PROBOLINGGO, BERITAKATA.id – Pokmas Parcajeh Kelurahan Kedung Asem, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, Jawa Timur, menggelar kegiatan sosialisasi penurunan dan pencegahan stunting di balai kelurahan setempat, Kamis (20/6/2024).
Sosialiasi dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Pj Wali Kota Probolinggo, Nurkholis yang diwakili oleh Camat Wonoasih, Deus Nawandi, dan 50 warga setempat.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yaitu dr. Hengky Tri Cahyono Hasan dari Puskesmas Wonoasih yang membahas tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) terkait stunting, serta Yeni Megawati dari Promkes Puskesmas Wonoasih yang memberikan penjelasan tentang pencegahan stunting melalui pemberian ASI dan makanan bergizi.
Camat Wonoasih membuka kegiatan sosialisasi tersebut. Ia juga menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini.
"Saya menyambut baik terselenggaranya kegiatan sosialisasi penurunan dan pencegahan stunting ini. Hal ini merupakan bentuk keseriusan dan kepedulian pemerintah daerah terhadap penurunan dan pencegahan stunting, terutama di wilayah Kota Probolinggo," ujarnya.
Menurutnya, persoalan ini bukan hanya persoalan bangsa di masa sekarang saja, melainkan menyangkut masa depan anak-anak kita sebagai generasi penerus.
"Mereka lah masa depan kita. Bagaimana kita bisa mencapai visi Indonesia Emas tahun 2045 kalau modal dasarnya, yaitu anak-anak bangsa, mengalami stunting, terganggu perkembangan kognitif dan kesehatannya," tambahnya.
Ketua Pokmas Parcajeh, Achmad Sodik mengungkapkan bahwa ada sekitar 40 anak di Kelurahan Kedung Asem yang mengalami gizi buruk. Sebagian dari mereka ada yang stunting dan 10 anak berada pada risiko stunting.
"Tujuan digelarnya kegiatan ini adalah untuk menurunkan angka stunting dan mencegah lebih awal. Harapannya, data stunting dapat berkurang," kata Sodik.
Lurah Kedung Asem, Yudo Pratomo menyampaikan bahwa kondisi stunting di Kedung Asem mengalami penurunan sekitar 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Kami menggelar sosialisasi dan program berkolaborasi dengan beberapa pihak. Salah satu programnya adalah Parisanak (Pekarangan Pangan Lestari Sahabat Anak) yang mengajarkan anak-anak PAUD dan TK mengenal tanaman sayuran serta cara menanam dan mengkonsumsinya," terang Yudo.
Selain itu juga ada program Bos Dilan (Bansos Delivery Lansia) yang disalurkan untuk anak-anak stunting, yatim piatu, dan disabilitas.
Program ini dilaksanakan untuk langsung menyalurkan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.
Pihak kecamatan juga memiliki program pencegahan stunting melalui pemberian Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada balita.
Yudo juga mendukung zero ODF (Open Defecation Free) atau stop buang air besar sembarangan karena hal ini berhubungan dengan stunting jangka panjang.
Dengan kolaborasi dan langkah nyata yang dilakukan, diharapkan angka stunting di wilayah Kelurahan Kedung Asem dapat terus menurun, sehingga generasi masa depan Kota Probolinggo dapat tumbuh sehat dan cerdas tanpa mengalami permasalahan dalam tumbuh kembangnya.
Sementara, dalam materinya, Yeni mengatakan bahwa stunting ditandai dengan pertumbuhan anak yang terhambat sehingga tinggi badannya lebih pendek dibandingkan standar usianya, merupakan indikasi malnutrisi kronis yang terjadi sejak dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun.
"Untuk mencegah stunting, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi sangat dianjurkan karena ASI mengandung semua nutrisi penting yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh dan berkembang. Selain itu, setelah enam bulan, bayi perlu mendapatkan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang kaya nutrisi, khususnya protein, vitamin, dan mineral," katanya.
Pemantauan kesehatan ibu hamil juga menjadi faktor krusial. Ibu hamil harus mendapatkan nutrisi yang cukup dan melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin. Kebersihan dan sanitasi lingkungan, air, dan makanan juga harus dijaga untuk mencegah infeksi yang dapat mengganggu pertumbuhan anak. Di samping itu, jika diperlukan, pemberian suplemen zat besi, vitamin A, dan zat gizi lainnya harus diberikan sesuai dengan rekomendasi dokter.
Edukasi mengenai pentingnya gizi seimbang dan cara menyiapkan makanan sehat bagi anak-anak juga harus terus ditingkatkan kepada orang tua dan masyarakat.
Sementara itu, dr Hengky memaparkan, dalam penerapan PHBS di rumah, mencuci tangan dengan sabun merupakan kebiasaan yang harus dibiasakan, terutama sebelum makan, setelah buang air besar, dan setelah bermain di luar rumah untuk mencegah masuknya kuman dan bakteri penyebab penyakit. Mengonsumsi air bersih yang bebas kontaminasi juga sangat penting untuk menjaga kesehatan.
"Selain itu, penerapan pola makan gizi seimbang dalam keluarga juga sangat penting. Keluarga harus mengonsumsi berbagai jenis makanan yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Imunisasi anak juga harus dilakukan sesuai jadwal untuk mencegah penyakit yang dapat mengganggu pertumbuhannya. Olahraga teratur juga perlu dilakukan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang optimal," tandasnya. ig/fat/fa












