PROBOLINGGO, BERITAKATA.id – Isu kenaikan harga LPG non-subsidi kembali menjadi perhatian masyarakat, khususnya untuk tabung Bright Gas ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram, khususnya di Kabupaten Probolinggo.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Bidang LPG PSO Hiswana Migas Probolinggo Raya, Alif Maulana Makruf, memberikan penjelasan terkait mekanisme penyesuaian harga serta kondisi terkini di lapangan.
Alif menyampaikan bahwa kenaikan harga LPG non-subsidi tidak ditetapkan secara tetap, melainkan mengikuti fluktuasi harga energi dunia.
“Kenaikan mengikuti harga dunia untuk non-subsidi. Biasanya mengalami penyesuaian harga di pertengahan bulan,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Untuk wilayah Kabupaten Probolinggo, harga LPG Bright Gas bervariasi tergantung tempat pembelian. Saat ini, harga tabung 5,5 kilogram berkisar mulai dari Rp115 ribu, sedangkan tabung 12 kilogram mulai dari Rp235 ribu.
Ia menjelaskan, perbedaan harga juga terjadi antara agen dan pangkalan. Di tingkat agen, harga LPG 5,5 kilogram mulai dari Rp110 ribu dan 12 kilogram sekitar Rp233 ribu. Sementara di pangkalan, harga LPG 5,5 kilogram berada di kisaran Rp115 ribu dan 12 kilogram sekitar Rp240 ribu.
“Untuk harga di tingkat agen dan pangkalan memang berbeda, karena LPG non-subsidi tidak memiliki Harga Eceran Tertinggi (HET), sehingga masing-masing agen memiliki kebijakan sendiri dalam menentukan harga,” jelasnya.
Terkait tabung LPG, Alif memastikan bahwa harga tabung dari Pertamina tidak mengalami perubahan. Namun, di pasaran dimungkinkan terjadi sedikit penyesuaian harga tergantung kondisi distribusi dan permintaan.
Ia menegaskan bahwa kenaikan harga LPG non-subsidi dipicu oleh meningkatnya harga energi global.
“Kenaikan terjadi akibat harga dunia yang naik. Bright Gas ini non-subsidi, sama seperti Pertamax Turbo, jadi mengikuti harga minyak dunia,” tegasnya.
Meski demikian, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap LPG subsidi. Alif memastikan bahwa gas melon ukuran 3 kilogram tidak akan mengalami kenaikan harga.
“InsyaAllah barang subsidi tidak akan naik,” katanya.
Alif juga mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap harga yang terlalu murah di pasaran. Menurutnya, harga LPG non-subsidi yang jauh di bawah standar patut dicurigai.
“Biasanya toko mengikuti harga ritel modern seperti Indomaret atau sedikit di bawahnya. Kalau harga terlalu murah, kemungkinan besar itu oplosan,” pungkasnya. ig/fat












