MALANG, BERITAKATA.id – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang memproyeksi adanya peningkatan volume sampah selama masa libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Kenaikan sampah tersebut diperkirakan mencapai 20 ton per hari dibandingkan hari-hari biasa.
Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Matondang, mengatakan bahwa prediksi ini didasarkan pada tren peningkatan sampah pada periode libur panjang tahun-tahun sebelumnya.
“Sesuai dengan tahun-tahun yang sebelumnya, jadi prediksi kenaikan sampah selama libur Nataru itu kurang lebih satu harinya 20 ton. Satu harinya tambah 20 ton,” ujar Raymond pada Sabtu (27/12/2025).
Peningkatan volume sampah ini dipicu oleh tingginya kunjungan wisatawan ke Kota Malang selama masa liburan. Selain itu, pola konsumsi masyarakat, seperti melalui pemesanan makanan secara daring yang memberikan kontribusi signifikan terhadap tumpukan sampah plastik.
Pihak DLH memastikan bahwa seluruh peningkatan volume ini akan terpantau secara akurat melalui laporan harian timbangan truk yang masuk ke TPA Supit Urang. Untuk mengantisipasi penumpukan, DLH Kota Malang meningkatkan intensitas pengangkutan atau ritasi kendaraan pengangkut sampah tanpa menambah jumlah personel maupun armada.
“Untuk antisipasi itu, secara personel dan kendaraan kita tidak berubah. Tetapi untuk teman-teman di lapangan, pengambilan sampahnya kita tambah ritasi pengambilannya,” jelas Raymond.
Data DLH menunjukkan, pada hari biasa jumlah truk sampah yang menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang berkisar antara 160 hingga 178 armada. Namun, pada masa Nataru, jumlah tersebut diprediksi melonjak hingga menyentuh angka 200 armada per hari.
Sebagai konsekuensinya, petugas kebersihan akan menambah jam kerja, termasuk tetap beroperasi pada hari Sabtu dan Minggu.
Raymond menjelaskan bahwa konsentrasi sampah tidak hanya berasal dari rumah tangga, tetapi juga sampah perapian atau penebangan pohon. Sedangkan untuk sampah organik seperti potongan pohon, DLH mengarahkannya langsung untuk proses pengomposan.
“Khusus untuk tanaman itu, kita langsung lakukan composting di Supit Urang,” katanya.
Mengenai lokasi sebaran sampah, wilayah di sekitar perguruan tinggi menjadi titik perhatian utama. Hal ini disebabkan banyaknya mahasiswa yang menerima kunjungan keluarga serta tingginya aktivitas pengiriman makanan di kawasan tersebut.
Secara administratif, kenaikan volume sampah paling merata terjadi di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Blimbing, Lowokwaru, dan sebagian Kecamatan Sukun.
Berbeda dengan tahun sebelumnya di mana Alun-alun menjadi pusat keramaian, tahun ini konsentrasi massa diprediksi bergeser ke kawasan Kayutangan Heritage karena Alun-alun sedang dalam tahap rehabilitasi.
Untuk mencegah penumpukan sampah di kawasan wisata tersebut, DLH melakukan penyesuaian jadwal pengambilan sampah. Jika biasanya pengangkutan dilakukan pada pukul 02.00 hingga 06.00 WIB, kini petugas juga diinstruksikan untuk melakukan pembersihan pada malam hari.
“Di Kayutangan, untuk pengaturan jadwal pengambilan sampah yang biasanya dilaksanakan jam 2 pagi sampai jam 6, nanti kami instruksikan ke teman-teman malam juga dilakukan untuk mengurangi volume sampah karena banyaknya pengunjung,” tegas Raymond. ig/nn












