PROBOLINGGO, BERITAKATA.id — Kisah pilu yang sempat menghebohkan jagat maya, tentang pengusiran dan pengabaian seorang nenek renta, Ibu No Taji (76), oleh anak kandungnya, akhirnya menemukan titik terang.
Peristiwa yang mengundang simpati dan keprihatinan masyarakat ini tidak hanya menjadi pelajaran berharga, tetapi juga memunculkan rasa empati mendalam dari berbagai pihak.
Awalnya, video yang memperlihatkan seorang perempuan bernama Misrika (43) menghardik, memukul, dan mendorong ibunya hingga tergeletak di jalan desa di Desa Jambangan, Kecamatan Besuk, viral di media sosial. Kejadian memilukan itu memicu perhatian banyak kalangan, termasuk aparat kepolisian dan lembaga perlindungan sosial.
Tak ingin berlarut dalam keprihatinan, Kepolisian Resor Probolinggo langsung mengambil langkah cepat. Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Probolinggo mendatangi kediaman ketiga anak Ibu No Taji di Desa Besuk. Melalui mediasi yang hangat dan penuh keikhlasan, mereka berupaya menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.
Proses mediasi berlangsung penuh keharuan. Ketiga anak Ibu No Taji, Muhammad, Siti, dan Ahmad, serta menantu mereka, bersedia menjemput ibunya yang saat itu dirawat di Griya Lansia di Malang. Dengan difasilitasi aparat, mereka pun berangkat ke Malang untuk menyambut sang ibu, Kamis (31/7/2025).
Saat bertemu di Griya Lansia, suasana haru menyelimuti. Air mata tak terbendung saat mereka saling berpelukan dan saling memohon maaf. Ibu No Taji, yang sebelumnya viral karena kejadian menyedihkan itu, tampak menangis haru, namun penuh rasa rindu dan keinginan untuk kembali berkumpul dengan keluarga.
Dalam bahasa Madura yang penuh emosi, Ibu No Taji menyampaikan kerinduannya akan suasana keluarga. “Sayang banget saya, pengen pulang ke rumah, pengen kumpul lagi. Ayo cepat pulang nak,” ujarnya dengan penuh haru.
Muhammad, anak pertama, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada aparat dan seluruh pihak yang telah memediasi. Ia menegaskan, ketiga anaknya sepakat untuk merawat dan menjaga ibunya bersama-sama, demi kebahagiaan dan keutuhan keluarga.
Kepala Seksi Humas Polres Probolinggo, Iptu Merdhania Pravita Shanty, menyampaikan harapannya agar kejadian serupa tidak terulang lagi di masa mendatang. Ia berharap, keluarga tetap utuh dan saling memahami satu sama lain.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kasih sayang dan perhatian keluarga harus tetap terjaga. Kasus ini pun menjadi pelajaran penting bagi masyarakat, bahwa di balik peristiwa memilukan, ada harapan akan pemulihan dan cinta yang tak pernah pudar.
Kini, Ibu No Taji dan keluarganya kembali berkumpul di rumah di Probolinggo. Semoga kisah haru ini menjadi inspirasi dan pengingat bahwa cinta keluarga adalah kekuatan utama dalam menghadapi segala ujian kehidupan. ig/fa












