Cegah Perjokian UTBK-SNBT 2026, UM Matikan CCTV Ruangan dan Siapkan Pakaian Kemeja Putih

Beberapa peserta UTBK-SNBT 2026 di Universitas Negeri Malang (UM) hendak masuk ke ruangan ujian pada Selasa (21/4/2026).

MALANG, BERITAKATA.id – Universitas Negeri Malang (UM) memperketat pengawasan dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer – Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 yang mulai bergulir pada Selasa (21/4/2026). Sebanyak 19.640 peserta dijadwalkan mengikuti tes di kampus tersebut dengan prosedur keamanan tinggi, mulai dari penggunaan pendeteksi logam hingga pemadaman kamera pengawas atau CCTV di dalam ruang ujian.

Rektor UM, Prof. Hariyono, menegaskan bahwa kebijakan pemadaman CCTV dilakukan karena khawatir perangkat tersebut justru dimanfaatkan untuk merekam layar komputer berisi soal ujian. Selain itu, seluruh barang bawaan peserta wajib dilarang dibawa masuk atau ditinggalkan di luar ruangan.

“Sebelum masuk, peserta juga menjalani pengecekan metal detektor untuk mendeteksi alat-alat canggih yang berpotensi disembunyikan di telinga atau di dalam baju. Kami berkomitmen melaksanakan UTBK-SNBT sebaik mungkin. Jika ada yang terindikasi sebagai joki, akan masuk ranah kriminal,” ujar Hariyono pada Selasa (21/4/2026).

Hariyono menambahkan, lokasi tes bagi 19.640 peserta tersebut sepenuhnya ditentukan oleh panitia pusat. Peserta hanya bisa memilih daerah pelaksanaan dan tidak bisa menentukan lokasi kampus secara spesifik untuk meminimalisasi praktik perjokian. Pelaksanaan ujian dibagi dalam dua sesi per hari yang menampung rata-rata 2.600 peserta. UM sendiri telah menyiapkan sekitar 1.300 unit komputer.

Wakil Rektor I UM, Prof. H. Ibrahim Bafadal, menjelaskan bahwa ujian akan berlangsung hingga 28 April 2026 di 67 ruang yang tersebar di seluruh fakultas dan gedung pascasarjana. Total perangkat yang beroperasi mencapai 1.304 komputer.

Pada hari pertama ujian, para peserta rata-rata tiba di kampus sejak pukul 06.00 WIB untuk menghindari kemacetan, dan hingga kini belum ada laporan pelanggaran dari pengawas. Selama UTBK-SNBT berlangsung, aktivitas perkuliahan mahasiswa reguler UM dialihkan secara daring dari rumah.

“Hal ini untuk menghindari keramaian di pintu masuk dan keluar UM, serta merespons imbauan pemerintah terkait efisiensi,” kata Ibrahim.

Ibrahim memastikan keamanan soal dari kebocoran karena setiap kelas dijaga oleh dua orang, yakni satu pengawas dan satu teknisi. Pengawasan ketat juga menyasar anomali pendaftaran peserta yang patut diduga. Ia mencontohkan, pola mencurigakan terjadi apabila ada peserta asal Malang yang memilih PTN di Yogyakarta, namun mendaftar lokasi tes di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Terkait personel, Kasubdit Seleksi SPMB UM, Dr. Rizky Firmansyah, memaparkan bahwa pihaknya mengerahkan 1.009 petugas untuk 67 ruangan. Seluruh pengawas telah menandatangani pakta integritas dan dilarang memiliki riwayat keterlibatan dengan bimbingan belajar.

Rizky mencatat, kasus kecurangan terakhir di UM ditemukan pada tahun 2022 dengan modus peserta membawa kamera di kancing kemeja. Sebagai mitigasi lanjutan sejak 2025, UM juga mewajibkan peserta yang memakai kawat gigi (behel) untuk mengenakan masker. Hal ini untuk mencegah pemasangan alat perekam mikro pada area mulut.

Di samping pengetatan aturan, UM tetap memfasilitasi kebutuhan peserta penyandang disabilitas. Tahun ini terdapat 11 peserta disabilitas, meningkat dari 9 orang pada tahun lalu. Rizky merinci peserta tersebut terdiri dari tiga orang tunarungu dan sisanya tunadaksa. Seluruhnya ditempatkan di ruangan lantai satu yang mudah dijangkau.

Direktur Pendidikan UM, Prof. Evi Eliyanah, menambahkan langkah antisipasi tambahan terkait pakaian peserta. Pihaknya menyiapkan satu hingga dua lusin kemeja putih di lokasi tes yang bisa digunakan sewaktu-waktu.

“Kemeja ini kami siapkan sebagai protektor apabila ada peserta yang memakai kaus (t-shirt) atau pakaian yang kami curigai. Tahun kemarin kebijakan ini juga sudah kami terapkan,” tegas Evi.

Evi juga memastikan ketersediaan kursi roda bagi peserta tunadaksa. Sementara itu, untuk pendampingan teknis, UM menugaskan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Gempita yang biasa mendampingi mahasiswa berkebutuhan khusus, untuk membantu membacakan soal atau mendampingi peserta disabilitas selama di lokasi tes.

Secara keseluruhan, peminat UTBK-SNBT 2026 yang menjadikan UM sebagai salah satu perguruan tinggi pilihan mencapai 45.539 peserta, meningkat sekitar 1.000 orang dibandingkan tahun 2025. Dari jumlah tersebut, 15.694 peserta menempatkan UM pada pilihan pertama, 20.216 pada pilihan kedua, 8.653 pada pilihan ketiga, dan 1.376 peminat di pilihan keempat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *