Religi  

Ketika Manusia Berusaha Menutup Rezekimu

Tenanglah. Manusia boleh berencana menutup pintu bumi, tetapi Allah memegang kunci seluruh pintu langit.

BERITAKATA.id – Dalam perjalanan hidup, kita sering kali dihadapkan pada ujian yang melibatkan hubungan antarmanusia.

Salah satu momen terberat adalah ketika kita merasa ada pihak atau orang lain yang dengan sengaja berusaha menutup jalan rezeki kita—baik dalam pekerjaan, bisnis, maupun karier.

Rasa kecewa, marah, dan cemas tentu manusiawi. Namun, sebagai seorang muslim, momen seperti ini justru menjadi ujian sejauh mana kita memahami hakikat tauhid dan konsep rezeki.

Jika ada pihak yang berusaha menutup rezekimu, itu adalah urusan mereka dengan dosa dan perilakunya.

Namun secara hakiki, segala hal yang terjadi di alam semesta ini tidak akan pernah lepas dari kehendak dan izin Allah SWT. Manusia hanyalah perantara atau wasilah, sedangkan penentu mutlak tetaplah Sang Maha Pencipta.

Manusia Hanya Wasilah, Allah Pemegang Kunci Rezeki
Kita perlu menanamkan keyakinan kuat bahwa manusia tidak memiliki daya untuk memberi manfaat atau mendatangkan mudarat tanpa izin Allah.

Ketika seseorang menutup satu pintu peluang kita, mereka hanyalah makhluk lemah yang digerakkan untuk menguji keimanan kita. Kunci pembuka dan penutup rezeki sepenuhnya ada di tangan Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam QS. Fatir ayat 2:
مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Ayat ini adalah jaminan mutlak. Jika Allah sudah berkehendak mengalirkan rezeki kepada kita, seluruh manusia di bumi bersatu untuk menghentikannya pun tidak akan pernah bisa. Begitu pula sebaliknya.

Rezeki Sudah Tertulis dan Tidak Akan Tertukar
Kecemasan kita terhadap usaha jahat orang lain sering kali muncul karena tipisnya rasa percaya pada ketetapan takdir (Qadha dan Qadar).

Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa porsi rezeki setiap manusia sudah dikunci sebelum kita dilahirkan dan tidak akan pernah berkurang atau tertukar.

Dalam sebuah hadis dari Ibnu Mas’ud RA, Rasulullah SAW bersabda mengenai penciptaan manusia di dalam rahim:
“… ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ …”

“…Kemudian diutuslah malaikat kepadanya, lalu ditiupkan ruh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menuliskan empat perkara: ditentukan rezekinya, ajalnya, amalnya, serta apakah ia celaka atau bahagia…” (HR. Bukhari & Muslim)

Karena rezeki itu sudah tertulis atas nama kita, maka rezeki tersebut akan mengejar kita ke mana pun kita pergi, lewat jalan yang sering kali tidak terduga.

Jaminan Perlindungan Allah dari Tipu Daya Makhluk
Pesan luar biasa mengenai kekuatan iman menghadapi makar manusia dirangkum indah oleh Rasulullah SAW saat memberikan nasihat kepada Ibnu Abbas RA. Hadis ini menjadi penenang paling ampuh saat kita merasa terzalimi oleh keputusan sepihak manusia.

Rasulullah SAW bersabda:
“… وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ”

“…Dan ketahuilah, sekiranya umat manusia bersatu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberikannya kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan sekiranya mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan mampu mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran catatan telah kering.” (HR. Tirmidzi, hadis hasan sahih)

Ketika disadari bahwa penutupan jalan tersebut adalah bagian dari skenario besar Allah untuk menguji kita, maka lelah kita bukan lagi memikirkan “siapa yang menjatuhkan kita”, melainkan bagaimana kita menjaga hati untuk tetap husnuzon (berprasangka baik) kepada Allah.

Sering kali, pintu yang ditutup manusia adalah cara Allah menyelamatkan kita dari lingkungan yang buruk, atau bentuk pengalihan menuju pintu rezeki lain yang jauh lebih berkah dan lebih besar.

Membalas keburukan dengan keburukan hanya akan mengotori rezeki yang akan datang. Serahkan urusan keadilan kepada Allah, karena Dia adalah sebaik-baik pembalas makar.

Tugas makhluk hanyalah bergerak (ikhtiar) dan mengetuk pintu langit (doa).

Tenanglah. Manusia boleh berencana menutup pintu bumi, tetapi Allah memegang kunci seluruh pintu langit.

Selama kita masih memiliki Allah, kita tidak akan pernah kehabisan jalan. Fokuslah memperbaiki hubungan dengan Sang Pemberi Rezeki (Al-Razzaq), maka Dia yang akan menggerakkan urusan makhluk-makhluk-Nya untuk tunduk pada keperluanmu. ig/fa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *