peningkatan tapi tidak seberapa kainannya. Kalau kemarin mati bisa dibilang mati. Setelah Covid, mati nggak mati, hidup nggak hidup,” ujar Wawan saat ditemui di kiosnya, Sabtu (21/2/2026).
Wawan mengatakan, beberapa hari bisa berlalu tanpa satu pun pembeli datang.
“Kadang lima hari nggak ada pelaris. Untuk makan juga sudah susah. Karcis banyak yang nunggak karena memang nggak laku,” keluhnya.
Yang lebih memprihatinkan, momen Ramadan yang dahulu menjadi harapan utama pedagang kain kini tak lagi mampu mendongkrak penjualan.
Biasanya, menjelang Idul Fitri, masyarakat berbondong-bondong membeli baju baru, kain, mukenah, hingga perlengkapan ibadah lainnya. Namun dalam tiga tahun terakhir, suasana tersebut tak lagi terasa.
“Kalau Ramadan kemarin, tiga kali Ramadan itu penjualan turun terus,” jelasnya.
Padahal, di masa ramai, omzet penjualan bisa mencapai Rp10 hingga Rp15 juta per bulan. Kini, angka tersebut sulit diraih.
“Omzet bulan kemarin mati juga. Hari ini saya cuma dapat Rp300 ribu dari jualan. Alhamdulillah ada jubah, rok, dan mukenah yang terjual,” tuturnya.
Wawan juga sempat mencoba peruntungan dengan berjualan secara online, namun belum membuahkan hasil. Ia mengaku kalah bersaing dengan pedagang lain yang lebih dulu terjun di platform digital.
“Pernah nyoba lewat online, tapi belum ada yang laku juga. Kalah sama pedagang lain. Saya kalah start juga sama yang sudah jalan duluan,” katanya.
Pantauan di lapangan menunjukkan, bukan hanya pedagang kain yang terdampak. Sejumlah kios di pasar mulai tutup, membuat suasana pasar semakin sepi dari hari ke hari.
Jika dulu Ramadan identik dengan lonjakan pembeli pakaian untuk Idul Fitri, kini pedagang justru lebih banyak menunggu tanpa kepastian.
Di tengah kondisi tersebut, Wawan tetap berusaha bertahan demi keluarganya. Dua anaknya telah lulus sekolah, sementara satu lainnya masih duduk di Madrasah Ibtidaiyah (MI).
Wawan berharap ada perhatian dan solusi konkret untuk menghidupkan kembali pasar tradisional serta membantu pedagang kecil agar mampu bersaing di tengah perubahan pola belanja masyarakat.
“Sekarang mau puasa ini sudah mendingan, sudah ada yang terjual. Tapi ya masih jauh dari cukup,” pungkasnya.
Fenomena pasar yang semakin sepi menjadi cerminan beratnya perjuangan pedagang kecil saat ini. Jika tidak ada upaya serius untuk membangkitkan ekonomi pasar tradisional, bukan tidak mungkin semakin banyak kios yang gulung tikar dan pedagang yang menjerit setiap tahunnya. ig/fat












