MALANG, BERITAKATA.id – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Gunung Bromo masih terus berlangsung sejak pertama kali muncul pada Senin (3/8/2026) lalu. Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, Gatot Soebroto, melaporkan bahwa hingga Rabu (12/8/2026), luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan telah mencapai 921,42 hektare.
Berdasarkan hasil laporan terkini, Gatot menjelaskan bahwa tim gabungan dari darat maupun udara terus berupaya melakukan pemadaman.
“Pada pukul 18.00 WIB, titik api masih terpantau berada di kawasan Pakis Bincil dan kawasan Bukit Cinta yang mengarah ke Sruni Point, wilayah Dingklik,” ujar Gatot Soebroto, Rabu (12/8/2026).
Gatot menegaskan, tim gabungan jalur darat saat ini memprioritaskan upaya pemadaman dan pembasahan di area Pusung Duwur, wilayah Dingklik, serta Bukit Cinta mengarah ke Sruni Point. Pemadaman darat dilakukan menggunakan metode gepyok (pemukul api manual) dan unit mobil tangki pada area yang masih bisa dijangkau.
Selain jalur darat, operasi pemadaman jalur udara (water bombing) dikerahkan menggunakan tiga unit helikopter, yakni helikopter PK-DAN dan PK-DBM milik BNPB, serta helikopter PK-DAP dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Gatot memaparkan, total operasi water bombing pada 12 Agustus 2026 telah mencapai 29 rit penerbangan. Rinciannya, Helikopter PK-DAP melepaskan 8.000 liter air, PK-DBM melepaskan 6.000 liter air, dan PK-DAN dengan kapasitas terbesar melepaskan 60.000 liter air.
“Total keseluruhan air yang telah dijatuhkan untuk pemadaman mencapai 74.000 liter. Namun, operasi ketiga helikopter ini terpaksa dihentikan lebih awal pada rentang pukul 12.19 hingga 12.50 WIB karena jarak pandang (visibility) yang memburuk akibat cuaca berkabut dan kepulan asap tebal,” jelas Gatot.
Dalam proses penanganan darurat ini, Gatot merinci tiga kendala utama yang dihadapi oleh tim gabungan. Pertama, medan yang terjal menyulitkan tim pemadam manual untuk menjangkau titik api, ditambah angin kencang yang membuat api meluas dengan cepat.
“Kedua, cuaca yang kurang mendukung dengan adanya kabut dan kepulan asap tebal sangat mempengaruhi jarak pandang helikopter saat water bombing. Ketiga, jalur berpasir yang cukup tebal di bagian bawah area Dingklik sangat memperlambat mobilisasi kendaraan taktis tim kami,” tambahnya.
Meski kebakaran meluas secara cepat dan menghanguskan berbagai jenis vegetasi seperti cemara gunung, mentigen, akasia, dan semak belukar, Gatot memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
Sebagai langkah antisipasi keselamatan, pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) juga telah menutup sementara seluruh pintu masuk wisata Gunung Bromo sejak Sabtu (8/8/2026) malam hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Gatot juga menyampaikan hasil evaluasi bersama Lanud Abdulrachman Saleh dan BMKG terkait rencana pemadaman udara pada esok hari. Fasilitas penerbangan di Lanud dipastikan aman, meski ada jadwal 4 penerbangan komersil.
“Berdasarkan pantauan cuaca, besok pagi diprediksi ada potensi kabut dan penguapan udara pada pukul 05.00–07.00 WIB yang dapat mempengaruhi jarak pandang. Selain itu, ada potensi peningkatan kecepatan angin (gusting) pada ketinggian 1.000 hingga 4.000 kaki,” ungkapnya.
Gatot juga menginstruksikan agar tim darat menyiapkan target dan titik koordinat sasaran water bombing secara matang sebagai acuan pasti bagi pilot helikopter saat mengudara esok pagi.
Operasi pemadaman ini melibatkan kerja sama lintas instansi dalam skala besar. Selain BNPB, BPBD Jatim, dan TNBTS, penanganan Karhutla Bromo ini turut melibatkan Dishut Jatim, BMKG Juanda, jajaran BPBD dan Damkar dari Kabupaten Probolinggo, Malang, Lumajang, Pasuruan, Kota Pasuruan, Mojokerto, Jombang, hingga Nganjuk. TNI, Polisi Kehutanan (Polhut), Relawan Peduli Api, serta masyarakat setempat juga masih terus bersiaga dan membantu jalannya operasi pemadaman di lokasi.












