PAMEKASAN, BERITAKATA.id – Persoalan yang dihadapi Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Madura (Persam) akhirnya mendapat perhatian serius dari Anggota DPR RI, Hj. Ansari. Dalam pertemuan bersama perwakilan komunitas, Ansari menegaskan pentingnya langkah konkret agar Persam tidak terus berada dalam kondisi tanpa arah dan kepastian, Selasa (21/3/2026).
Sejumlah persoalan mendasar menjadi sorotan. Mulai dari belum adanya legalitas resmi, ketiadaan basecamp, hingga kondisi anggota yang selama ini masih “jalanan” ketika hendak beraktivitas atau mengikuti kegiatan pertandingan.
Menanggapi hal tersebut, Hj. Ansari meminta agar proses pembentukan legalitas tidak lagi menjadi kekhawatiran semata dan bisa segera diupayakan bersama, dimulai dari lingkup Pamekasan sebagai pijakan awal.
“Silahkan lanjut diproses legalnya, misal harus ikut cantolannya ke pusat gapapa dicantolkan. Jadi legalitas basecamp-nya di Pamekasan, jangan dibawa ruwet. Kalau memang untuk forum se-Madura agak susah, kita bisa dibentuk yang Pamekasan dulu. Tapi boleh diisi teman-teman kabupaten yang lain. Yang terpenting ada wadah dulu,” paparnya.
Menurutnya, pendekatan realistis menjadi kunci agar komunitas seperti Persam bisa segera bergerak tanpa harus menunggu proses besar yang berlarut-larut. Ia menekankan bahwa kehadiran wadah di tingkat lokal jauh lebih penting sebagai langkah awal.
“Jadi saran saya kita fokus hal-hal yang bisa kita atasi dulu. Kita atur yang Pamekasan saja, tapi bebas diisi se-Madura. Yang terpenting di Pamekasan sekarang ada kegiatan mengakomodir pemain disabilitas,” lanjutnya.
Tak hanya soal legalitas, Ansari juga membuka peluang dukungan lebih luas, termasuk rencana menghadirkan event khusus bagi atlet disabilitas melalui program kepartaian.
“Harapannya ini bisa lebih dipikirkan. Kebetulan dipartai juga ada program terkait bola, Soekarno Cup. Barangkali juga nanti saya bisa mengupayakan event bola ini khusus untuk teman-teman disabilitas,” tambahnya.
Di sisi lain, perwakilan Persam, Abdul Munif, mengungkapkan kondisi riil yang selama ini mereka alami. Ia menyebut komunitasnya masih berada dalam posisi serba terbatas dan belum mendapatkan perhatian yang memadai dari pihak terkait.
“Saya mewakili teman-teman Persam ingin menjelaskan kondisi di bawah yang masih kebingungan arah. Karena sampai saat ini Persam belum ada legalitas atau badan hukum yang resmi. Kemudian kami sangat berharap pada akhirnya suara kami didengar dan Ibu Ansari selaku DPR RI bisa menyentuh langsung persoalan kami,” jelasnya.
Ia juga menuturkan bahwa berbagai upaya telah dilakukan, termasuk berkomunikasi dengan instansi pemerintah. Namun hingga kini belum membuahkan hasil signifikan.
“Sebelum-sebelumnya kami sudah coba menghubungi dinas-dinas terkait namun belum ada yang melirik keadaan kami. Semoga setelah bertemunya ibu dewan, Persam ke depannya tidak luntang-lantung di jalanan lagi ketika ada kegiatan,” paparnya.
Pertemuan ini menjadi titik awal harapan baru bagi Persam. Dengan dorongan langsung dari DPR RI, persoalan legalitas, basecamp, hingga keberlanjutan kegiatan diharapkan segera menemukan solusi, sekaligus membuka ruang yang lebih layak bagi para atlet disabilitas di Pamekasan. ig/an












