Pimpin Peringatan HUT ke-112, Wali Kota Malang Luncurkan Pakaian Khas dan Tegaskan Fokus Kesejahteraan Warga

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat pimpin upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang yang bertempat di halaman Balaikota Malang pada Rabu (1/4/2026).

MALANG, BERITAKATA.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang yang bertempat di halaman Balaikota Malang pada Rabu (1/4/2026). Momen bersejarah ini dipimpin langsung oleh Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, dan turut dihadiri oleh jajaran kepala daerah se-Malang Raya, yakni Bupati Malang dan Wali Kota Batu.

Kehadiran seluruh pimpinan daerah di Malang Raya tersebut dinilai sebagai bentuk sinergi dan apresiasi tinggi terhadap perjalanan panjang Kota Malang. Di usianya yang ke-112 tahun, Pemkot Malang memfokuskan komitmennya pada penyelesaian masalah masyarakat, peningkatan indikator ekonomi, serta pelestarian identitas budaya lokal.

Suasana upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang yang bertempat di halaman Balaikota Malang pada Rabu (1/4/2026).

Pada tahun ini, HUT ke-112 Kota Malang mengusung tema “Ngalam Melintas, Bergerak Tuntas, Mbois Berkelas”. Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menjelaskan bahwa tema tersebut merupakan penegasan semangat untuk menembus batasan inovasi, menyelesaikan program pembangunan, dan menjaga jati diri kota.

Terkait pekerjaan rumah (PR) dan prioritas ke depan, Wahyu menjabarkan makna tema tersebut secara lugas.

Sejumlah pejabat penting seperti Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin, Bupati Malang Sanusi, Wali Kota Batu Nurochman, Ketua DPRD Kota Malang Amithya Ratnanggani Sirraduhita dan lainnya menghadiri upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang yang bertempat di halaman Balaikota Malang pada Rabu (1/4/2026).

“Melintas ini berarti kita memang selama ini sudah ada histori yang harus dilalui. Melintas ini berarti kita tidak hanya pada satu tujuan, tetapi kita harus ada kolaborasi bersama,” jelas Wahyu pada Rabu (1/4/2026).

Ia juga menekankan pentingnya penyelesaian masalah secara nyata melalui kolaborasi bersama Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin. Penyelesaian masalah tersebut diwujudkan melalui lima program prioritas dan Dasa Bakti wilayah.

“Bergerak Tuntas ini kita menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang diharapkan oleh masyarakat Kota Malang segera selesai, dan kita mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikannya. Dan Berkelas ini menjadi karakter masyarakat Kota Malang yang keren, bertanggung jawab, berwibawa,” tambahnya.

Sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026, kondisi makro ekonomi Kota Malang menunjukkan tren yang sangat positif. Beberapa capaian utama meliputi:

  • Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yakni di angka 85,55 (Tertinggi kedua di Jawa Timur).
  • Angka kemiskinan turun menjadi 3,85 persen.
  • Tingkat pengangguran menurun ke angka 5,69 persen.
  • Pertumbuhan ekonomi meningkat menjadi 5,92 persen.

Kinerja positif tersebut berbanding lurus dengan berbagai penghargaan yang diraih Kota Malang. Di tingkat internasional, Kota Malang meraih Kota Kreatif Dunia UNESCO Bidang Media Arts, Clean Air for Big Cities Awards, dan Clean Tourist City Standard. Selain itu, tercatat 37 penghargaan tingkat nasional, 29 penghargaan tingkat provinsi, dan 2 penghargaan tingkat regional.

Meski panen penghargaan, Wahyu menegaskan bahwa fokus utama pemerintahannya bukanlah sekadar piala atau piagam.

“Kami bersyukur bahwa di hari ulang tahun yang ke-112 ini Pemerintah Kota Malang memang banyak menerima penghargaan. Tetapi sejatinya bukan penghargaan yang kami harapkan, melainkan bentuk pengabdian kepada masyarakat sebagai tanggung jawab kami untuk bisa menyejahterakan masyarakat. Jadi di salah satu sisi, akhirnya berbentuk penghargaan-penghargaan yang kami terima,”* tegasnya.

Selain capaian pemerintahan, momen HUT ke-112 ini juga menjadi ajang peluncuran pakaian khas Malangan. Pakaian ini dirancang dengan menggabungkan kearifan lokal, sejarah panjang kota, serta nuansa kolonial. Desainnya memasukkan unsur-unsur ikonik seperti Tugu Malang, bunga teratai, serta motif batik kawung dari biji kopi pecah.

Wahyu menjelaskan bahwa pakaian ini memiliki nilai filosofis tinggi karena mencerminkan perjalanan sejarah Kota Malang, mulai dari kepemimpinan wali kota pertama berkebangsaan Belanda hingga saat ini.

“Perpaduan antara kolonial dan tradisional ini di Kota Malang. Kita berbeda dengan Kabupaten Malang yang kulturnya memang kerajaan, atau Kota Batu yang lahir terakhir. Jadi ini kearifan lokalnya sangat tinggi karena berbasis budaya asli Kota Malang,” papar Wahyu.

Ke depannya, kostum khas ini akan digunakan sebagai identitas resmi pada acara-acara tertentu. Pada upacara peringatan hari ini pun, pakaian khas tersebut telah dikenakan oleh jajaran Pemkot Malang hingga jajaran pimpinan dan anggota DPRD Kota Malang. Kehadiran busana ini diharapkan semakin memperkuat citra Kota Malang sebagai kota warisan budaya (heritage) yang mbois dan berkelas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *