Wabup: Makna Natal adalah Hidup Sederhana dalam Kedamaian 

PROBOLINGGO, BERITAKATA.id – Persekutuan Doa Aparatur Sipil Negara (PD ASN) Kabupaten Probolinggo mengundang para pendeta untuk menggelar perayaan Natal bersama dengan tema "Maka Pulanglah Mereka ke Negerinya Melalui Jalan Lain", di ruang pertemuan PRIC Mal Pelayanan Publik (MPP), Jumat (13/1/2023). 

Panitia Persekutuan Doa Aparatur Sipil Negara (PD ASN) Yulius Christian pada perayaan Natal bersama menyampaikan terselenggaranya kegiatan ini berasal dari ASN berakhlak, yaitu adanya kolaborasi sejumlah 82 ASN dengan kompak berupaya agar supaya kegiatan perayaan Natal bersama dapat terselenggara dan berjalan dengan baik dan lancar. 

"Kegiatan ini baru pertama kali dilaksanakan sepanjang sejarah di Kabupaten Probolinggo. Bagaimana kita bisa melakukan persekutuan doa  dan dan merayakan Natal bersama. Tidak lupa ungkapan terima kasih kami sampaikan kepada Wakil Bupati Probolinggo yang telah mendukung acara perayaan Natal bersama ini," ujarnya.

Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo Timbul Prihanjoko menjelaskan pada momentum peringatan serta perayaan Natal kali ini, mengingatkan kepada umat kristiani di Kabupaten Probolinggo bahwa makna hakiki dari Natal itu sendiri sebagai perwujudan hidup sederhana dalam kedamaian. Sehingga nantinya dapat tercipta rasa persatuan dan kesatuan. 

"Saya mengajak seluruh umat kristiani di Kabupaten Probolinggo menjadi agen pembawa kedamaian di manapun berada. Dan selalu berkarya bersama-sama dengan pemerintah yang tujuannya untuk mensejahterakan masyarakat. Menjaga keragaman suku dan agama serta mewujudkan rasa persaudaraan atas dasar kemanusiaan perlu kita tingkatkan," kata Wabup. 

Sedangkan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo Ahmad Sruji Bahtiar menyatakan semua manusia itu wajib dimuliakan apapun agama dan apapun keyakinannya. 

"Kami tegaskan bahwa Kementerian Agama itu adalah memberikan layanan kepada seluruh agama yang sah. Maka tentunya tidak akan melakukan perbedaan-perbedaan layanan," ujar Bahtiar. 

Menurut Bahtiar, semua sama di hadapan Tuhan dan tidak ada perbedaan. Oleh karena itu tidak boleh saling mencaci dan saling merendahkan, yang ada adalah saling memuliakan antara satu dengan yang lainnya. 

"Berbagai macam suku, agama dan budaya di Indonesia hingga saat ini saling memuliakan dan menghargai dan tetap bersatu demi terciptanya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," tukas Bahtiar. ig/fa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *