Wisata  

Libur Lebaran 2026, Okupansi Hotel di Kota Batu 70 Persen

Salah satu kamar hotel di Kota Batu.

BATU, BERITAKATA.id – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu mencatat tingkat keterisian kamar (okupansi) hotel selama masa libur Lebaran 2026 mencapai rata-rata 70 persen. Pencapaian ini relatif stagnan atau sama dengan periode libur Lebaran pada tahun sebelumnya, seiring dengan adanya pergeseran tren dan pelemahan daya beli wisatawan.

Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi, mengatakan bahwa puncak lonjakan tamu hotel (peak season) terjadi pada 20-21 Maret. Ia berharap sisa masa libur dapat mempertahankan tingkat hunian setidaknya di angka 50 persen hingga akhir pekan.

“Kalau secara keseluruhan, di libur Lebaran ini hampir sama saja dengan tahun lalu, sekitar 70 persenan. Lonjakannya itu baru kencang pada tanggal 20 dan 21. Ya, semoga bertahan paling tidak 50 persen hari ini sampai Sabtu malam Minggu nanti naik lagi, agar masanya lebih panjang,” ujar Sujud saat dikonfirmasi pada Rabu (25/3/2026).

Sujud menjelaskan bahwa angka 70 persen tersebut merupakan nilai rata-rata keseluruhan. Secara rinci, tingkat hunian di masing-masing hotel sangat bervariasi.

“Ada satu atau dua hotel yang okupansinya mencapai 90 persen. Tapi rata-rata semua ada yang 90 persen, ada yang 50 persen, akhirnya nilai rata-ratanya keluar di angka 70,” imbuhnya.

Evaluasi PHRI Kota Batu menunjukkan adanya pergeseran perilaku wisatawan pada Lebaran tahun 2026 ini. Kunjungan ke taman-taman rekreasi serta pembelian paket wisata terpantau mengalami pertumbuhan dibandingkan tahun lalu. Namun, hal tersebut tidak berbanding lurus dengan tingkat menginap di hotel yang cenderung stagnan.

Sujud menduga wisatawan kini mencari alternatif penginapan yang lebih terjangkau, seperti vila, akibat pelemahan daya beli. Hal ini diperparah oleh kebijakan efisiensi belanja pemerintah yang berdampak pada perputaran ekonomi di masyarakat.

“Ini sepertinya ada pergeseran. Daya beli masyarakat melemah, sehingga mereka mencari alternatif yang lebih murah. Setelah belanja pemerintah dibatasi untuk efisiensi, dampaknya daya beli turun. Orang jalan-jalan tetap, tapi untuk menginap di hotel mereka berpikir dua kali. Bergeser beralih ke vila-vila kemungkinan,” papar Sujud.

Kondisi tersebut juga membuat pihak pengelola hotel tidak berani menaikkan harga sewa kamar (room rate) secara signifikan seperti tahun-tahun sebelumnya. Harga kamar dipatok normal untuk menjaga tingkat kunjungan.

Menghadapi dinamika tersebut, pengelola hotel di Kota Batu terus memutar otak mencari strategi baru. Jika pada bulan Ramadan hotel berfokus pada penjualan paket berbuka puasa atau iftar, kini pada bulan Syawal fokus dialihkan pada penyediaan paket silaturahmi.

“Sekarang di bulan Syawal ini, kita sudah mulai mengembangkan paket halalbihalal. Sudah mulai banyak hotel yang menyediakan paket tersebut. Kita buat berbagai macam strategi pemasaran,” ungkap Sujud.

Selain itu, seiring dengan berkurangnya kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) dari instansi pemerintahan, pihak hotel kini memperluas sasarannya ke segmen korporasi atau Business to Business (B2B).

Terkait sistem pemesanan, aplikasi Online Travel Agent (OTA) menyumbang sekitar 10 hingga 20 persen dari total pasar okupansi hotel di Kota Batu. Sujud menyebutkan bahwa OTA saat ini menjadi indikator atau patokan utama untuk memprediksi tingkat hunian, terutama pada hari kerja (weekday).

Kendati demikian, dominasi pemesanan tamu rombongan saat ini masih dikendalikan oleh agen perjalanan (travel agent) konvensional.

“Yang paling kuat sekarang masih travel agent. Itu memegang porsi paling banyak karena orang sekalian mencari paket tiket rekreasi. Untuk kegiatan grup dari pemerintah porsinya semakin kecil, jadi orang sekarang mengejarnya ke travel agent. Sedangkan OTA itu menyumbang sekitar 10 sampai 20 persen dari total pasar,” jelasnya.

Menjelang akhir masa libur Lebaran yang bertepatan dengan libur sekolah pekan ini, Sujud memproyeksikan okupansi harian akan terkoreksi di kisaran 40 hingga 50 persen. Hal ini dipengaruhi oleh perubahan demografi wisatawan yang kini didominasi warga dari wilayah terdekat.

“Tamu dari Jakarta, Semarang, dan Jogja sudah semakin menipis. Sekarang lebih banyak wisatawan dari Surabaya dan sekitarnya. Karena jaraknya dekat, imbasnya sebagian besar dari mereka tidak menginap. Jadi hotel agak turun lagi ke kisaran 50 persen. Tapi nanti pada malam Minggu Insyaallah naik lagi ke 70-80 persen,” tuturnya.

Setelah momentum Lebaran usai, PHRI Kota Batu bersiap untuk mengejar target tingkat hunian pada masa libur panjang sekolah yang dimulai pada pertengahan tahun.

“Kita akan kejar lagi nanti di libur sekolah. Pertengahan Mei sudah mulai libur panjang sampai Juni dan Juli, itu sudah bisa kita kejar lagi. Nanti biasanya akan slow down (melambat) lagi di bulan Agustus,” tutup Sujud.

¾

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *