BATU, BERITAKATA.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Batu di bawah kepemimpinan Wali Kota Nurochman dan Wakil Wali Kota Heli Suyanto dengan visi Mbatu Sae mencatatkan berbagai capaian positif di bidang lingkungan hidup sepanjang tahun 2025. Berbagai program strategis mulai dari pengawasan ketat, pelibatan masyarakat, hingga restorasi alam telah direalisasikan secara terukur.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Dian Fachroni, pada Selasa (24/2/2026), memaparkan sejumlah keberhasilan yang terangkum dalam Kaleidoskop DLH 2025. Salah satu fokus utama Pemkot Batu adalah peningkatan pengawasan ketaatan pelaku usaha terhadap kelestarian alam.
“Pada tahun 2025, target pengawasan kami sebanyak 110 pelaku usaha, dan realisasinya berhasil melampaui target yakni mencapai 131 pelaku usaha atau sebesar 119,09 persen,” kata Dian Fachroni pada Selasa (24/2/2026).
Angka ini melanjutkan tren positif dari tahun 2024 yang merealisasikan pengawasan terhadap 140 pelaku usaha dari target 130 usaha atau tercapai 107,69 persen.
Kesadaran Masyarakat Meningkat dan Penurunan Kasus Pengaduan
Seiring dengan ketatnya pengawasan yang melibatkan 4 orang Fungsional Pengawas Lingkungan Hidup, tingkat pengaduan dari masyarakat terkait masalah lingkungan justru mengalami tren penurunan. Pada tahun 2024, DLH menangani 16 kasus pengaduan, sedangkan pada tahun 2025 turun menjadi 13 kasus.
“Memperhatikan menurunnya kasus pengaduan yang ditangani, ini menjadi salah satu indikator nyata meningkatnya kesadaran masyarakat Kota Batu terhadap Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH),” ujar Dian.
Terkait pelayanan perizinan dasar bagi dunia usaha, DLH secara konsisten menerbitkan Rekomendasi Persetujuan Lingkungan untuk usaha skala menengah dan tinggi. Sepanjang tahun 2025, DLH telah menerbitkan 5 rekomendasi sesuai dengan target yang ditetapkan, berdasarkan permohonan yang diajukan oleh pelaku usaha.
Dalam hal apresiasi lingkungan, Pemkot Batu secara rutin menggelar Anugerah Lingkungan Hidup sebagai wujud penghargaan kepada individu, kelompok, hingga sekolah yang berjasa melestarikan lingkungan.
“Untuk penghargaan Desa/Kelurahan Berseri dari DLH Provinsi Jawa Timur, pada tahun 2025 Kota Batu meloloskan Desa Tulungrejo di kategori Mandiri dan Kelurahan Dadaprejo di kategori Pratama,” kata Dian.
Di sektor pendidikan agama, terdapat 1 pondok pesantren yang meraih penghargaan Eco Pesantren pada 2025, yaitu Pesantren Islam Al Irsyad Tengaran 7 Mojorejo di Kecamatan Junrejo, sebuah kemajuan mengingat pada tahun 2024 Kota Batu absen dari penghargaan ini.
Sementara untuk program Adiwiyata, sebanyak 13 sekolah menerima penghargaan pada 2025, yang meliputi 2 sekolah tingkat Mandiri, 3 Nasional, 1 Provinsi, dan 7 tingkat Kota.
Sebagai inovasi unggulan di tahun 2025, DLH Kota Batu juga menggagas gerakan lingkungan komprehensif bernama Greenation dengan tema Think Green, Think Clean.
“Gerakan Greenation ini melibatkan ribuan warga, komunitas, dan pelajar guna meningkatkan kesadaran lingkungan sejak dini melalui aksi bersih sampah dan penanaman pohon,” jelas Dian.
Rangkaian kegiatan ini mencakup Greenation Goes to School, Greenation Camp untuk kader lingkungan, serta pertunjukan Batu Greenation Symphony Art and Eco (SAE) yang memamerkan produk daur ulang dari komunitas dan sekolah.
Pengelolaan Hutan, Restorasi Alam, dan Indeks Kualitas Lingkungan
Di kalangan pemuda, Kota Batu aktif membina kecintaan lingkungan melalui wadah kepramukaan Saka Kalpataru bagi anggota Penegak dan Pandega usia 16-25 tahun. Tercatat, Kota Batu merupakan salah satu dari 8 wilayah di Jawa Timur yang aktif melaksanakan kegiatan Saka Kalpataru.
“Capaian satu tahun Mbatu Sae di bidang lingkungan hidup, semua karena kepemimpinan adaptif-progresif dengan tetap menggunakan data-driven policy,” kata Dian Fachroni.
Terkait dengan kebutuhan lahan masyarakat, Pemkot Batu juga telah mendapatkan mandat Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan seluas kurang dari 5 Ha dari Gubernur Jawa Timur.
“Persetujuan ini diperuntukkan bagi pembangunan non-fasilitas umum yang bersifat non-komersial, yakni perluasan Tempat Pemakaman seluas kurang lebih 1,4 hektare di Desa Sumberejo,” papar Dian.
Untuk mengukur keberhasilan seluruh upaya tersebut, DLH Kota Batu rutin melakukan pengujian baku mutu melalui laboratorium terakreditasi KAN. Pemantauan ketat dilakukan di 20 titik lokasi untuk kualitas air sungai, 8 titik lokasi untuk kualitas udara selama 24 jam , serta pemantauan kualitas air limbah di Balai Kota Among Tani dan TPA Tlekung.
Berdasarkan pengujian tersebut, Capaian Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) pada tahun 2025 tercatat pada angka 72,90.
“Realisasi Indeks Kualitas Air (IKA) berada di angka 71,6, Indeks Kualitas Udara (IKU) 73,10, dan Indeks Kualitas Tutupan Lahan (IKTL) sebesar 74,75,” kata Dian merinci komponen pembentuknya.
Sebagai langkah konkret pemulihan alam, kegiatan restorasi dan rehabilitasi ekosistem terus dilakukan. DLH memberikan bantuan bibit tanaman yang meliputi pete, mahoni, nangka, alpukat, beringin, dan kecrutan kepada masyarakat dan instansi.
“Kami juga membangun dam penahan untuk kelompok tani Sumber Makmur di Desa Junrejo sebagai wujud pelaksanaan rehabilitasi fungsi dan struktur lingkungan sekitar,” pungkas Dian Fachroni. ig/nn












