Puluhan Istri Karyawan PE-POMI Dilatih Bikin Eco-Enzyme

PROBOLINGGO, BERITAKATA.id – PT PE-POMI  PLTU Paiton memberdayakan perempuan melalui Paguyuban Istri Karyawan POMI (PIPMI), dengan memberikan pelatihan pembuatan Eco-Enzyme dari sampah organik yang berasal dari rumah tangga, Kamis (1/2/2024).

Kegiatan ini diikuti oleh 80 orang yang tergabung dalam PIPMI serta paguyuban istri karyawan dari PT lain di PLTU Paiton.

Ketua PIPMI, Esti Kurnia Putri mengatakan, maksud dan tujuan kegiatan pelatihan tersebut adalah untuk meminimalisir waste emission dengan Eco-Enzyme karena menurut pihaknya, yang paling bisa dilakukan oleh paguyuban adalah mengelola sampah rumah tangga.

“Selain itu, sampah yang dihasilkan dari rumah tangga juga cukup banyak, sehingga, kami bisa memanfaatkan sampah organik itu.  Sebelum adanya pelatihan Eco-Enzyme biasanya dibuang begitu saja, dengan adanya pengetahuan baru ini, kami bisa mengelolanya,” ujar Diki, sapaannya.

Adapun tema kegiatan yang diusung adalah “Pengelolaan Sampah dalam Mendukung Zero Waste Emition Eco-Enzyme Bersama PIPMi”.  Alasannya, kegiatan ini digelar juga untuk memperingati Hari Sejuta Pohon di bulan Januari lalu serta Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) di bulan Februari.

Employee Relation PT PE-POMI, Mardi Wibowo menjelaskan Eco-Enzyme merupakan pemanfaatan sampah organik yang berasal dari kulit sayur dan kulit buah yang dijadikan satu formula yang bermanfaat untuk berbagai macam hal.

“Di sini, PIPMI mengundang pakar aktivis Eco-Enzyme dari Malang, yaitu Munanto Haris. Mereka mengawali kegiatan dengan berkunjung ke tempat R3 (Reduce, recycle dan reuse). Di sana itu, mereka mempelajari pengolahan sampah organik seperti merubahnya menjadi Eco-Enzyme, pupuk kompos ataupun magot yang bisa digunakan untuk pakan ternak,” terang Mardi.

Mardi berharap, kegiatan ini bisa tersebar luas sebab sampah belum berhenti menjadi masalah. Menurutnya, jika sampah dibiarkan begitu saja bisa menyebabkan kotor dan menjadi sumber penyakit.

“Padahal kalau diolah dengan baik bisa memberikan banyak manfaat untuk lingkungan dan kesehatan juga,” terang Mardi.

Sementara itu, salah satu peserta pelatihan, Eka Neni mengaku sangat antusias dengan adanya kegiatan seperti ini.

“Saya jadi bisa mengenal macam-mcam pengolahan limbah, ternyata limbah organik bisa diolah dan memberikan banyak manfaat. Sebelumnya cuma dibuang begitu saja.  Saya harap, perusahaan bisa mengadakan kegiatan serupa yang lebih seru dan bermanfaat lagi,” tuturnya.

Cara Membuat Eco-Enzyme

Menurut pakar aktivis Eco-Enzyme Malang, Munanto Haris pembuatan Eco-Enzyme sangatlah mudah. Bahan yang digunakan pun mudah didapat.

Cara membuatnya yaitu dengan menggunakan rumus 1:3:10. Mencampurkan 1 molase/gula merah tebu, 3 bagian sampah organik dan 10 bagian air jernih. 

 “Contoh, kapasitas wadahnya  liter. Kita sediakan molase gula merahnya 60 gram, bahan organiknya 180 gram dab airnya 600 ml,” jelasnya.

Adapun bahan organiknya berupa sayuran, kulit buah-buahan seperti  kulit jeruk, buah naga dan pisang. Minimal lima macam bahan organik yang terdiri dari 60 persen kulit buah dan 40 persen sayuran.

Campuran tersebut didiamkan selama 3 bulan di wadah plastik kedap udara. Jika pH sudah dibawah 4,0 serta beraroma seperi tape, berarti eco enzim sudah siap dipanen. Sebelum digunakan, Eco-Enzyme disaring terlebih dahulu.

Adapun manfaatnya yakni untuk lingkungan hidup, pertanian (pestisida dan pupuk), peternakan (sanitasi dan PMK), perikanan (kualitas air), kesehatan (detox dan luka bakar) serta F2 (dijadikan bahan sabun dan shampoo).

“Tujuan pembuatan Eco-Enzyme ini kita menyelamatkan bumi dari limbah organik. Yang mana, menurut data, 70 persen itu terbuang ke pembuangan air sehingga menimbulkan gas metan yang bisa mengakibatkan ledakan,” tandasnya. ig/hul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *