Antisipasi Lonjakan Sampah Pasar Takjil Jelang Ramadan, DLH Kota Batu Imbau Kurangi Kemasan Sekali Pakai

Kepala DLH Kota Batu, Dian Fachroni.

BATU, BERITAKATA.id – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu mulai memetakan potensi peningkatan volume sampah menjelang bulan suci Ramadan 2026. Keberadaan beberapa pasar takjil dadakan yang kerap muncul selama bulan puasa juga menjadi perhatian pemerintah daerah dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Kepala DLH Kota Batu, Dian Fachroni, mengatakan bahwa sebagai kota wisata, Kota Batu memang kerap menghadapi fluktuasi volume sampah, terutama saat libur panjang dan hari besar keagamaan.

“Di Kota Batu sendiri, karena menjadi kota wisata, tentunya volume sampah itu akan cenderung meningkat pada saat-saat akhir pekan, maupun pada saat-saat liburan panjang, termasuk libur Idul Fitri dan hari-hari besar keagamaan lainnya,” ujar Dian pada Jumat (13/2/2026).

Menyikapi fenomena pasar takjil, DLH Kota Batu menekankan pentingnya peran instalasi pengolahan sampah di tingkat desa dan kelurahan. Pihaknya memastikan seluruh fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) siap beroperasi maksimal.

“Terkait dengan fenomena pasar kaget, pasar takjil, atau apapun istilahnya nanti dan saat Ramadan, kami harus memastikan bahwa instalasi pengolahan sampah di pemukiman, terutama yang ada di TPS 3R seluruh desa/ kelurahan ini mampu untuk memproses ini lebih lanjut,” tegas Dian.

Selain mengandalkan TPS 3R, DLH juga menyiagakan personel tambahan untuk menangani sampah yang tidak terkelola di tingkat wilayah.

“Kami juga akan tetap mengantisipasi dengan tim kami, tim khusus yang kami siapkan, yang setiap akhir pekan atau libur panjang itu siap untuk mengolah sampah ini terkait dengan lonjakan-lonjakan yang ada,” tambahnya.

Berdasarkan perhitungan DLH, lonjakan sampah yang dihasilkan dari aktivitas pasar Ramadan diprediksi masih dalam batas wajar. Dian memperkirakan kenaikan volume tidak akan melebihi 10 persen dari total timbulan sampah harian.

“Dari proyeksi kami, untuk fenomena pasar Ramadan ini tidak lebih dari 10 persen lonjakan sampah,” jelasnya.

Secara spesifik, Dian menyebutkan bahwa tambahan volume sampah tersebut setara dengan kondisi saat akhir pekan biasa, yakni di kisaran 5 ton per hari.

“Biasanya kita ada tambahan kurang lebih sekitar 5 ton per harinya. Dan kalau di momen Ramadan, karena durasinya yang cukup panjang juga, kemungkinan kalau itu diakumulasikan selama satu minggu, itu ya kurang lebih sekitar 5 ton per hari. Sama dengan kalkulasi ketika saat akhir pekan,” papar Dian.

Ia menilai angka tersebut masih cukup normal dalam neraca pengelolaan sampah di Kota Batu.

“Kalkulasi ini sebenarnya setara, menyetarakan antara lonjakan timbulan sampah karena ada pasar-pasar Ramadan dengan total timbulan sampah pada saat akhir pekan di luar Ramadan,” imbuhnya.

Untuk menekan residu sampah, DLH Kota Batu mengimbau kepada para pedagang dan masyarakat untuk mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai.

“Yang pertama senantiasa kita harus menggaungkan pengurangan sampah, penggunaan produk sekali pakai. Senantiasa gunakan produk-produk yang ramah lingkungan. Kurangi kemasan-kemasan sekali pakai yang tidak ramah lingkungan, berupa plastik atau apapun,” pesan Dian.

Bagi para pedagang pasar takjil, Dian meminta adanya penyediaan fasilitas kebersihan yang memadai di lokasi berjualan.

“Untuk para penjual, mohon disediakan juga untuk tempat sampah yang terpilah. Dan juga mari kita sama-sama mengurangi penggunaan kemasan-kemasan sekali pakai pada momen-momen tertentu,” katanya.

Sementara bagi masyarakat yang berbelanja, DLH mendorong kebiasaan membawa wadah sendiri guna mengurangi timbulan sampah plastik.

“Harapannya masyarakat ketika berbelanja pada momen-momen Ramadan seperti ini, bisa membawa tempat atau kotak makanan atau botol minumannya sendiri untuk hadir di tempat-tempat yang memang menjadi aktivitas selama Ramadan,” pungkas Dian. ig/nn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *