PROBOLINGGO, BERITAKATA.id — Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) seolah tak pernah benar-benar lepas dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dari tahun ke tahun, si jago merah terus berulang menghanguskan salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Timur ini.
Pada 2026, rentetan kebakaran kembali melanda kawasan Bromo yang masuk wilayah Kabupaten Probolinggo—mulai dari lereng kaki Bromo, area bawah Jembatan Kaca, hingga Bukit Teletubbies.
Dampaknya terasa nyata. Setiap kali api membakar vegetasi, akses ke kawasan Bromo terpaksa ditutup total demi keselamatan dan proses pemadaman. Pemerintah daerah, pemerintah provinsi, hingga kementerian terkait harus turun tangan mengepung titik api yang terus membesar.
Situasi Terkini: Api Padam, Patroli Tetap Ditingkatkan
Sejak pekan lalu, tepatnya Senin (14/9/2026), api di kawasan Bromo yang masuk wilayah Kabupaten Probolinggo dipastikan padam total. Meski area lautan pasir masih ditutup untuk umum, beberapa destinasi penyangga seperti Bromo Sky Bridge atau Jembatan Kaca tetap dapat diakses wisatawan.
Kepala Satuan Pengamanan Objek Vital AKP Merdhania Pravita Shanty membenarkan situasi yang mulai terkendali tersebut. Namun, pihak kepolisian menegaskan tidak akan mengendurkan pengawasan.
“Sudah pekan lalu padam total setelah beberapa kali terjadi kebakaran. Kami tidak lengah dan tetap melakukan patroli setiap hari untuk memantau titik api baru, mengingat saat ini masih musim kemarau dan angin kencang,” ujar Pravita, Sabtu (19/9/2026).
Hal senada disampaikan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarif. Setelah berminggu-minggu berjibaku memadamkan api bersama TNI dan Polri, puluhan personel BPBD kini mulai ditarik dari lapangan untuk masa pemulihan (recovery).
“Puluhan tim sudah kami tarik dari kawasan Bromo karena api sudah padam. Meski begitu, kami terus memonitor situasi secara berkala,” kata Oemar.
Asa Pelaku Usaha dan Cerita Wisatawan
Patahnya rantai kunjungan wisata akibat penutupan kawasan TNBTS memukul para pelaku usaha lokal. Senior Manager Bromo Sky Bridge, Bambang Heriwahjudi, berharap bencana tahunan ini segera berakhir agar roda ekonomi warga kembali berputar.
“Kami dari manajemen Bromo Sky Bridge berharap bencana karhutla ini segera usai agar sektor wisata kembali bergairah. Akses dan fasilitas jembatan kaca juga terus kami lengkapi,” tutur Wahjudi.
Ia menuturkan sempat khawatir ketika kobaran api menjalar hingga dekat kawasan hotel Bromo Hillside di wilayah Malang. Pihaknya pun menyiapkan langkah antisipasi dan skenario evakuasi jika api merembet ke area jembatan kaca.
Di sisi lain, keindahan Bromo tetap berdaya pikat walau akses utama ditutup. Andi S. Agem, seorang wisatawan domestik yang memboyong keluarganya berlibur, mengaku tetap menikmati suasana di area lereng gunung.
“Saya minggu lalu berwisata ke Bromo bersama keluarga, situasi aman. Keindahan Bromo tidak hanya ada di lautan pasir dan puncak gunungnya; pemandangan di lerengnya juga bagus, udaranya sejuk dan segar,” cerita Andi.
Dua Kebakaran Besar dalam Satu Musim
Berdasarkan catatan redaksi, kawasan Bromo di wilayah Probolinggo dihantam dua kali kebakaran berskala besar pada musim kemarau 2026:
Kebakaran Pertama di Blok Bantengan
3 – 14 Agustus 2026
Titik api pertama muncul di Blok Bantengan, Kecamatan Sukapura, Probolinggo, lalu merembet ke tiga wilayah penyangga: Lumajang, Malang, dan Pasuruan. Ratusan hektare vegetasi hangus. Setelah belasan hari penanganan intensif—termasuk mengerahkan helikopter water bombing serta pantauan langsung Menteri Kehutanan dan Gubernur Jatim—api akhirnya padam total pada 14 Agustus. Wisata Bromo sempat dibuka kembali pada 20 Agustus.
Kebakaran Kedua di Bukit Pengol
10 September 2026
Hanya tiga pekan berselang, titik api baru berembus di Bukit Pengol, Desa Ngadisari, Sukapura. Hembusan angin kencang menerbangkan kobaran api hingga menyeberang ke kawasan Bukit Teletubbies dan Jempang di Kabupaten Malang.
Human Error dan Dampak Multisektor
Siklus karhutla di Bromo bukanlah fenomena baru. Rekam jejak kebakaran tercatat pernah melanda kawasan ini pada 2014, 2018, 2019, 2023, hingga 2026.
Kementerian Kehutanan mengidentifikasi bahwa pemicu utama kebakaran berulang ini didominasi oleh faktor kelalaian manusia (human error). Aktivitas sederhana seperti menyisakan bekas api unggun yang belum padam sempurna sering kali menjadi petaka. Begitu tertiup angin kencang di tengah cuaca kemarau yang kering, percikan kecil cepat membesar menjadi kobaran liar.
Tragedi karhutla Bromo membawa dampak berantai (domino effect) yang merugikan pelbagai pihak:
Sektor Dampak Kebakaran
Lingkungan Kerusakan ekosistem parah, hilangnya keanekaragaman hayati, dan matinya ratusan hektare vegetasi endemik.
Perekonomian Kelumpuhan aktivitas wisata yang menekan pendapatan penyedia jasa penginapan, restoran, hingga pengemudi jip.
Pertanian Abu dan debu sisa kebakaran mencemari lahan pertanian warga sekitar, mengancam hasil panen komoditas lokal.
Kini, meski titik api telah sirna dan langit Bromo kembali bersih dari asap, tantangan terbesarnya tetap sama: bagaimana mencegah kelalaian manusia agar tidak kembali membakar surga alam ini di masa mendatang. ig/fa












