Wisata  

Kades Ngadisari Berjibaku Cegah Motor Matic Naik ke Bromo

Para wisatawan yang naik motor matic ke Bromo diberikan edukasi.

PROBOLINGGO, BERITAKATA.id — Pemerintah Desa Ngadisari di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, menghadapi tantangan dalam mencegah wisatawan menggunakan sepeda motor matic menuju kawasan wisata Gunung Bromo.

Upaya ini dilakukan sebagai respon terhadap tingginya angka kecelakaan, termasuk insiden rem blong yang sering menimbulkan risiko fatal di jalur curam dan panjang menuju Bromo.

Kepala Desa Ngadisari, Sunaryono, menyatakan bahwa meskipun pihaknya telah melakukan berbagai imbauan dan edukasi kepada wisatawan, langkah tersebut belum cukup efektif tanpa adanya regulasi resmi dan dukungan dari pemerintah yang lebih tinggi.

Ia mengungkapkan bahwa pihak desa merasa kewalahan dalam melakukan pengawasan secara mandiri.

“Pemdes sudah maksimal mengimbau agar wisatawan tidak naik motor matic ke Bromo, tetapi tanpa regulasi yang jelas dan petugas dari pemerintah, kami merasa kewalahan,” ujarnya kepada Beritakata, Senin (9/6/2025).

Selain itu, Sunaryono menyoroti sejumlah kecelakaan fatal yang disebabkan rem blong sepeda motor matic di jalur ekstrem menuju Bromo, yang merugikan wisatawan dan merusak citra destinasi wisata internasional tersebut.

Sebagai langkah pencegahan, desa mendirikan pos penyekatan di sekitar Pendopo Ngadisari, di mana wisatawan dari arah Probolinggo dihentikan dan diberikan edukasi tentang bahaya penggunaan motor matic di jalur yang menantang.

Pihak desa juga menyediakan alternatif transportasi yang lebih aman, seperti jip dan sepeda manual, dengan tarif berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu, tergantung jarak dan destinasi yang dituju.

“Kami tidak memikirkan keuntungan, tetapi keselamatan dan keberlanjutan wisata Bromo. Jika ada solusi yang lebih baik, kami terbuka,” tambah Sunaryono.

Namun, tantangan tetap muncul terutama dari wisatawan yang datang dari Malang dan Pasuruan melalui jalur Probolinggo, yang seringkali luput dari pengawasan. Upaya teguran secara persuasif terus dilakukan warga dan petugas.

Sunaryono menegaskan bahwa usulan pelarangan penggunaan motor matic ke Bromo sebaiknya didukung oleh kebijakan resmi dari pemerintah daerah agar dapat diberlakukan secara tegas. Ia menegaskan bahwa saat ini, desa hanya mengandalkan imbauan dan edukasi tanpa regulasi yang mengikat.

“Peran pemerintah pusat dan daerah sangat penting agar langkah ini bisa berjalan efektif dan perlindungan terhadap wisatawan dapat maksimal,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Probolinggo juga mengeluarkan imbauan resmi agar wisatawan tidak menggunakan sepeda motor matic menuju kawasan Gunung Bromo. Imbauan ini dikeluarkan menyusul meningkatnya angka kecelakaan yang melibatkan motor matic di jalur wisata, bahkan menyebabkan korban meninggal dunia. Sebuah banner sosialiasi bertuliskan “Jangan Sampai Liburan Berujung Petaka, Hindari Penggunaan Motor Matic di TNBTS” dipasang di area wisata sebagai bagian dari upaya edukasi.

Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran wisatawan dan mengurangi risiko kecelakaan di salah satu destinasi wisata terpopuler di Indonesia tersebut. ig/fa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *