PAMEKASAN, BERITAKATA.id – UIN Madura terus memperluas peran kampus sebagai ruang pertukaran gagasan keislaman yang terhubung dengan isu peradaban global. Memasuki satu dekade penyelenggaraan ICONIS, UIN Madura menghadirkan akademisi dari berbagai negara untuk membahas kembali warisan intelektual ulama Nusantara dan relevansinya terhadap persoalan kemanusiaan, keadilan, perdamaian hingga pembangunan berkelanjutan, Rabu (9/9/2026).
Gagasan tersebut menjadi fokus The 10th International Conference on Islamic Studies (ICONIS) yang digelar di Auditorium UIN Madura. Mengangkat tema “Tracing the Intellectual Legacy of Nusantara Ulama for Sustainable Civilization and Global Wisdom”, konferensi tahun ini sekaligus menjadi bagian dari peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari.
Bagi UIN Madura, ICONIS bukan sekadar agenda konferensi tahunan. Forum yang telah berlangsung selama 10 tahun tersebut menjadi salah satu ruang akademik kampus untuk mempertemukan pemikiran dari berbagai latar belakang sekaligus menghubungkan kajian Islam dengan dinamika sosial dan peradaban dunia.
Rektor UIN Madura, Dr. H. Saiful Hadi, M.Pd., mengatakan konsistensi penyelenggaraan ICONIS selama satu dekade menunjukkan upaya kampus dalam membangun ruang akademik yang terbuka terhadap perspektif internasional.
“ICONIS ini sudah berjalan selama 10 tahun dan sekarang memasuki penyelenggaraan yang ke-10. Kegiatan ini setiap tahun mendatangkan narasumber dari berbagai negara, dan peserta maupun pemakalahnya juga tidak hanya berasal dari Indonesia,” ujarnya.
Menurut Saiful, pemilihan warisan intelektual ulama Nusantara sebagai tema utama tidak dimaksudkan untuk berhenti pada pembacaan sejarah. UIN Madura ingin menggali kembali nilai-nilai yang diwariskan para ulama agar dapat didiskusikan dalam konteks kehidupan dan tantangan peradaban saat ini.
Momentum 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari kemudian menjadi pintu masuk untuk memperluas pembahasan tersebut. Meski berasal dari Makassar, perjalanan keilmuan dan perjuangan Syekh Yusuf melintasi sejumlah wilayah hingga Afrika Selatan, termasuk memiliki jejak historis di Madura.
“ICONIS memiliki cakupan internasional. Syekh Yusuf Al-Makassari bukan hanya tokoh lokal, tetapi seorang ulama dan pejuang yang kiprahnya melintasi berbagai wilayah hingga Afrika Selatan. Karena itu, sangat relevan untuk diangkat dalam sebuah konferensi internasional,” ungkapnya.
Saiful menilai nilai yang diperjuangkan ulama Nusantara masih memiliki ruang untuk dikaji dalam menghadapi persoalan kontemporer. Kemanusiaan, keadilan, kepedulian terhadap lingkungan dan perdamaian menjadi sejumlah nilai yang diangkat kembali dalam forum tersebut.
“Pemikiran ulama Nusantara tidak hanya layak dikenang, tetapi juga perlu dihidupkan kembali. Nilai-nilai perjuangan mereka tentang kemanusiaan, keadilan, lingkungan, dan perdamaian masih sangat relevan untuk kehidupan kita saat ini,” katanya.
Untuk memperluas perspektif, ICONIS ke-10 tidak membatasi pembahasan pada satu disiplin ilmu. Sejumlah isu seperti lingkungan, keadilan, perdamaian, kemanusiaan, ekonomi dan syariah menjadi bagian dari kajian yang dipresentasikan para pemakalah.
Langkah tersebut sejalan dengan upaya UIN Madura menempatkan kampus sebagai sumber gagasan yang dapat memberi kontribusi terhadap kehidupan masyarakat. Saiful berharap forum akademik yang digelar tidak berhenti pada diskusi, tetapi mampu melahirkan pemikiran yang dapat menginspirasi perubahan sosial dengan tetap berpijak pada nilai-nilai keagamaan.
“Kita ingin kampus ini menjadi sumber inspirasi untuk melakukan perubahan dan membangun tradisi yang lebih baik, sehingga mampu mengantarkan dinamika kehidupan dan peradaban sosial yang lebih berdampak dengan bingkai nilai-nilai ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Dari sisi partisipasi, penyelenggaraan ICONIS ke-10 juga menunjukkan jangkauan akademik yang semakin luas. Ketua Panitia ICONIS ke-10, Abd. Muni, M.H.I., mencatat sebanyak 262 naskah dari 10 negara masuk dalam proses seleksi.
Sebanyak 127 naskah kemudian dinyatakan lolos untuk mengikuti rangkaian konferensi. Sekitar 80 pemakalah akan mempresentasikan hasil kajiannya secara luring di UIN Madura, sedangkan pemakalah lainnya mengikuti sesi presentasi secara daring.
“Dari 127 naskah yang lolos, sekitar 80 pemakalah akan melakukan presentasi secara luring di UIN Madura, sedangkan sisanya mengikuti presentasi secara daring,” jelas Abd. Muni.
Naskah para pemakalah selanjutnya akan menjalani proses review untuk menentukan publikasinya melalui sejumlah kanal akademik, di antaranya Atlantis Press, jurnal internal dan prosiding ICONIS. Mekanisme tersebut menjadi bagian dari rangkaian akademik ICONIS setelah proses presentasi berlangsung.
Jumlah naskah tahun ini juga meningkat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Pada ICONIS tahun lalu, terdapat 165 naskah yang masuk dengan 80 di antaranya dinyatakan lolos.
“Alhamdulillah, tahun ini jumlah naskah meningkat cukup signifikan. Salah satunya karena publikasi yang kami lakukan lebih masif dan juga adanya kepercayaan dari para pemakalah terhadap ICONIS,” ujarnya.
Konsistensi selama satu dekade menjadi bagian dari perjalanan UIN Madura dalam menjaga keberlanjutan ICONIS sebagai ruang akademik internasional. Menurut Abd. Muni, kepercayaan tersebut juga berkaitan dengan komitmen panitia dalam mengakomodasi naskah, presentasi, hingga proses publikasi sesuai mekanisme yang telah ditetapkan.
Selain menghadirkan peserta dari berbagai negara, ICONIS ke-10 juga dibuka tanpa biaya pendaftaran. Kebijakan tersebut menjadi upaya UIN Madura memperluas akses terhadap forum akademik internasional sekaligus membuka kesempatan bagi lebih banyak akademisi untuk bertukar gagasan di lingkungan kampus.
“Konferensi internasional ini gratis dan tidak ada biaya yang dibebankan kepada peserta. Kepercayaan publik itu yang terus kami jaga,” pungkasnya. ig/an












