PSIB UMM Gandeng Wali Kota Batu Bahas Strategi Indonesia Emas 2045

Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan diskusi refleksi awal tahun bertajuk Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045 pada Senin (12/1/2025).

MALANG, BERITAKATA.id – Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan diskusi refleksi awal tahun bertajuk Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045 pada Senin (12/1/2025). Bertempat di RBC Institute Abdul Malik Fadjar, agenda ini fokus membedah langkah strategis pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) dan ekonomi nasional.

Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., menyatakan bahwa peran akademisi sangat krusial dalam memberikan rekomendasi berbasis riset bagi kebijakan publik. Berbeda dengan evaluasi akhir tahun pada umumnya, PSIB sengaja menggelar refleksi di awal tahun untuk memetakan perbaikan secara dini.

“Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tetapi suatu visi yang memerlukan keterlibatan semua pihak, terutama dalam membangun SDM unggul,” ujar Gonda.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi wadah bagi PSIB untuk menawarkan inovasi yang dapat diimplementasikan sepanjang tahun berjalan guna mendukung terciptanya generasi emas.

Wali Kota Batu, Nurochman, S.H., M.H., yang hadir sebagai pembicara kunci, menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam menyelaraskan potensi lokal dengan visi nasional. Ia memperkenalkan program unggulan bernama SAE Ning Mbatu.

“Kami memiliki beberapa program yang dikenal dengan SAE Ning Mbatu, yaitu program yang melihat keunggulan Kota Batu seperti pariwisata berkelanjutan, ekonomi kreatif, dan smart city,” jelas Nurochman.

Selain infrastruktur dan ekonomi, Pemkot Batu secara spesifik menargetkan penguatan sektor pendidikan. Nurochman memaparkan fakta realisasi beasiswa yang telah berjalan.

“Pemerintah Kota Batu fokus membangun SDM yang unggul. Pada tahun 2025, kami telah memberikan beasiswa kepada 273 mahasiswa melalui program 1.000 sarjana,” kata Nurochman.

Luthfi J. Kurniawan dalam paparannya mengingatkan bahwa tanpa manajemen yang tepat, bonus demografi justru dapat menjadi beban bagi bangsa. Ia menekankan perlunya reformasi struktural dan tata kelola pemerintahan yang bersih.

“Jika pendidikan dan kesehatan tidak diurus dengan baik, maka ini akan menjadi ancaman bagi pembangunan Indonesia Emas 2045,” tegas Luthfi.

Di sisi lain, pakar sosiologi politik UMM, Abdus Salam, menyoroti realitas kemiskinan struktural yang masih menghantui, mulai dari sektor agraria hingga isolasi daerah terpencil.

“Ada beberapa aspek kemiskinan struktural, seperti kemiskinan agraria di mana petani tidak lagi memiliki lahan, hingga kemiskinan regional akibat isolasi daerah tanpa akses memadai,” ungkap Abdus.

Muhammad Mirdasy, S.IP., menambahkan bahwa kajian Islam multidisipliner diperlukan sebagai landasan etis dalam merespon tantangan zaman yang semakin kompleks.

Menutup diskusi, moderator Diki Wahyudi, S.Sos., M.IP., menyimpulkan bahwa transformasi menuju 2045 mustahil dilakukan secara parsial. Keberhasilan target nasional ini bergantung pada kolaborasi lintas sektor.

“Kolaborasi adalah kunci. Tidak ada satu pihak yang bisa bekerja sendiri,” pungkas Diki. ig/nn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *