Raih Doktor Cumlaude, Busahwi Angkat Kajian Kiai Madura tentang Moderasi Pesantren ke Ruang Akademik

Busahwi Raih Doktor Cumlaude pada Ujian Promosi Doktor S3 PAI Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Rabu, (24/6/2026)

PAMEKASAN, BERITAKATA.id- Tradisi pesantren di Madura kembali menjadi perhatian dalam kajian pendidikan Islam melalui penelitian doktoral Busahwi. Ia mengangkat bagaimana peran kiai dalam membangun pemahaman moderasi beragama di lingkungan pesantren, sekaligus menunjukkan bahwa nilai-nilai keislaman dan keterbukaan sosial dapat berjalan beriringan dalam proses pendidikan, Rabu (24/6/2026).

Busahwi berhasil menyelesaikan Ujian Promosi Doktor Program Studi Pendidikan Agama Islam di Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dengan mempertahankan disertasi berjudul “Konstruksi Kiai Madura Tentang Pendidikan Moderasi Beragama di Pesantren (Studi Kasus di Pesantren Al-Hikam Bangkalan, Pesantren Assirojiyyah Kajuk Sampang, dan Pesantren Nurul Hikmah Blumbungan Pamekasan).”

Ujian promosi doktor Program Studi Pendidikan Agama Islam

Penelitian tersebut mengangkat posisi strategis kiai dalam membentuk karakter dan cara pandang keagamaan santri. Dalam kehidupan pesantren, kiai tidak hanya berperan sebagai pengajar ilmu agama, tetapi juga menjadi figur yang memberikan teladan dalam membangun sikap sosial, toleransi, serta penghargaan terhadap perbedaan.

Melalui kajiannya, Busahwi menemukan bahwa pendidikan moderasi beragama di pesantren Madura tumbuh dari tradisi yang telah lama berkembang. Moderasi tidak hanya diajarkan sebagai konsep, tetapi hadir melalui praktik keseharian santri, mulai dari proses pembelajaran, keteladanan kiai, hingga hubungan sosial di lingkungan pesantren.

Penelitian yang dilakukan pada tiga pesantren tersebut menunjukkan bahwa pemikiran para kiai Madura tentang moderasi beragama memiliki keterkaitan kuat dengan nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Nilai tersebut diwujudkan melalui sikap menjaga keseimbangan dalam beragama, menghormati keberagaman, serta menghindari pola keberagamaan yang berlebihan.

Menurut Busahwi, pesantren memiliki peran penting dalam melahirkan generasi muslim yang tidak hanya memiliki pemahaman agama yang kuat, tetapi juga mampu berinteraksi secara positif di tengah masyarakat yang beragam.

Kajian tersebut juga memperlihatkan bahwa pendidikan pesantren memiliki kekuatan tersendiri dalam membangun karakter santri. Melalui perpaduan antara tradisi keilmuan Islam dan realitas sosial, pesantren mampu menjadi ruang pembentukan generasi yang berwawasan keagamaan sekaligus memiliki kepedulian terhadap kehidupan kebangsaan.

Dalam ujian promosi doktor tersebut, Busahwi memperoleh nilai akhir 3,92 dengan predikat cumlaude. Capaian itu menjadi bagian dari kontribusinya dalam memperkaya kajian Pendidikan Agama Islam, khususnya terkait moderasi beragama dan peran pesantren dalam membangun karakter masyarakat.

Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi akademisi, pengelola pesantren, maupun praktisi pendidikan dalam mengembangkan model pendidikan Islam yang tetap berakar pada tradisi, namun mampu menjawab tantangan kehidupan modern.

Melalui disertasinya, Busahwi turut memperkuat pandangan bahwa pesantren bukan hanya lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga ruang penting dalam membentuk cara berpikir generasi muslim yang moderat, inklusif, dan berkarakter. ig/an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *